Ambon-Dari atas bukit yang menghadap laut biru, berdiri SMAN Siwalima sebagai saksi lahirnya semangat baru pendidikan di Indonesia Timur. Sekolah berasrama ini menjadi bagian dari Sekolah Garuda Transformasi, program nasional yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk menumbuhkan generasi berkarakter kuat, kreatif, dan berdaya saing global.
Kehadiran Sekolah Garuda di Ambon memberi makna lebih dalam bagi guru dan siswa. Bukan hanya tentang prestasi akademik, tetapi juga tentang membangun harapan dan keyakinan bahwa anak-anak dari Maluku, bisa bersaing di panggung dunia.
Salah satu kisah inspiratif datang dari Rachel Natasha Irwan, siswi SMAN Siwalima yang pernah mengikuti program pertukaran pelajar Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (KL-YES) di Amerika Serikat.
Selama satu tahun di Texas, Rachel belajar banyak hal: kedisiplinan, kemandirian, dan kebanggaan membawa identitas Indonesia. Ia pernah berdiri di depan ratusan pelajar dan pejabat lokal saat International Education Week, memperkenalkan budaya Indonesia lewat tarian dan cerita tentang kehidupan di Ambon.
“Saya ingin menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia, termasuk dari timur, punya kemampuan dan semangat yang sama dengan mereka di luar negeri,” katanya.
Kini, setelah kembali ke Ambon, Rachel bertekad melanjutkan kontribusinya di bidang sains dan pendidikan. “Saya ingin adik-adik di sekolah ini percaya bahwa mimpi besar bisa dimulai dari mana saja,” ujarnya penuh keyakinan.
Guru yang Menyalakan Cahaya
Di balik semangat siswa, ada sosok guru yang sabar menuntun langkah mereka. Kelisa Matahalia, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN Siwalima, menjadi salah satunya.
“Transformasi Siwalima menjadi sekolah unggulan tidak terjadi dalam semalam,” ungkap Kelisa. “Kami mulai dari fasilitas terbatas, tapi anak-anak punya semangat luar biasa. Mereka haus belajar, ingin tahu, dan berani bermimpi,” tambahnya.
Bagi Kelisa, kehadiran Sekolah Garuda Transformasi membawa harapan baru, pendidikan yang berakar pada karakter dan berorientasi pada kolaborasi.
“Sekolah Garuda bukan hanya tentang akademik. Ini tentang membentuk manusia yang tangguh, berempati, dan siap menghadapi dunia dengan keilmuan dan moral yang seimbang,” jelasnya.
Sebagai sekolah berasrama, guru dan siswa hidup dalam satu komunitas yang erat. Mereka makan bersama, belajar bersama, dan tumbuh bersama dalam suasana kekeluargaan.
“Di sini, kami tidak hanya mendidik, tapi juga membersamai anak-anak menemukan jati dirinya,” pungkas Kelisa.
Sains, Karakter, dan Kolaborasi
Di laboratorium Siwalima, para siswa menampilkan hasil riset mereka, antara lain sabun antiseptik dari bahan alami, lilin aromaterapi ramah lingkungan, dan robot sederhana buatan sendiri. Proyek-proyek ini menjadi bukti bahwa sains bisa tumbuh di mana saja, selama ada ruang untuk berkreasi dan dukungan dari para pendidik.
“Kami tidak ingin anak-anak hanya tahu rumus, tapi juga paham bagaimana ilmunya bermanfaat. Itulah inti pendidikan di Sekolah Garuda,” kata Kelisa.
Semangat kolaboratif juga menjadi ciri khas. Para siswa saling mendukung dalam lomba riset, olimpiade, maupun kegiatan sosial. Mereka belajar bahwa keberhasilan bukan hasil kerja sendiri, tapi hasil gotong royong dan saling percaya.
Dari Timur, Harapan Tumbuh
Kehadiran Sekolah Garuda Transformasi di SMAN Siwalima Ambon menjadi simbol bahwa pendidikan unggul kini menjangkau seluruh pelosok negeri. Dengan dukungan Kemdiktisaintek, pemerintah daerah, dan dedikasi para guru, Siwalima tumbuh menjadi pusat pengembangan talenta muda dari Maluku dan sekitarnya.
Rachel dan para guru seperti Kelisa adalah bukti nyata bahwa perubahan bisa dimulai dari ruang kelas. Bahwa dari timur Indonesia, cahaya masa depan pendidikan sedang menyala—hangat, konsisten, dan penuh harapan.
Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif #SekolahGaruda






