Romi Ivanda: Menyalakan Kepemimpinan dari Laboratorium hingga Aksi Sosial

Kabar

06 November 2025 | 22.33 WIB

Romi Ivanda: Menyalakan Kepemimpinan dari Laboratorium hingga Aksi Sosial

Di sebuah desa kecil di Kemang Tanduk, Prabumulih, langkah seorang mahasiswa muda mulai menyalakan makna baru tentang kepemimpinan. Namanya Romi Ivanda, mahasiswa Teknik Kimia Politeknik Akamigas Palembang, yang percaya bahwa ilmu pengetahuan tidak akan berarti apa-apa jika tidak memberi manfaat bagi manusia dan lingkungannya.

Sejak awal kuliah, Romi menanamkan satu prinsip sederhana: belajar bukan hanya untuk nilai, tetapi untuk memberi dampak.

Dengan IPK 3,92, ia menunjukkan bahwa kecerdasan akademik dan kepekaan sosial dapat tumbuh beriringan — menjadi pijakan menuju masa depan energi yang lebih berkelanjutan dan beretika.

“Kepemimpinan bukan sekadar posisi, tetapi kemampuan untuk menumbuhkan dampak, menggerakkan orang lain, dan menciptakan perubahan yang bermakna,” tulisnya dalam esai kepemimpinan untuk Future Leaders Camp (FLC) 2025.

Dari Kelas ke Komunitas: Kepemimpinan yang Tumbuh dari Keteladanan

Romi memulai perjalanan kepemimpinannya bukan di panggung besar, melainkan di ruang kelas. Sebagai Asisten Dosen Fisika Teknik Perminyakan, ia menjadi jembatan antara teori dan praktik, antara dosen dan mahasiswa. Ia membimbing teman-temannya memahami konsep-konsep kompleks melalui diskusi terbuka dan eksperimen sederhana.

“Saya memahami bahwa pemimpin yang baik bukan hanya memberi instruksi, tetapi juga menginspirasi dan menumbuhkan rasa ingin tahu,” ungkapnya.

Peran kecil itu menumbuhkan kesadaran besar dalam dirinya: kepemimpinan tumbuh dari keteladanan, dari kesabaran mendengarkan, dan dari keberanian menyalakan semangat orang lain.

Ketekunan di bidang akademik tidak membuat Romi berhenti peduli pada isu sosial. Pada 2024, ia bersama rekan-rekannya mendirikan Generasi Anti Kekerasan Sumatera Selatan, sebuah gerakan sosial yang berfokus pada edukasi dan advokasi pencegahan kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Sebagai Co-Founder, Romi berperan dalam membentuk visi, struktur, dan arah gerakan. Ia memimpin lebih dari 50 anggota muda dalam menyusun kampanye kesadaran publik, pelatihan kepemimpinan, serta program edukasi berbasis sekolah dan komunitas.

“Pengalaman ini mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang mengarahkan, tetapi juga tentang mendengarkan dan memberdayakan orang lain,” tulisnya dalam esai.

Gerakan ini mempertemukannya dengan banyak latar belakang berbeda, remaja, mahasiswa, hingga tokoh masyarakat yang memperkaya pandangannya tentang kemanusiaan dan empati.

Dari sinilah ia belajar bahwa keberanian untuk memulai adalah bentuk kepemimpinan pertama yang sesungguhnya.

Belajar dari Dunia Energi dan Disiplin Industri

Romi bukan hanya seorang aktivis sosial, tetapi juga calon ahli energi masa depan. Ia memperdalam pengalaman profesionalnya melalui magang di industri migas.

Dari laboratorium hingga lapangan produksi, ia belajar bahwa teknologi tidak akan bertahan tanpa etika, dan industri tidak akan berkembang tanpa kepemimpinan yang bertanggung jawab.

Magang di industri migas mengajarkan Romi arti tanggung jawab dan kerja tim. Dunia energi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang etika dan keberlanjutan,

Ia juga memiliki beberapa sertifikasi penting seperti Pengolahan Limbah B3, Good Laboratory Practice, dan ISO 17025:2017 Knowledge, yang memperkuat komitmennya pada standar profesional dan lingkungan berkelanjutan. Romi juga salah satu yang menerima beasiswa fully funded dari PT Pertamina Hulu Rokan Regional 1 Zona 4 atas prestasi akademiknya.

Di kampus, Romi aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai Staf Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM). Ia merancang pelatihan kepemimpinan, kegiatan soft skill, dan forum kolaboratif lintas jurusan.

“Menjadi bagian dari PSDM membuat saya memahami bahwa pemimpin sejati bukan hanya yang memberi arahan, tetapi juga yang hadir, mendukung, dan tumbuh bersama anggotanya,” ungkapnya dalam esai.

Selain di BEM, Romi juga berkiprah di dua organisasi profesional, yaitu Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia Seksi Mahasiswa Politeknik Akamigas Palembang (IATMI SM PAP) dan Ikatan Teknik Analisis Laboratorium Minyak dan Gas (KATALIS), yang membentuknya menjadi sosok komunikatif dan berintegritas. Ia memimpin publikasi, mengelola pengembangan anggota, serta memastikan setiap program memiliki arah dan nilai keberlanjutan.

Langkah ke Depan bersama Future Leaders Camp 2025

Kini, Romi bersiap melangkah lebih jauh melalui Future Leaders Camp (FLC) 2025, program strategis Kemdiktisaintek yang mempertemukan mahasiswa berpotensi dari seluruh Indonesia untuk belajar, berjejaring, dan berkolaborasi lintas disiplin.

“Saya percaya bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang siapa yang paling berkuasa, melainkan siapa yang paling siap bertanggung jawab, beradaptasi, dan memberi manfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Bagi Romi, FLC bukan sekadar ajang pelatihan, tetapi ruang refleksi, tempat di mana pemimpin muda belajar untuk melayani, berpikir kritis, dan bertindak dengan nilai.

“Kesan pertama yang saya dapatkan itu saya menjadi diri saya itu lebih ter-upgrade. Saya mengetahui bagaimana mekanisme menjadi pemimpin yang baik, bagaimana memanajemen tim yang baik, teamwork-nya, serta membuat mini project yang baik sehingga mampu mengelola organisasi ataupun perusahaan-perusahaan ke depannya nanti,” ujar Romi.

Ia juga mengaku sangat senang bertemu teman-teman dari berbagai daerah. FLC memadukan berbagai background, culture, dan kebiasaan masing-masing peserta, sehingga peserta terbiasa untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi dengan latar belakang yang berbeda.

“Kita harus menyesuaikan lingkungan terlebih dahulu, bagaimana cara kita beradaptasi dan menginterpretasikan diri untuk menjadi pemimpin yang baik. Lalu kita introspeksi diri, apakah kita sudah menjadi pemimpin yang baik atau belum dan bagaimana mengaplikasikannya kepada lingkungan sekitar,” katanya.

Setelah kembali ke kampus, Romi telah menyiapkan langkah konkret untuk lebih aktif di kampus dan organisasi, serta mengajak teman-teman untuk membenahi komunikasi sehingga mampu membangun kerja sama dan jejaring yang baik.

Ketika berbicara tentang harapan masa depan, Romi menjawab mantap bahwa latar belakangnya di bidang energi, minyak dan gas merupakan bekal untuk menjadi pemimpin yang baik, yang menggerakkan perubahan dari transisi energi fosil menjadi energi baru terbarukan.

Kisah Romi menunjukkan bagaimana semangat Diktisaintek Berdampak hidup dalam diri mahasiswa teknik, yaitu ilmu yang ditekuni dikembalikan untuk kemaslahatan masyarakat, dan kepemimpinan yang ditempa diterjemahkan menjadi aksi nyata.

“Saya percaya, setiap peran yang saya jalani telah membentuk saya menjadi pemimpin yang lebih empatik, inovatif, dan berorientasi pada dampak berkelanjutan,” tuturnya.

Romi bermimpi menjadi pemimpin di bidang energi yang berintegritas dan berpihak pada keberlanjutan, memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan.

Melalui Future Leaders Camp 2025, ia berharap dapat menibgkatkan kapasitas diri dalam berpikir strategis, berkomunikasi efektif, dan membangun jejaring kolaboratif lintas daerah.

Ketekunan akademik, dedikasi sosial, dan semangat belajar yang tinggi menjadikan Romi bagian dari generasi pemimpin muda Indonesia yang berilmu, peduli, dan berdampak nyata.

Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif

/

5

Ulas Sekarang