Kupang—Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terus mendorong penguatan riset pendidikan tinggi yang berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, dalam Rapat Koordinasi Terpadu Pimpinan Perguruan Tinggi dan Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Selasa (5/5).
Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, serta mitra industri dalam mendorong pembangunan daerah berbasis riset dan inovasi, khususnya dalam penanganan isu prioritas seperti stunting dan kemiskinan ekstrem.
Dalam paparannya, Dirjen Fauzan menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan ekosistem riset yang terintegrasi untuk memastikan relevansi dan dampak riset di daerah. Salah satu langkah kunci yang dilakukan adalah penyusunan “bank rumusan masalah” yang dihimpun dari pemerintah daerah dan industri, sebagai acuan dalam penyusunan proposal riset di perguruan tinggi.
Pendekatan ini diperkuat dengan hasil survei nasional yang menunjukkan bahwa kebutuhan riset masyarakat masih didominasi pada sektor pangan, kesehatan, dan pengentasan kemiskinan, isu yang sejalan dengan prioritas pembangunan di Nusa Tenggara Timur.
Lebih lanjut, Dirjen Fauzan memaparkan skema pendanaan riset nasional yang terbagi dalam riset prioritas untuk pemerataan kapasitas dan riset strategis untuk solusi berdampak. Dukungan tersebut diperkuat melalui kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kemitraan dengan industri, serta pemanfaatan portal riset nasional risbang.kemdiktisaintek.go.id yang menyediakan akses terhadap puluhan ribu data riset dan peta sebaran penelitian.
Selain itu, berbagai program seperti Mahasiswa Berdampak dan Kosabangsa turut dihadirkan untuk memperkuat keterlibatan perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat. Dalam kesempatan tersebut, Dirjen Fauzan juga mendorong perguruan tinggi di NTT untuk lebih aktif memanfaatkan program-program tersebut guna memperluas implementasi riset dan pengabdian masyarakat, dengan dukungan pendanaan yang tersedia.
Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menekankan pentingnya membangun ekonomi berbasis inovasi di tengah tantangan global. Ia mendorong penguatan riset dan inovasi melalui peningkatan investasi serta kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri, termasuk percepatan adopsi teknologi di masyarakat.
Selaras dengan hal tersebut, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, menyampaikan pentingnya menghubungkan potensi daerah dengan riset dan teknologi agar memberikan nilai tambah bagi pembangunan. Ia juga menggarisbawahi perlunya perlindungan inovasi lokal melalui penguatan hak kekayaan intelektual (HKI) serta mendorong kolaborasi lintas sektor. “Ayo bangun Indonesia, ayo bangun NTT,” serunya.
Sebagai tuan rumah, Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Adrianus Amheka, menyampaikan capaian pendidikan tinggi di NTT, termasuk peningkatan kualitas dosen dan partisipasi perguruan tinggi dalam riset dan pengabdian masyarakat. Ia menegaskan bahwa kolaborasi dengan pemerintah daerah telah memberikan dampak nyata, khususnya melalui program-program yang menyasar isu sosial di masyarakat.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan sesi panel yang menghadirkan pemangku kepentingan dari pemerintah pusat, BRIN, dan perguruan tinggi untuk membahas arah kebijakan riset, transformasi pendidikan tinggi, serta penguatan kolaborasi dengan industri.
Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat solusi berbasis ilmu pengetahuan yang berkontribusi nyata bagi pembangunan daerah, khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi





