Bandung-Perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN BH) di Indonesia diharapkan mampu menjadi lokomotif perubahan dan inovasi dalam menjawab tantangan pembangunan bangsa. Sebagai entitas pendidikan tertinggi, PTN BH bukan sekadar simbol status bergengsi, melainkan memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi rujukan bagi perguruan tinggi lain serta menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Namun, hingga kini masih terdapat tantangan yang dihadapi dunia pendidikan. Banyak Hasil-hasil riset strategis yang berhenti di prototipe dan kurang tersambung dengan kebutuhan industri maupun masyarakat. Perguruan tinggi juga dinilai belum sepenuhnya responsif terhadap persoalan di daerah, sehingga kontribusinya terhadap penyelesaian masalah sosial-ekonomi, pangan, dan energi belum optimal. Kondisi ini makin menantang karena masih ada pola pikir elitis di sebagian kepemimpinan kampus, yang belum maksimal menumbuhkan resonansi positif di tengah masyarakat.
Menjawab persoalan tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan menghadiri Pertemuan Forum Komunikasi Komite Audit PTN BH di Bandung. Dalam kesempatan ini, Wamen Fauzan mendorong PTN BH agar tidak hanya fokus pada reputasi internasional, tetapi juga menghadirkan dampak konkret bagi masyarakat melalui inovasi, hilirisasi riset, serta konsorsium perguruan tinggi yang bergerak di berbagai daerah, termasuk daerah Terdepan, Terluar, dan Tertingga (3T). Wamen Fauzan juga menegaskan pentingnya peran komite audit sebagai mitra strategis dalam menjaga akuntabilitas dan arah kebijakan kampus agar tetap sejalan dengan kepentingan publik, Kamis (11/9).
“PTN BH bukan hanya soal status, melainkan misi besar untuk menjadi leader, rujukan, dan referensi bagi perguruan tinggi lain. Namun sebelum berinovasi, kita harus mengubah mindset kepemimpinan. Perguruan tinggi harus hadir sebagai problem solver yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungannya,” ujar Wamen Fauzan.
Pernyataan ini selaras dengan arahan Menteri Pendidikan, Tinggi, Sains dan Teknologi serta sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menekankan kemandirian bangsa di berbagai sektor, termasuk pangan dan energi. Menurut Wamen Fauzan, riset perguruan tinggi harus dihilirisasikan dan diimplementasikan agar mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat serta memperkuat daya saing bangsa.
Wamen Fauzan mengajak PTN BH dan seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk berkolaborasi lintas kampus, lintas daerah, serta bersinergi dengan pemerintah dan industri.
“Mari kita jadikan perguruan tinggi sebagai ekosistem unggul yang memberi resonansi positif, bukan hanya secara global, tetapi juga domestik. Inilah wujud Kemdiktisaintek Berdampak: perguruan tinggi hadir untuk menyelesaikan persoalan bangsa,” tutup Wamen Fauzan.
Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif






