Bandar Lampung – Suasana hangat dan penuh kebanggaan menyelimuti Aula K FKIP Universitas Lampung pada Kamis (2/4/2026). Momen tersebut menjadi hari penting bagi Karsoni Berta Dinata yang menjalani ujian terbuka promosi doktor dengan menghadirkan gagasan inovatif di bidang pendidikan.
Dalam sidang tersebut, Karsoni mempresentasikan disertasinya yang berjudul “Model Etno-Pedagogi Berbasis Proyek (EPSISPRO) untuk Pengembangan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Karakter Gotong Royong.” Penelitian ini lahir dari kebutuhan dunia pendidikan untuk menjawab berbagai tantangan global, mulai dari pesatnya perkembangan teknologi, perubahan sosial budaya, hingga tuntutan dunia kerja yang semakin dinamis.
Karsoni menjelaskan bahwa model EPSISPRO dirancang dengan menggabungkan konsep etnomatematika dan pembelajaran berbasis proyek. Melalui pendekatan tersebut, peserta didik tidak hanya mempelajari konsep akademik, tetapi juga diperkenalkan pada nilai-nilai budaya lokal, termasuk semangat sakai sambayan sebagai salah satu bentuk gotong royong dalam kehidupan masyarakat.
Lima karakteristik utama menjadi fondasi model pembelajaran tersebut, yakni kolaborasi, imajinasi, aksi, abstraksi, dan konstruksi. Pendekatan ini dirancang untuk mendorong siswa mengembangkan kemampuan berpikir kreatif sekaligus memperkuat karakter kebersamaan.
Hasil penelitian yang dilakukan Karsoni menunjukkan bahwa model EPSISPRO tidak hanya berhenti pada konsep teoritis, tetapi juga memiliki potensi penerapan yang nyata dalam proses pembelajaran.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa model ini dinilai valid, praktis untuk diterapkan, dan efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Selain itu, EPSISPRO juga dinilai mampu menumbuhkan nilai gotong royong pada siswa, baik di lingkungan yang memiliki karakter kolektif maupun individualistik.
Sidang promosi doktor tersebut turut dihadiri para akademisi dari berbagai perguruan tinggi. Kehadiran para akademisi lintas institusi itu menjadi simbol pentingnya kolaborasi dalam mendorong lahirnya inovasi di bidang pendidikan.
Melalui model EPSISPRO, Karsoni menegaskan bahwa pendidikan yang berpijak pada budaya lokal dapat menjadi strategi penting dalam membentuk generasi yang unggul, kreatif, sekaligus tetap memiliki akar nilai kebangsaan.
Gagasan tersebut diharapkan dapat diimplementasikan lebih luas di berbagai sekolah di Indonesia, sehingga pendidikan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat dan mampu menghadapi tantangan masa depan.






