Kupang-Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi meluncurkan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) baru di wilayah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali. Hal ini menjadi bagian dari Program Akselerasi Pemenuhan dan Distribusi Tenaga Medis. Peluncuran dilaksanakan serentak dan menjadi momentum penting bagi Universitas Nusa Cendana, Universitas Udayana, dan Universitas Mataram dalam pemenuhan layanan kesehatan spesialis di wilayah Indonesia bagian timur, Jumat (13/2).
Dalam sambutannya, Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kemdiktisaintek, Togar Mangihut Simatupang menegaskan bahwa Indonesia masih menghadapi kekurangan serta ketimpangan distribusi jumlah dokter spesialis dan subspesialis. Ditambahkan oleh Sesjen Togar bahwa kementerian memberikan perhatian khusus di wilayah Indonesia bagian Timur untuk melakukan akselerasi yang bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, dan pemangku kepentingan lain. Hingga 2025, pemerintah telah membuka 160 program studi baru sehingga total Prodi PPDS meningkat signifikan secara nasional.
“Hingga saat ini Kemdiktisaintek telah mencapai target. Dengan membuka 160 Prodi baru yang terdiri dari 128 Prodi dokter spesialis dan 32 Prodi dokter subspesialis. Dengan demikian jumlah Prodi PPDS meningkat menjadi 526 Prodi dari sebelumnya 366 Prodi,” tutur Sesjen Togar.
Sesjen Togar berharap dengan dibukanya PPDS di wilayah Indonesia bagian timur serta 11 provinsi lain dapat menjadi solusi untuk mempercepat pemerataan layanan kesehatan di Indonesia. Mewujudkannya, tentu butuh kolaborasi.
“Kami juga mengharapkan adanya kolaborasi yang lebih erat antara Perguruan Tinggi dan Rumah Sakit milik pemerintah,” tambah Sesjen Kemditisaintek.
Pada peluncuran ini turut dihadiri oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena. Dalam sambutannya, Gubernur Emanuel menyampaikan apresiasi atas peluncuran Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Bali-Nusa Tenggara yang dilaksanakan di Universitas Nusa Cendana.
Gubernur Emanuel menegaskan kondisi geografis NTT yang didominasi oleh wilayah 3T menjadikan kebutuhan dokter spesialis sebagai prioritas yang mendesak terutama spesialis anestesiologi dan obstetri-ginekologi dinilai sangat krusial untuk menjawab persoalan kebutuhan layanan operasi serta tingginya tingkat kematian ibu dan anak.
“Kehadiran program pendidikan dokter spesialis dan subspesialis di wilayah Bali-Nusa Tenggara ini sangat strategis dan relevan untuk menjembatani akses anak-anak NTT terhadap pendidikan dokter spesialis dapat dilakukan dengan lebih baik,” tegas Gubernur Emanuel.
Selain itu, Gubernur Emanuel juga menegaskan bahwa pemerintah daerah siap mendukung melalui penguatan pembiayaan dan mendorong agar lulusan PPDS mengabdi kembali di NTT guna memastikan keberlanjutan layanan kesehatan spesialistik.
Sementara itu, Rektor Universitas Nusa Cendana, Jefri S. Bale menekankan bahwa kesehatan merupakan fondasi utama pembangunan. Dengan lahirnya dokter spesialis di Undana, diharapkan keterbatasan akses layanan kesehatan di NTT dapat diputus secara bertahap, sekaligus mendukung visi pembangunan daerah dan kontribusi nyata bagi Indonesia yang lebih sehat dan bermartabat. Rektor Jefri juga menyebutkan bahwa ke depan Undana akan menambah program studi kedokteran gigi dan keperawatan.
“Kita harus memastikan bahwa kehadiran prodi spesialis ini, nantinya mampu menyentuh akar persoalan kesehatan di NTT baik fisik maupun psikis hingga ke komunitas terkecil. Lebih jauh saya sampaikan bahwa visi Undana dalam memenuhi kebutuhan tenaga medis tidak berhenti di sini. Dalam waktu dekat, kami tengah mempersiapkan kehadiran program studi kedokteran gigi, dan juga program studi keperawatan,” tegas Rektor Jefri Bale.
Dengan peluncuran PPDS di Bali dan Nusa Tenggara, Kemendiktisaintek menegaskan komitmennya untuk mempercepat pemerataan dokter spesialis, memperkuat sistem kesehatan akademik wilayah timur, dan menghadirkan layanan kesehatan yang lebih adil, bermutu, dan berdampak bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Kemdiktisaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif






