Potensi Pemanfaatan Limbah PLTU untuk Kemandirian Produksi Garam Nasional

Kabar

20 October 2025 | 22.25 WIB

Potensi Pemanfaatan Limbah PLTU untuk Kemandirian Produksi Garam Nasional

Jakarta—Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), bahas penjajakan potensi kolaborasi riset dan pengembangan teknologi pemanfaatan rejected brine dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebagai alternatif sumber bahan baku garam nasional. Hal ini disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto saat bertemu Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono di kantor KKP, Senin (20/10).

“Ini merupakan kajian awal kami. Harapannya, potensi ini bisa menjadi alternatif untuk mengembangkan kemandirian produksi garam nasional dan sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru,” kata Menteri Brian.

Pertemuan ini turut dihadiri oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman serta peneliti dan dosen dari Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung (ITB), Yogi Wibisono Budhi.

Dirjen Risbang menjelaskan, enam PLTU besar di Indonesia berpotensi menghasilkan sekitar tiga juta ton garam per tahun melalui pemanfaatan air buangan atau rejected brine yang selama ini belum dimanfaatkan.

“Kami melihat ada peluang besar untuk menjadikan brine dari PLTU maupun industri tepi laut lain seperti migas dan petrokimia sebagai sumber bahan baku garam industri,” ujar Dirjen Fauzan.

Dirjen Risbang menambahkan, analisis awal menunjukkan bahwa telah ditemukan sejumlah lokasi yang memiliki kesiapan lahan dan potensi efisiensi logistik. Kajian juga tengah dilakukan untuk menentukan model bisnis yang paling sesuai dengan tujuan menjamin keberlanjutan produksi garam dan mewujudkan kemandirian pasokan nasional.

Solusi Kurangi Impor Garam

Sementara itu, Menteri Sakti menyambut baik hasil riset dan uji coba yang telah dilakukan.

“Selama 80 tahun kita masih bergantung pada impor garam. Kalau teknologi ini terbukti efisien dan investasi yang dibutuhkan sepadan, kami siap mendukung uji cobanya. Saya senang melihat hasil riset yang bisa langsung diturunkan ke industri, karena ketika industri hidup, masyarakat pun ikut bahagia,” dukung Menteri KKP.

Riset ini menunjukkan potensi efisiensi energi hingga 50 persen dibanding proses produksi garam konvensional.

“Kalau industri garam bisa memanfaatkan garam laut hasil olahan brine, bukan hanya hemat energi tapi juga menguntungkan nelayan karena rantai pasokan lebih efisien dan merata,” ujar Menteri Sakti.

Kemdiktisaintek menegaskan akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mengintegrasikan hasil riset perguruan tinggi dengan kebutuhan industri, guna mendorong tercapainya kemandirian dan daya saing nasional di bidang kelautan dan perikanan.

Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif

/

5

Ulas Sekarang