Jakarta—Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus memperkuat diplomasi pendidikan sebagai bagian dari strategi peningkatan kualitas sumber daya manusia dan daya saing global Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, pendidikan tinggi Indonesia menunjukkan daya tarik yang semakin kuat di tingkat internasional. Per akhir 2025, tercatat 8.050 mahasiswa asing dari berbagai negara menempuh studi di Indonesia, mencerminkan meningkatnya kepercayaan global terhadap sistem pendidikan tinggi nasional.
Dalam konteks tersebut, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menerima kunjungan kehormatan dari Algeria-Indonesia Parliamentary Friendship Group (Kelompok Persahabatan Parlemen Aljazair-Indonesia). Kunjungan diterima Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan yang membahas mengenai kesempatan kerja sama di bidang pendidikan tinggi hingga bidang riset, di kantor Kemdiktisaintek, Selasa (20/01).
Wamen Fauzan menegaskan bahwa kerja sama internasional merupakan kunci pengembangan sumber daya manusia. Selain itu, kerja sama internasional juga dapat mendorong peningkatan kualitas industri berbasis riset.
“Kemdiktisaintek menumbuhkan kualitas industri yang ada di Indonesia dengan riset yang berkaitan dengan kekayaan alam Indonesia dan terus meningkatkan kerja sama internasional, seperti pertukaran mahasiswa, visiting professor, dan kolaborasi riset. Harapannya, kita juga bisa menjalankan ini dengan Aljazair,” jelas Wamen Fauzan.
Aljazair membuka kesempatan untuk bekerja sama lebih lanjut, terutama di bidang teknologi, digitalisasi, ilmu Islam dan syariah, energi, dan kesehatan. Selain itu, Kepala Delegasi Kelompok Persahabatan Parlemen Aljazair-Indonesia, Mohammed Yazid Benhemouda mendorong peluang peningkatan jumlah beasiswa dari Aljazair untuk Indonesia maupun sebaliknya.
“Aljazair berharap adanya generasi baru yang dapat menjembatani kedua negara. Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) sudah memberi dampak positif, harapannya akan terdapat kesempatan yang lebih luas bagi mahasiswa dan ilmuwan Aljazair untuk belajar di Indonesia,” ujar Mohammed Yazid.
Sebelumnya, Kemdiktisaintek melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) sejak tahun 2006 telah meluncurkan beasiswa KNB, yaitu beasiswa untuk mahasiswa internasional berkuliah di perguruan tinggi di Indonesia. Selain itu, Kemdiktisaintek berkolaborasi dengan Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional (LDKPI) Kementerian Keuangan sejak 2024 dalam meluncurkan program The Indonesian AID Scholarship (TIAS), di mana Aljazair menjadi salah satu negara mitra. Kedua program ini akan menjadi program flagship pemerintah dalam memperkuat diplomasi halus Indonesia dan internasionalisasi perguruan tinggi di Indonesia.
Hingga 2024, terdapat 12 mahasiswa Aljazair yang menempuh pendidikan di Indonesia dan 3 mahasiswa aktif dari Aljazair yang saat ini berkuliah di Indonesia. Hal ini dijelaskan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Khairul Munadi.
“Kami akan memperluas penerima beasiswa internasional dan intensifkan lagi informasinya. Mobilisasi mahasiswa, dosen, dan kerja sama perguruan tinggi juga akan kami usahakan. Kami memprioritaskan memperkuat ekosistem pendidikan tinggi melalui kerja sama dan interaksi dengan mitra-mitra internasional, baik melalui kementerian maupun antarkampus (university-to-university),” kata Dirjen Khairul.
Selain itu, Kemdiktisaintek juga mendukung kolaborasi antar industri Indonesia–Aljazair yang telah terjalin untuk dikembangkan ke arah pemberian beasiswa serta fasilitasi pembelajaran bagi mahasiswa pada bidang-bidang strategis. Selain itu, terdapat skema beasiswa internasional yang terus dilaksanakan sejumlah Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH) untuk mendukung ekosistem pendidikan tinggi di kampus-kampus Indonesia. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan industri serta memperkuat hubungan kerja sama kedua negara.
“Prinsipnya, ketika kita bicara tentang pendidikan, cakrawalanya sangat luas. Karena itu, terdapat banyak peluang kerja sama yang akhirnya akan bermuara pada penguatan pendidikan,” tegas Wamen Fauzan.
Hubungan Indonesia dan Aljazair memiliki akar sejarah yang kuat. Indonesia telah menjalin hubungan diplomatik dengan Aljazair sejak tahun 1963. Hingga kini, kedua negara telah menandatangani sejumlah perjanjian bilateral di berbagai sektor. Tercatat pula terdapat 6 naskah kerja sama antara perguruan tinggi Indonesia dan Aljazair dengan skema university-to-university. Melalui pertemuan ini, Kemdiktisaintek berharap dapat memperbarui dan memperluas kerja sama pendidikan tinggi yang telah ada.
Ke depan, Indonesia dan Aljazair bersepakat untuk menindaklanjuti hasil diskusi melalui pertemuan lanjutan guna merumuskan langkah-langkah kerja sama yang lebih konkret. Hal ini menjadi bagian dari komitmen Kemdiktisaintek dalam memperkuat jejaring internasional dan mendorong pendidikan tinggi Indonesia yang inklusif, kolaboratif, dan berdampak.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif





