Surabaya-Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI) 2025 atau Indonesia Higher Education Summit (IHES) memasuki hari terakhir di Graha Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Jawa Timur, Jumat (21/11).
Setelah dibuka secara resmi oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto Rabu kemarin, salah satu agenda di hari terakhir KPPTI ini berfokus pada diskusi yang menghadirkan Presiden Direktur (CEO) Lintasarta, Bayu Hanantasena, dan Founder (CEO) Geasindo Grup (GSG) Surijadinata Sulaiman, membahas tema Peran Perguruan Tinggi dalam Penguatan Ekosistem Industri
Presiden Direktur Lintasarta, Bayu Hanantasena menyoroti sebuah fenomena dimana akselerasi digital di Indonesia kini agak terhambat oleh kesenjangan antara kebutuhan industri, dan ketersediaan talenta digital yang ada. Menurutnya, kampus harus menjadi mitra aktif dalam memproduksi lulusan yang memiliki skillset yang up to date dan relevan dengan standar teknologi global.
"Perguruan tinggi hari ini adalah yang menghasilkan insinyur dan ahli teknologi masa depan. Kami di Lintasarta membutuhkan talenta yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki kemampuan problem solving nyata di lapangan,” jelasnya.
Untuk itu ia mendorong implementasi program magang yang terstruktur dan berdampak. Menurutnya, Magang bukan sekadar formalitas, tetapi sebagai wahana bagi mahasiswa untuk terlibat dalam proyek-proyek strategis di perusahaan.
"Parameter yg kami gunakan pertama adalah employability (keterampilan, dan kompetensi, red). Kemudian hasil dari inovasi yang mereka buat kita kurasi, yang bagus kita komersialkan bareng kampus. Dan penting untuk kita membangun ekosistem. Ini penting agar saat lulus mereka siap tempur saat masuk kerja,” tegasnya.
Lebih lanjut Founder (CEO) Geasindo Grup (GSG) sebuah perusahaan yang fokus pada infrastruktur dan pengembangan bisnis, Surijadinata Sulaiman menekankan pentingnya peran kampus dalam menumbuhkan jiwa entrepreneurship yang berbasis pada inovasi. Ia melihat kampus sebagai inkubator ideal untuk melahirkan lulusan yang mampu menyelesaikan masalah infrastruktur dasar Indonesia.
"Infrastruktur adalah fondasi ekonomi. Kami melihat banyak potensi inovasi infrastruktur yang belum disentuh oleh startup dari kampus. Kami tidak hanya mencari pekerja, kami mencari mitra inovasi. Perguruan tinggi harus mengajarkan mahasiswa untuk tidak hanya melamar pekerjaan, tetapi menciptakan pekerjaan melalui start-up yang didukung oleh riset dan inovasi yang solid. Kampus harus menjadi penghubung antara penelitian dan kebutuhan pasar yang spesifik,” paparnya.
Kolaborasi Berdampak
Menutup diskusi, para CEO sepakat bahwa era “menara gading” telah berakhir. Kemitraan kampus–industri, harus diwujudkan dalam bentuk program magang yang menghasilkan lulusan yang siap kerja, serta kolaborasi yang berdampak. Hal ini merupakan kunci untuk memastikan pendidikan tinggi Indonesia dapat menjadi motor penggerak utama menuju Visi Indonesia Emas 2045.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menggelar Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI) 2025 atau Indonesia Higher Education Summit (IHES) dan University Expo pada 19–21 November 2025 di Unesa.
KPPTI 2025 adalah momentum kita bersama untuk memastikan perguruan tinggi di Indonesia bisa berdiri kokoh. Dengan kolaborasi solid, riset berorientasi hasil, dan akses pendidikan yang adil, saya percaya ini bisa jadi motor kemajuan bangsa,” pungkas Menteri Brian.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif
#KPPTI2025





