Penguatan Kolaborasi Global Jadi Langkah Strategis Pengembangan Riset Nasional

Kabar

06 February 2026 | 06.30 WIB

Penguatan Kolaborasi Global Jadi Langkah Strategis Pengembangan Riset Nasional

Tangerang Selatan - Rangkaian kegiatan Nobel Lecture terus berlanjut melalui forum diskusi yang menghadirkan pemangku kepentingan riset nasional dan internasional. Dalam sesi konferensi pers pada Rabu (4/2) bertempat di Graha Widya Bhakti Badan Riset dan Inovasi Nasonal (BRIN), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menegaskan bahwa penguatan ekosistem riset nasional perlu didorong melalui kolaborasi global, pengembangan talenta, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk menjawab tantangan energi dan pembangunan berkelanjutan.


Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Togar Simatupang, menekankan bahwa kehadiran ilmuwan kelas dunia menjadi momentum penting untuk memperluas wawasan sekaligus menginspirasi generasi muda Indonesia dalam membangun budaya riset yang unggul. 


Menurutnya, interaksi langsung dengan peneliti global membuka ruang pembelajaran dalam ekosistem riset kelas dunia. “Kehadiran ilmuwan kelas dunia diharapkan dapat mendorong lahirnya talenta riset unggul yang mampu bersaing secara internasional,” ujarnya.


Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menegaskan bahwa penguatan ekosistem riset nasional juga diarahkan melalui pendekatan brain circulation, yakni mendorong mobilitas talenta dan kolaborasi internasional agar pertukaran gagasan, pengalaman, serta praktik terbaik dapat berlangsung secara berkelanjutan.


Ia menambahkan bahwa kolaborasi global menjadi bagian penting dalam membangun budaya riset yang kuat di lingkungan akademik. “Kolaborasi internasional penting untuk memperkuat budaya riset melalui interaksi global antarpeneliti”. Jelasnya.


Penguatan kolaborasi tersebut kemudian dipandang sebagai bagian dari ekosistem riset yang lebih luas. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menekankan bahwa riset berdampak memerlukan konsistensi jangka panjang serta dukungan riset dasar yang kuat sebagai fondasi inovasi.


Ia mencontohkan perjalanan riset Profesor Susumu Kitagawa yang dilakukan secara konsisten dalam jangka waktu panjang hingga puluhan tahun sebagai gambaran bahwa capaian ilmiah besar lahir dari proses yang berkelanjutan. “Riset dasar harus terus diperkuat karena di situlah sumber inovasi jangka panjang dibangun,” ujarnya. 


Perspektif tersebut diperkuat oleh Nobel Laureate Kimia 2025, Prof Susumu Kitagawa, yang menyoroti pentingnya kolaborasi lintas budaya dalam memperkaya perspektif ilmiah dan mempercepat lahirnya inovasi.


Ia menegaskan bahwa pertukaran gagasan antarnegara menjadi faktor penting dalam perkembangan riset material maju.”Different culture gives very unique idea,” ungkapnya, menekankan bahwa keberagaman perspektif menjadi kekuatan dalam pengembangan ilmu pengetahuan global.


Dalam konteks implementasi kolaborasi riset, Profesor Riset BRIN Ratno Nuryadi menjelaskan bahwa kerja sama yang telah berjalan sejak 2023 terus diperluas melalui pengembangan sistem laboratorium bersama serta penguatan jejaring peneliti lintas negara. Upaya ini diharapkan tidak hanya memperkuat riset, tetapi juga meningkatkan kapasitas sumber daya manusia peneliti secara berkelanjutan. 


Melalui rangkaian kegiatan ini, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi riset nasional melalui kolaborasi internasional, pengembangan talenta unggul, serta pemanfaatan hasil riset yang berorientasi pada solusi nyata bagi masyarakat. Momentum Nobel Lecture diharapkan menjadi penguat langkah bersama dalam membangun ekosistem riset Indonesia yang adaptif, kolaboratif, dan berdaya saing global.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#RisetUntukIndonesia

#KolaborasiRiset

#TalentaRiset

#InovasiIndonesia

/

5

Ulas Sekarang