Pendidikan Tinggi Berdampak adalah Pil Penawar di Era Disrupsi

Kabar

29 January 2026 | 13.30 WIB

Pendidikan Tinggi Berdampak adalah Pil Penawar di Era Disrupsi

Ijazah adalah modal awal, bukan jaminan masa depan.


Kecerdasan buatan pada akhirnya akan menggantikan hampir semua alat bantu (tools) yang selama ini digunakan manusia. Perkembangannya yang super-cepat dan spektakuler merupakan keniscayaan yang mustahil untuk ditolak. Disrupsi menjadi kata kunci yang tidak bisa diabaikan.


Disrupsi ini jugalah yang digarisbawahi Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemdiktisaintek Khairul Munadi, dalam orasi ilmiahnya di hadapan 2.070 wisudawan Universitas Gunadarma di Jakarta (29/1). 


Menurut Dirjen Khairul Munadi, teknologi berkembang cepat, industri dan jenis pekerjaan terus berubah, cara belajar dan bekerja pun tidak lagi sama. Di dunia kerja yang sama sekali baru, kecerdasan buatan mampu menulis, menganalisis, bahkan mengambil keputusan. Industri bergerak lebih cepat daripada kurikulum. Banyak pekerjaan masa depan bahkan belum memiliki nama. 


Karena itu, pertanyaan utama bagi lulusan hari ini bukan lagi “apa gelar saya”, melainkan “apa relevansi dan kontribusi saya? Sebab disrupsi terdalam yang kita hadapi hari ini bukan hanya disrupsi teknologi, melainkan disrupsi makna tentang apa arti bekerja, berkarya, dan berkontribusi.


“Sejak hari ini, para wisudawan dan wisudawati tidak lagi hanya menyandang identitas sebagai mahasiswa, melainkan sebagai warga bangsa terdidik. Pada fase inilah ilmu mulai diuji dalam realitas, dan karakter mulai menentukan arah. Apa yang selama ini dipelajari di ruang kelas akan berhadapan langsung dengan kompleksitas kehidupan nyata,” kata Dirjen Khairul Munadi.


Rektor Universitas Gunadarma Margianti, menaruh harapan besar kepada para wisudawan untuk melanjutkan estafet keilmuan yang telah diperoleh di kampus karena sejatinya ilmu adalah amanah.


“Hari ini Anda diwisuda bukan hanya sebagai sarjana, tetapi sebagai pribadi yang dipercaya untuk membawa ilmu, nilai, dan tanggung jawab ke ruang-ruang kehidupan nyata.” Pesan Rektor Universitas Gunadarma.


Selama ini, demikian  Dirjen Khairul Munadi menambahkan, pendidikan tinggi kerap diukur dari jumlah lulusan, publikasi, dan reputasi institusi. Semua itu penting, tetapi tidak lagi cukup. Paradigma baru pendidikan tinggi abad ke-21 adalah berdampak: apa yang berubah dengan kehadiran kampus. Pendidikan tinggi harus berdampak bagi mahasiswa dan masa depannya, bagi dunia kerja dan industri, bagi masyarakat dan daerah, serta bagi daya saing dan peradaban bangsa di tingkat global.


Universitas sejatinya bukan sekadar pusat ilmu pengetahuan. Kampus adalah institusi moral, institusi intelektual, sekaligus penjaga nilai dan nalar publik. Ia adalah center of excellence yang mengadopsi semua praktik terbaik. Dalam konteks ini, Universitas Gunadarma memiliki peran strategis dalam membentuk lulusan yang utuh, intelektualnya kuat, emosionalnya matang, serta etis dan bertanggung jawab. 


“Bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang-orang yang kompeten, tetapi juga mereka yang bertanggung jawab. Dan jangan lupa, wisuda bukanlah akhir dari perjalanan. Wisuda adalah awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Inilah titik peralihan peran manusia terdidik, dari sekadar memahami dunia, menuju keberanian untuk ikut memperbaiki dunia,” pesan Dirjen Khairul Munadi.


Hadir juga dalam agenda ini Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III, Henri Togar Hasiholan Tambunan, menegaskan bahwa lulusan harus berani melangkah maju dan tidak cepat puas dengan pencapaian yang telah diraih.


“Langit Indonesia terlalu luas jika kita hanya berjalan di tempat. Berkaryalah dan berinovasilah bagi tanah air tercinta,” pungkasnya.


Pada bagian lain Dirjen Khairul Munadi menitipkan empat pesan inti yang perlu dipegang oleh para wisudawan hari ini. Pertama, ilmu adalah amanah, hasil investasi keluarga, negara, dan masyarakat yang harus digunakan untuk memberi manfaat. Kedua, menjadi pembelajar sepanjang hayat, karena dunia akan terus berubah dan belajar tidak boleh berhenti. Ketiga, membangun karakter, sebab teknologi akan terus menguji integritas, dan karakter adalah kompas dalam setiap pilihan. Keempat, mengukur kesuksesan dari dampak, bukan semata posisi atau jabatan, melainkan dari manfaat kehadiran kita bagi masyarakat sekitar.


“Ijazah adalah modal awal, bukan jaminan masa depan. Nilainya akan terus tumbuh jika disertai dengan kemauan belajar ulang, kelenturan berpikir, dan kedewasaan karakter. Tanpa itu, ijazah hanya akan menjadi dokumen administratif, bukan bekal peradaban. Harus menjadi lulusan yang relevan, tangguh dan bermakna di era disrupsi,” kata Dirjen Khairul Munadi.


Pelaksanaan wisuda Universitas Gunadarma kali ini menabalkan 2.070 lulusan yang terdiri dari Program Diploma Tiga, Program Sarjana serta Program Magister dan Program Doktor. Keseluruhan penabalan didampingi oleh orang tua dan para keluarga sebagai sistem pendukung (support system). Mengingat di balik setiap wisudawan hari ini, ada doa orang tua yang tak pernah putus, ada kesabaran para dosen, dan ada ekosistem akademik yang menopang proses untuk tumbuh bersama. 


“Mari menatap Indonesia ke depan, bangsa ini membutuhkan generasi yang cerdas dan adaptif, tangguh berbasis nilai, serta bijaksana dalam keberagaman. Generasi terdidik yang mampu bersaing sekaligus berkolaborasi, kritis namun solutif, sukses secara pribadi sekaligus siap mengabdi. Harapan saya,  jadilah lulusan yang bermakna, jernih di tengah kebisingan, adil di tengah tarik-menarik kepentingan, dan rendah hati di tengah pencapaian. Rawat idealisme, pijakkan kaki pada realitas, kejarlah mimpi setinggi mungkin. Dan ingat,  jangan pernah melupakan nilai,” tutup Dirjen Khairul Munadi.


/

5

Ulas Sekarang