Jakarta—Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Togar Mangihut Simatupang, menerima kunjungan delegasi Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) yang dipimpin Deputy Director I (Academic and Programme Extension), Kamarul Baraini Keliwon di Kantor Kemdiktisaintek, Selasa (10/2).
Pertemuan ini membahas penjajakan kolaborasi akademik, khususnya pengembangan program program sarjana dan pascasarjana berbasis Open and Distance Learning (ODL) atau Pendidikan Jarak Jauh Lintas Negara, serta penguatan kerja sama antar perguruan tinggi Indonesia dan Malaysia.
Dalam sambutannya, Sesjen Togar menyampaikan apresiasi atas komitmen UKM dalam mendorong inovasi pembelajaran digital dan internasionalisasi pendidikan tinggi di kawasan.
“ODL adalah wadah baru, sarana baru bukan hanya untuk menjangkau mahasiswa kita, tetapi juga untuk mendidik masyarakat dengan cara yang fleksibel,” ujar Sesjen Togar.
Sesjen Togar menegaskan bahwa Indonesia pada prinsipnya terbuka terhadap pengembangan pendidikan jarak jauh lintas negara. Pemerintah telah memiliki kerangka regulasi yang mengakui pembelajaran jarak jauh sebagai bagian dari sistem pendidikan tinggi nasional, sepanjang memenuhi standar mutu, akreditasi, serta kesetaraan capaian pembelajaran.
Lebih lanjut, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemdiktisaintek Beny Bandanadjaja, menjelaskan bahwa pengakuan kualifikasi lulusan luar negeri, termasuk melalui skema ODL, dilakukan melalui mekanisme penyetaraan ijazah yang mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Hal ini penting untuk memastikan kesesuaian jenjang, mutu proses pembelajaran, serta rekognisi akademik di Indonesia.
Selain aspek regulasi, Kemdiktisaintek juga mendorong agar implementasi ODL dikembangkan melalui kemitraan institusional dengan perguruan tinggi nasional, sehingga memberikan nilai tambah yang lebih luas, termasuk peluang lulusan berkarir di kawasan ASEAN.
Kolaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai skema, seperti joint degree, dual degree, pengembangan kurikulum bersama, hingga micro-credential. Pendekatan ini dinilai penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar pendidikan, tetapi juga mitra strategis dalam pengembangan ekosistem pendidikan tinggi regional.
Menutup agenda ini Sesjen Kemdiktisaintek juga menekankan pentingnya mengaitkan kerja sama pendidikan tinggi dengan kebutuhan mobilitas talenta dan pasar kerja kawasan. Hal ini sejalan dengan arah kebijakan Diktisaintek Berdampak, di mana kerja sama internasional diarahkan untuk menghasilkan dampak nyata terhadap peningkatan kompetensi sumber daya manusia, penguatan daya saing lulusan, serta kontribusi bagi pembangunan nasional dan kawasan.
Pertemuan berlangsung konstruktif dengan pembahasan lanjutan terkait standar mutu ODL, mekanisme pengakuan akademik, peluang riset bersama, serta pengembangan program kolaboratif Indonesia–Malaysia. Saat ini, UKM tercatat telah menjalin berbagai kemitraan dengan sejumlah perguruan tinggi Indonesia, antara lain Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Negeri Semarang (Unes), dan lainnya, mencakup pertukaran akademik, riset bersama, hingga program kolaboratif.
Kemdiktisaintek berharap penjajakan ini menjadi langkah awal menuju kemitraan strategis pendidikan tinggi ASEAN yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak nyata, khususnya dalam memperluas akses pendidikan tinggi bermutu melalui transformasi digital.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif





