SURABAYA—Secara potensi dan peluang, Indonesia sudah mengantongi syarat sebagai negara maju, tidak hanya memiliki satu bonus, tetapi empat bonus sekaligus, yaitu bonus digital, bonus geografi, bonus demografi, dan bonus etnografi.
Hal itu disampaikan Prof. Dr. Martadi, M.Sn., dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Teknologi Pembelajaran Seni Budaya, Fakultas Vokasi, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), di Graha Sawunggaling Unesa, Kampus II Lidah Wetan, pada 10 Februari 2026 lalu.
Martadi menjelaskan bahwa bonus digital memberikan keunggulan dalam konektivitas cepat, sementara bonus geografi menempatkan Indonesia di posisi strategis jalur dunia.
Di sisi lain, bonus demografi menyediakan melimpahnya penduduk usia produktif, yang diperkaya dengan bonus etnografi berupa keragaman budaya luar biasa yang tidak dimiliki bangsa lain.
Namun, guru besar kelahiran Ngawi itu mengingatkan bahwa tumpukan potensi ini menuntut kesiapan besar, terutama dalam menjawab pertanyaan krusial: bagaimana bangsa ini tetap merawat tradisi di saat arus digitalisasi terus bergerak tanpa henti?
Menghadapi kompleksitas tersebut, ia menekankan pentingnya filosofi Ali Bin Abu Thalib R.A. tentang mendidik anak sesuai zamannya, mengingat tantangan ke depan akan jauh lebih rumit dan penuh ketidakpastian seiring perkembangan iptek yang eksponensial.

Strategi untuk mengelola empat bonus besar tersebut, menurutnya, terletak pada pola pendidikan untuk membekali lima modal kecerdasan bagi generasi masa depan bangsa.
Selain Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), dan Spiritual Quotient (SQ), ia menegaskan pentingnya Digital Quotient (DQ) sebagai kecakapan navigasi teknologi, serta Indonesia Quotient (IND-Q) agar anak bangsa tetap memiliki kebanggaan dan akar yang kuat pada budayanya sendiri.
Agar empat bonus tersebut tidak menjadi beban, pria yang menahkodai Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni (Wakil Rektor I) Unesa itu mendorong pembelajaran yang dirancang menyesuaikan karakteristik anak dengan memanfaatkan teknologi sebagai mitra, bukan ancaman.
Pemanfaatan teknologi ini harus diintegrasikan dengan seni budaya Indonesia guna menciptakan media pembelajaran yang berbasis kearifan lokal.
Pendekatan ini diwujudkan melalui deep learning yang menekankan pada suasana belajar berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui sinkronisasi olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga. ‘
“Dengan demikian, teknologi dan tradisi tidak lagi saling berbenturan, melainkan bersinergi untuk melahirkan generasi tangguh yang siap membawa Indonesia memimpin di kancah global,” tukasnya. ][
***
Reporter: Tarisan Adistia (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa





