Purwokerto – Ketika dunia global menuntut generasi muda tidak hanya pintar berbicara tapi juga tajam berpikir dan mampu berdialog lintas perbedaan, mahasiswa Indonesia menjawabnya lewat panggung debat paling bergengsi: National University Debating Championship (NUDC) dan Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI) tingkat nasional tahun 2025. Sebuah ajang bergengsi untuk mahasiswa mengucapkan argumentasinya.
Tahun ini, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menjadi tuan rumah penyelenggaraan kedua ajang prestisius ini, yang digelar oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bekerja sama dengan Unsoed. Pembukaan berlangsung di Auditorium Graha Widyatama Prof. Rubijanto Misman, Purwokerto, pada Senin (20/10).
Tahun ini, NUDC dan KDMI mempertemukan 588 mahasiswa dari 196 tim yang berasal dari 129 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Para peserta tersebut merupakan hasil seleksi ketat di tingkat perguruan tinggi dan wilayah, sehingga yang hadir di Purwokerto merupakan wakil terbaik dari masing-masing kampus.
Rektor Unsoed, Akhmad Sodiq, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Unsoed untuk menjadi tuan rumah ajang debat tingkat nasional ini.
“Suatu kebanggaan dan kebahagiaan bagi kami keluarga besar Universitas Jenderal Soedirman yang diberikan kepercayaan sebagai tuan rumah kegiatan ini. Saya yakin peserta NUDC dan KDMI adalah generasi unggul yang siap mengisi Indonesia Emas 2045,” ujar Akhmad Sodiq.
Sementara itu, Sukino, Ketua Tim Kerja Kemahasiswaan Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Dikti, menegaskan bahwa kemampuan debat bukan sekadar keterampilan berbicara, melainkan bagian penting dari pembentukan karakter mahasiswa yang berpikir kritis, sistematis, dan konstruktif. Ajang debat, demikian Sukino, adalah arena mahasiswa untuk meletakkan argumentasinya dengan nalar yang teratur dan tidak bias.
“Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah keterampilan yang tidak selalu diperoleh di bangku kuliah. Melalui NUDC dan KDMI, kami berharap lahir generasi muda yang kritis, kreatif, komunikatif, dan mampu menjadi agen perubahan dengan gagasan yang membangun,” ungkap Sukino.
Kompetisi yang berlangsung selama enam hari, 20–25 Oktober 2025, ini tidak hanya menjadi ajang adu argumentasi, tetapi juga wadah pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami perbedaan perspektif, menumbuhkan toleransi, serta memperkuat kemampuan berpikir reflektif terhadap isu-isu aktual.
Melalui NUDC dan KDMI, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya dalam menumbuhkan ekosistem pembelajaran yang mendorong mahasiswa berpikir terbuka, kolaboratif, dan solutif terhadap tantangan zaman. Lebih jauh lagi, ajang ini menjadi kawah candradimuka bagi mahasiswa untuk mampu mengonfrontasi dan merestorasi argumentasinya.
Ajang debat ini menjadi bukti bahwa kampus bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga laboratorium kebangsaan tempat ide, semangat, dan keberagaman berpadu untuk membangun masa depan Indonesia yang lebih cerdas dan berdaya.
Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi #DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif





