Seorang pemuda asal Jombang percaya bahwa kepemimpinan bukan tentang suara paling keras, melainkan tentang siapa yang paling mampu mendengar.
Muhammad La Rayba Fie, atau akrab disapa Arfi, mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), yang juga penerima Beasiswa Prestasi Keagamaan Islam Unesa, merupakan pemimpin organisasi yang penuh rasa ingin tahu.
Perjalanan Arfi di kampus bukan perjalanan instan. Ia memulai dari titik yang menurutnya jauh dari gambaran seorang pemimpin, yaitu pemalu, tidak berani bicara di depan umum, dan lebih sering mengamati daripada tampil. Namun ketika ia memasuki dunia organisasi, yaitu Himpunan Mahasiswa Psikologi, lalu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), hingga akhirnya dipercaya menjadi Ketua BEM UNESA, Arfi menyadari bahwa kepemimpinan bukan soal panggung, melainkan sebuah proses.
Ia memimpin transformasi organisasi dari model lama menuju sistem kerja berbasis proyek yang lebih adaptif, serta melahirkan “Diskusi Psikologi” (Dipsi), sebuah ruang ilmiah yang mempertemukan mahasiswa dengan jejaring akademik lintas kampus.
Semua perjalanan itu merapikan pemahamannya bahwa pemimpin bukan hanya soal yang paling tahu, tetapi yang paling mau tumbuh. Ketika Arfi tiba di Future Leaders Camp (FLC) 2025, ia merasakan sesuatu yang berbeda.
“Senang sekali bisa ketemu teman-teman yang punya semangat sama, punya cita-cita yang kemungkinan sama ingin jadi pemimpin di Indonesia,” katanya membuka cerita.
Ia merasa terhubung dengan mimpi dan idealisme peserta lain, namun yang paling membekas adalah materi para narasumber. Satu kutipan dari Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Fauzan, menjadi titik balik bahwa Kepemimpinan bukan tentang seberapa banyak kita dapat, tapi seberapa banyak kita memberi. Bagi Arfi, hal tersebut bukan sekadar teori. Kalimat Wamen Fauzan menjelaskan seluruh kebingungan yang selama ini ia rasakan tentang kepemimpinan, tentang tekanan, ekspektasi, kini telah tumbuh menjadi keinginan untuk memberi dampak.
“Pemimpin itu bukan tentang jabatan atau posisi, tapi tentang dampak dan aksi,” ungkapnya.
Materi dari Rizky Arief Dwi Prakoso, CEO & Founder HMNS, menyentuhnya di sisi personal. Ia merasa kisah itu seperti cermin atas proses hidupnya sendiri.
“Kak Rizky saja yang dulunya seperti itu bisa, kenapa aku nggak bisa,” ucapnya, dengan nada keharuan yang sulit disembunyikan.
Salah satu pengalaman yang paling ia sukai di FLC adalah pembuatan mini project.
“Seru banget. Kita dibuat untuk bikin kebijakan dan belajar mengkritik kebijakan berbasis data. Insightful sekali,” katanya antusias.
Bagi mahasiswa Psikologi seperti Arfi, pengalaman ini membuka dunia baru, bagaimana dunia kebijakan publik, dunia yang selama ini jauh dari darinya, justru merupakan penentu arah bangsa.
Di situ ia belajar bahwa kebijakan tidak boleh dibuat dari asumsi, tetapi harus lahir dari data, realitas lapangan, dan empati terhadap manusia yang terdampak.
“Karena aku menjabat sebagai Ketua BEM UNESA, jelas aku implementasikan di BEM sendiri. Mindset aku sudah berubah, cara memimpin juga berubah,” ujarnya.
Sebagai mahasiswa Psikologi, ia ingin membawa ilmu kepemimpinan berbasis psikologi kepada teman-teman kampusnya.
“Kayaknya belum banyak mahasiswa psikologi yang tahu sisi kepemimpinan dari perspektif psikologi. Aku pengen banget nyebarin ini ke teman-teman,” ucapnya.
Ketika tentang masa depannya, ia mengangkat satu gagasan: pemimpin harus manusiawi.
“Psikologi itu ilmu tentang manusia. Kalau mahasiswa psikologi jadi pemimpin, mereka harus lebih berperasaan dan berperikemanusiaan. Itu yang dibutuhkan negara ini,” ungkapnya.
Ia juga berharap jejaring FLC tetap hidup dan menjadi ruang kolaborasi lintas daerah.
“Harapanku kami bisa bikin proyek bareng, komunitas bareng, dan berdampak ke masyarakat.” tuturnya.
Apa yang dibawa Arfi dari FLC bukan hanya teori, tapi kesadaran yang lebih dalam, bahwa pemimpin yang baik harus mampu memfasilitasi pertumbuhan, menjaga makna, dan memastikan setiap orang merasa memiliki ruang.
Baginya, dampak terbaik selalu lahir dari kolaborasi, semangat Diktisaintek Berdampak, ternyata telah tumbuh jauh sekali dalam dirinya.
Dari Jombang, hingga ruang diskusi FLC, Arfi membawa keyakinan bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin yang mahir membaca data, tetapi juga mahir membaca perasaan manusia.
Pemimpin yang tidak hanya mengelola organisasi, namun juga menumbuhkan orang-orang di dalamnya. Pemimpin yang tidak hanya berbicara tentang negara, tetapi mendengarkan rakyatnya.
Dan Arfi, dengan pengalaman psikologi, organisasi, advokasi, dan dialognya, sedang menuju ke sana. Pelan, konsisten, dan dengan hati yang terlatih untuk memahami manusia.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif





