UNDIP, Jepara (3/9) – Di tengah karakter lahan pesisir yang tidak selalu mudah untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian, Badan Pengelola Kampus Jepara (BPKJ) Universitas Diponegoro (UNDIP) mulai menghadirkan inovasi baru melalui budidaya nanas madu. Sebanyak 5.000 bibit nanas madu ditanam di kawasan BPKJ UNDIP Teluk Awur, Jepara, sebagai bagian dari upaya optimalisasi lahan kampus menjadi kawasan yang produktif dan bernilai tambah.
Pemanfaatan lahan menjadi salah satu perhatian BPKJ dalam upaya mengembangkan kawasan Kampus UNDIP Teluk Awur. Tidak hanya difungsikan sebagai ruang pendukung kegiatan akademik dan operasional kampus, sebagian lahan juga diarahkan untuk kegiatan produktif yang dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang, salah satunya melalui pengembangan tanaman nanas madu.
Menantang Karakter Lahan Pesisir
Pengembangan kebun nanas di BPKJ memiliki tantangan tersendiri. Lokasi kampus yang berada tidak jauh dari pesisir membuat karakter tanah di sejumlah area cukup berkarang dan memiliki batuan yang perlu ditangani sebelum digunakan sebagai lahan budidaya.
Kondisi tersebut tidak menjadi penghalang. Justru, karakter lahan tersebut menjadi tantangan yang mendorong BPKJ untuk melakukan penataan dan pengelolaan lahan secara lebih optimal.
Lahan dipersiapkan dengan membuat galengan yang digunakan untuk membantu pengaturan tanaman, pemeliharaan, serta akses selama proses budidaya.
Pola penanaman yang diterapkan menggunakan dua baris tanaman pada setiap galengan. Jarak antartanaman dalam satu baris sekitar 60 cm, sementara jarak antara dua baris sekitar 50 cm. Antargalengan diberikan ruang sekitar 1 meter yang berfungsi sebagai akses pemeliharaan.
Dengan pola tersebut, tanaman diharapkan dapat tumbuh dengan lebih teratur sehingga kegiatan pemeliharaan, pemupukan, pengendalian gulma hingga pemanenan dapat dilakukan dengan lebih mudah.
Pendekatan ini menjadi contoh bahwa pemanfaatan lahan tidak selalu harus dimulai dari kondisi tanah yang sempurna. Dengan perencanaan dan pengelolaan yang tepat, lahan yang sebelumnya memiliki keterbatasan tetap dapat dikembangkan menjadi kawasan produktif.
Bukan Sekadar Menanam
Bagi BPKJ, kegiatan ini tidak berhenti pada aktivitas menanam bibit. Budidaya nanas madu menjadi bagian dari upaya membangun kawasan produktif di lingkungan kampus. Setiap tahapan, mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemupukan, pengendalian gulma dan hama, hingga panen, menjadi rangkaian proses yang membutuhkan pengelolaan secara konsisten.
Ke depan, kawasan ini juga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai sarana pembelajaran lapangan. Mahasiswa maupun pihak yang berkepentingan dapat melihat secara langsung bagaimana sebuah lahan dengan karakter pesisir dikelola menjadi area budidaya hortikultura.
Dengan demikian, kebun nanas dapat memiliki beberapa fungsi sekaligus: produksi, pembelajaran, penelitian, penghijauan, dan optimalisasi aset lahan kampus.
Menuju Kebun Nanas Produktif
Penanaman nanas merupakan proses jangka menengah yang membutuhkan pemeliharaan secara konsisten. Setelah penanaman, tanaman akan dipantau secara berkala, mulai dari pertumbuhan daun, kondisi tanah, kebutuhan air, gulma, hama dan penyakit, hingga perkembangan tanaman menjelang pembentukan buah.
Setiap tanaman memiliki perjalanan panjang sebelum akhirnya menghasilkan buah.
Nantinya, ketika buah-buah nanas madu mulai memenuhi kawasan tersebut, yang terlihat bukan hanya deretan tanaman, tetapi sebuah bukti bahwa lahan pesisir yang sebelumnya memiliki tantangan dapat diolah menjadi kawasan yang produktif.
Dari Kampus untuk Ketahanan Pangan
Pengembangan tanaman nanas menjadi salah satu contoh bagaimana lingkungan kampus dapat dimanfaatkan tidak hanya sebagai tempat kegiatan akademik, tetapi juga sebagai ruang untuk mengembangkan kegiatan produktif.
Melalui optimalisasi lahan, BPKJ UNDIP berupaya membangun lingkungan kampus yang memiliki nilai tambah, baik dari sisi ekonomi, lingkungan, pendidikan maupun sosial.
Ke depan, pengembangan kebun nanas ini diharapkan dapat menjadi salah satu bagian dari kawasan pertanian produktif BPKJ UNDIP yang terintegrasi dengan berbagai kegiatan budidaya lainnya.
Dari lahan kampus, BPKJ ingin menghadirkan lebih dari sekadar tanaman. Ada proses pembelajaran, produktivitas, inovasi, dan manfaat yang dapat terus dikembangkan. Menanam hari ini, memanen manfaat di masa depan. (Komunikasi Publik/UNDIP)








