Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman menjadi narasumber dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD): Transisi Penggunaan Kompor LPG ke Kompor Listrik untuk Menjaga Ketahanan Energi Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) di Gedung Danareksa, Jakarta pada Jumat (12/12).
Forum ini menjadi langkah penting untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam membahas kesiapan transisi kompor LPG menuju kompor listrik di Indonesia. Melalui diskusi lintas instansi ini, forum ini berupaya mengumpulkan pandangan dan data dari pihak pemerintah, akademisi, hingga pelaku industri agar strategi transisi ke kompor listrik dapat dirumuskan secara lebih matang dan selaras dengan kebutuhan dan keandalan listrik nasional.
Dalam paparannya, Dirjen Fauzan menyampaikan bahwa perguruan tinggi memegang peran strategis dalam menghasilkan riset yang dapat memperkuat pengambilan kebijakan nasional.
“Yang ingin kami kedepankan adalah bagaimana riset dan kajian di kampus dapat menjadi dasar science-based policy. Ini penting untuk membantu Indonesia mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% seperti arahan dari Presiden Prabowo,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa penyelesaian berbagai persoalan strategis harus dilakukan berbasis kepakaran, dengan kolaborasi yang lebih luas bersama industri. Menurutnya, transisi kompor listrik bukan sekadar pergantian alat memasak, tetapi bagian dari upaya besar dalam menggeser penggunaan energi menuju bauran yang lebih bersih, yang saat ini baru mencapai 14% dari target 23%.
Untuk memastikan transformasi berjalan efektif, Dirjen Fauzan menekankan empat strategi utama: pertama, penguatan sumber daya manusia di perguruan tinggi dan instansi terkait; kedua, membangun jembatan sosial agar masyarakat memahami manfaat peralihan energi; ketiga, menciptakan narasi yang tepat sehingga rekomendasi kebijakan dapat diterima publik; dan keempat adalah aksi solutif yang harus segera dilakukan mengingat urgensi transisi energi bagi Indonesia.
Pandangan Transisi Kompor Listrik: Aspek Kebijakan, Teknis, dan Sosial
FGD ini dipimpin oleh Prof. Tumiran dari UGM, yang menyoroti pentingnya menjadikan transisi ke kompor listrik sebagai bagian dari upaya jangka panjang menuju sistem energi yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Ia menunjukkan bahwa pengalaman negara lain seperti Malaysia dan Singapura menunjukkan perlunya perencanaan komprehensif yang mencakup aspek teknologi, regulasi, ekonomi, dan kesiapan sosial.
Ia juga menambahkan bahwa dukungan kebijakan (political will) menjadi faktor kunci untuk memastikan langkah transisi dapat berjalan konsisten dan memberi dampak positif berupa efisiensi energi, penguatan industri dalam negeri, dan peningkatan kebutuhan listrik yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dari aspek teknis, Prof. Sarjiya dari UGM memaparkan besarnya potensi konversi kompor LPG ke kompor listrik, namun perlunya mempertimbangkan kesiapan jaringan listrik, keamanan instalasi, serta kenyamanan pengguna rumah tangga.
Ia menekankan bahwa transisi hanya dapat berjalan baik jika masyarakat merasa aman dan nyaman menggunakannya, didukung oleh desain produk yang tepat serta kesiapan industri dalam negeri. Karena itu, diperlukan komunikasi publik yang efektif agar manfaat peralihan dapat dipahami dan diterima tanpa hambatan.
Sementara itu, dari perspektif sosial, Derajad Sulistyo Widhyharto dari UGM memaparkan bagaimana persepsi masyarakat terhadap kompor listrik dipengaruhi oleh faktor budaya, kebiasaan memasak, serta keyakinan terhadap keandalan pasokan listrik.
Menurutnya, tiga pendorong utama menjadi kunci antara lain: stabilitas infrastruktur, dukungan kebijakan dan program pemerintah, serta komunikasi publik yang efektif dan dua arah. Ia juga menyoroti bahwa kelompok masyarakat berbeda, termasuk perempuan dan generasi muda menunjukkan tingkat penerimaan yang bervariasi, sehingga strategi sosialisasi perlu disesuaikan dengan segmentasi sosial.
Melalui FGD ini, Kemdiktisaintek melihat bahwa kolaborasi akademisi, pemerintah, dan industri menjadi kunci dalam menyusun langkah strategis transisi kompor listrik. Kajian yang disampaikan oleh UGM diharapkan memperkaya pemahaman lintas aspek (kebijakan, teknis, sosial) sehingga rekomendasi yang dihasilkan dapat diterapkan secara bertahap, terukur, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi pembangunan nasional.






