Mengangkat Martabat Pangan Lokal: Inovasi Dosen Unmus Bantu UMKM Sagu Sep di Merauke

Kabar

12 December 2025 | 07.30 WIB

Mengangkat Martabat Pangan Lokal: Inovasi Dosen Unmus Bantu UMKM Sagu Sep di Merauke

Merauke–Di tanah luas di ujung timur Indonesia, hidup sebuah pangan lokal yang menjadi identitas masyarakat Marind, yaitu Sagu Sep. Makanan berbahan dasar sagu, kelapa, dan daging ini biasanya hadir dalam ritual adat, dipanggang di atas batu “bumi” dari bekas musamus (rumah semut) yang mengeras. Namun beberapa tahun terakhir, makanan ini kian jarang ditemui. Minat generasi muda menurun, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) hanya segelintir, dan umur simpan yang hanya satu hingga dua hari membuatnya sulit dijangkau pasar lebih luas.

Salah satu yang masih bertahan adalah UMKM “Mama Juan” milik Maria Magdalena, yang sehari-hari membuat Sagu Sep dalam jumlah kecil untuk dijual di kegiatan-kegiatan daerah. Menurut Maria, kesulitan dalam menjual usaha Sagu Sep adalah masa simpan produk yang sangat singkat, proses pembuatan yang masih rumit dan konvensional, serta pemanfaatan teknologi digital dalam pemasaran.

Dosen Manajemen Universitas Musamus (Unmus) Merauke, Dodhy Hyronimus A. Longgy terdorong untuk memilih fokus pada riset dan pengabdian UMKM Sagu Sep saat mendapat kesempatan untuk menerima dana hibah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BIMA). Keinginan ini berawal dari kontribusinya dalam pembuatan film dokumenter mengenai Sagu Sep. 

“Mama Juan menceritakan bahwa umur simpan produknya sangat rendah, hanya satu hingga dua hari. Jadi sulit untuk didistribusikan dengan optimal. Berkat diskusi bersama tim, kami akhirnya merumuskan inovasi Frozen Sagu Sep yang kami buat dalam bentuk vacuum sealing dan kami distribusikan ke pasar yang lebih jauh,” jelas Dodhy.

Dodhy dan tim mengambil inspirasi dari produk makanan khas Yogyakarta yang diolah menjadi lebih modern dan tahan lama, sehingga dapat meraih target pasar yang lebih luas. Pendekatan ini muncul setelah serangkaian eksperimen cara masak agar inovasi tetap memiliki cita rasa yang sama dengan Sagu Sep yang dimasak dengan cara tradisional.

Melalui hibah BIMA, Dodhy menyediakan freezer, oven, hingga mesin pemarut kelapa otomatis  Produk ini kini dapat bertahan 7–8 hari, memungkinkan distribusi ke luar Merauke. Tim juga membekali Mama Juan dengan pelatihan pemasaran digital, pencatatan keuangan sederhana, penggunaan QRIS, hingga pembuatan logo dan kemasan baru. Berkat kemasan baru, Mama Juan kini sudah masuk dua toko oleh-oleh di Merauke, dan mulai menjual secara daring.

“Kebanyakan kita menjual, dapat uang, dan langsung habis untuk belanja sehari-hari. Setelah pelatihan, saya jadi tahu cara mengatur uang dan pemasaran,” kata Maria.

Maria pun menekankan bahwa para pegiat UMKM di Papua, perlu meningkatkan kepercayaan diri agar terus maju dan bersaing dalam bisnis pangan lokal. Keterbukaannya dalam bekerja sama dengan tim riset dan pengabdian Dodhy membuktikan pola pikir tersebut.

“Kita sering malu bersaing. Takut tidak laku, takut orang tidak suka. Tapi, itu hanya momok yang menghambat kita untuk maju. Kita harus percaya diri, tapi juga harus mau belajar dan terima pendapat orang,” tegas Maria.

Rektor Unmus, Daud A. Pasalli menegaskan pentingnya kehadiran dosen-dosen berdampak seperti Dodhy, terutama di bagian timur Indonesia. Ia menekankan bahwa sivitas akademika 

“Kami sangat berbahagia bisa memberi dampak signifikan bagi masyarakat di selatan Papua,” kata Rektor Unmus.

Kunjungan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie juga menjadi dukungan bagi riset ini. Mengapresiasi usaha Dodhy dan Maria dalam melestarikan kearifan lokal, Wamen Stella menegaskan bahwa riset dan saintek terkait langsung dengan pertumbuhan ekonomi. 

“Di mana pun saya pergi, saya melihat riset unggulan dari kampus yang membangun ekonomi daerah. Hari ini pun demikian, riset Pak Dodhy membawa pertumbuhan ekonomi bagi UMKM dan kearifan pangan,” ujar Wamen Stella.

Dalam sambutannya, Wamen Stella juga bahwa Kemdiktisaintek terus berkomitmen dalam memperkuat ekosistem riset dosen, mulai dari peningkatan anggaran penelitian, penyederhanaan administrasi, hingga insentif riset yang langsung diterima dosen. Usaha-usaha ini dilakukan dengan semangat bahwa riset dan pengabdian harus berdampak pada masyarakat.

Program yang dilaksanakan Dodhy menjadi bukti prinsip tersebut. Dengan membuat suatu inovasi sederhana, seorang dosen dapat menguatkan budaya, membuka akses ekonomi, dan memberi ruang bangga bagi masyarakat Merauke.

Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif


/

5

Ulas Sekarang