Menembus Akses Terputus: Mapala Leuser USK Jadi Tim Pertama Pembawa Bantuan ke Desa Bergang

Kabar

05 December 2025 | 19.00 WIB

Menembus Akses Terputus: Mapala Leuser USK Jadi Tim Pertama Pembawa Bantuan ke Desa Bergang


Aceh Tengah-Beberapa Kecamatan di Aceh Tengah masih terisolasi, bantuan hanya bisa disuplai lewat udara dan sungai. Warga di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, tujuh hari terisolasi akibat banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah tersebut pada 26 November 2025. Akses jalan yang putus total, membuat pasokan makanan tidak dapat masuk ke desa terdampak.


Bersama masyarakat, relawan mulai melakukan proses evakuasi terhadap warga dari Desa Bergang, Karang Ampar, dan Pantan Reuduek (Pueting). Ketiga desa tersebut merupakan kawasan paling terdampak dan sulit tersentuh bantuan logistik memadai. Akses menuju desa-desa tersebut benar-benar lumpuh akibat tumpukan material longsor, batu-batu besar, serta batang kayu yang memenuhi badan jalan. Tercatat sedikitnya ada 14 titik longsor yang membuat kendaraan apa pun tidak dapat melintas.


Di ujung tebing di mana akses terputus dan tanah longsor menimpa, ratusan warga berharap pada deru baling-baling helikopter yang kerap melintas namun sulit mendarat.  Di tengah keputusasaan itu, harapan justru datang dari langkah kaki tim relawan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Leuser Universitas Syiah Kuala (USK), bersama warga setempat. Mereka  menempuh perjalanan darat ekstrem selama enam jam, hingga berhasil menyalurkan bantuan logistik ke Desa Bergang, (04/12).


​Perjuangan menembus isolasi ini bukanlah kisah biasa. Salah seorang relawan Mapala Leuser USK, Muslim Ruhdi menuturkan untuk mencapai Desa Bergang dari Posko Tepin Mane, sang relawan harus bertaruh nyawa melewati rintangan yang nyaris mustahil. Dimulai dengan menyeberangi sungai deras menggunakan sling darurat, hingga akhirnya berjalan kaki membelah hutan.


"Saya bersama Pak Dusun Julfikar, serta tujuh warga Bergang, berangkat dari Blang Rakal menuju KM 60. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalur hutan, tebing rawan longsor, hingga jembatan darurat yang dibangun dari tiang listrik yang tumbang," ungkapnya.


Evakuasi dalam Kondisi Ekstrem


​Jalanan aspal telah hilang, berganti dengan jembatan yang putus total dan beberapa titik longsor yang menganga. Muslim mengatakan bahwa jarak puluhan kilometer itu harus ditempuh dengan berjalan kaki, memakan waktu berjam-jam dalam kelelahan.


​Sesampainya di jembatan gantung Desa Bergang satu-satunya akses yang tersisa namun kondisinya kian rapuh kisah penyelamatan pun dimulai. Dengan hanya bermodalkan sit harness (tali pengaman panjat tebing), tim relawan mulai mengevakuasi warga yang paling rentan.


​Pemandangan  begitu mencekam namun haru: seorang tuna netra yang hanya memiliki satu tangan, dituntun perlahan meniti jembatan gantung di atas arus sungai yang liar. Di belakangnya, ibu-ibu hamil yang napasnya tertahan karena cemas, serta lansia berusia senja dan balita-balita mungil, satu per satu ditarik keluar dari wilayah terisolasi menuju tempat yang lebih aman di Lampahan. 


​Sementara evakuasi berlangsung, kondisi di dalam Desa Bergang, Karang Ampar, dan Pantan Reduk semakin mendesak. Ratusan jiwa, termasuk puluhan bayi dan lansia, bertahan dalam keterbatasan makanan dan obat-obatan.


Persediaan beras menipis, beberapa keluarga terpaksa bertahan hidup hanya dengan memakan pisang dan ubi. Solidaritas warga menjadi satu-satunya penyambung hidup, di mana mereka yang masih memiliki sedikit beras berbagi dengan tetangga yang kelaparan.


​Ironi semakin nyata ketika tenaga kesehatan setempat tiga bidan dan satu perawat kehabisan stok obat-obatan telah habis total. Padahal, ada warga yang sakit parah, belasan ibu hamil yang menanti kelahiran, dan duka mendalam akibat korban jiwa yang telah jatuh sebelumnya. Belasan rumah pun telah lenyap disapu alur sungai, menyisakan trauma mendalam.


​Setelah berhari-hari menanti tanpa kepastian, tangis haru akhirnya pecah. Bantuan logistik yang dibawa oleh tim Mapala Leuser berhasil menembus timbunan bencana longsor. Ini adalah bantuan pertama dan satu-satunya yang menyentuh tanah Bergang sejak bencana terjadi.


​Prosesnya pun tak kalah heroik. Relawan dan warga harus berjalan kaki selama enam jam, memanggul beban logistik di punggung, menembus hujan deras dan kegelapan malam, bahkan terpaksa bermalam di perjalanan karena lokasi yang yang terlalu berbahaya untuk ditempuh saat gelap.


Bagi masyarakat, pecinta alam mungkin identik dengan pendakian gunung. Namun, di Desa Bergang, Mapala Leuser USK hadir sebagai satuan penyelamat taktis. Dengan bekal kemampuan mountaineering, navigasi darat, dan manajemen SAR, mereka mampu menembus jalur ekstrem yang hampir mustahil dilewati.


Meski menghadapi medan berat dan risiko tinggi, tim akhirnya tiba di Bergang dan berhasil menyerahkan bantuan kepada warga. Kedatangan logistik ini bukan sekadar tentang makanan, melainkan tentang harapan. Ia menjadi bukti bahwa semua pihak secara terpadu berupaya membantu korban bencana. 


Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong langkah cepat berbagai kampus, baik yang berada di wilayah terdampak maupun di luar daerah, dalam memberikan bantuan kesehatan, logistik, layanan darurat, hingga dukungan psikososial.


Kemdiktisaintek menegaskan bahwa kontribusi aktif perguruan tinggi menjadi fondasi penting dalam mempercepat pemulihan masyarakat terdampak bencana, sekaligus wujud nyata arah kebijakan Diktisaintek Berdampak di seluruh Indonesia.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak

#Kampustransformatif


/

5

Ulas Sekarang