Mendiktisaintek Paparkan Solusi Penanganan Sampah Nasional Berbasis Sains dan Teknologi

Kabar

29 April 2026 | 18.30 WIB

Mendiktisaintek Paparkan Solusi Penanganan Sampah Nasional Berbasis Sains dan Teknologi

Bogor–Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menekankan pentingnya sinergi lintas sektor, dalam menjalankan program nasional melalui pendekatan berbasis sains dan teknologi, khususnya dalam penanganan sampah. Hal ini disampaikan saat menjadi narasumber dalam Apel Komandan Satuan (AKS) Tentara Nasional Indonesia (TNI) Tahun 2026, yang digelar di Universitas Pertahanan (Unhan) Indonesia, Rabu (29/4).

Mendiktisaintek menegaskan bahwa isu kebersihan dan pengelolaan sampah bukan sekadar persoalan teknis, melainkan berkaitan langsung dengan martabat dan daya saing bangsa. 

“Kehebatan dan kekayaan alam kita akan tertutupi jika kita gagal mengelola sampah dengan baik. Sebagaimana kita pahami bersama, Presiden Republik Indonesia (RI) memberikan arahan bagaimana seluruh elemen masyarakat harus memiliki peran serta untuk menyelesaikan permasalahan sampah,” jelas Menteri Brian.

Mendiktisaintek juga menyorot bahwa tantangan besar pengelolaan sampah di Indonesia membutuhkan pendekatan sistemik yang mencakup tata kelola, pemanfaatan teknologi, serta transformasi sosial. Berdasarkan data yang dipaparkan, volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang mencapai sekitar 8.000 ton per hari, dengan total akumulasi mencapai puluhan juta ton. Kondisi ini menunjukkan urgensi perubahan paradigma pengelolaan sampah dari sekadar pembuangan menjadi pengolahan yang terintegrasi.

Dalam paparannya, Menteri Brian menjelaskan bahwa kunci utama efektivitas pengolahan sampah terletak pada pemilahan sejak sumber. Sampah perlu dipisahkan menjadi tiga kategori utama, yaitu organik, non-organik yang dapat didaur ulang, dan residu. Tanpa pemilahan yang tepat, berbagai teknologi pengolahan seperti pirolisis, gasifikasi, maupun refuse-derived fuel (RDF) tidak akan berjalan optimal.

Sebagai bagian dari solusi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama perguruan tinggi tengah mengembangkan berbagai pendekatan inovatif, termasuk pemanfaatan teknologi pengolahan sampah organik seperti black soldier fly (BSF) serta pengembangan konsep landfill mining untuk mengurangi timbunan sampah lama. Selain itu, terdapat pula gagasan transformasi TPA menjadi ruang terbuka hijau atau taman nasional setelah melalui proses pengolahan yang memadai.

Untuk mengimplementasikan pengolahan sampah lintas sektor, TNI didorong untuk menjadi pelopor dalam implementasi model percontohan pengelolaan sampah berbasis kawasan. Kolaborasi ini dinilai mampu menghasilkan inovasi strategis yang berdampak pada pembangunan nasional secara luas.

“Barangkali akan sangat baik dan bisa menjadi percontohan jika di setiap satuan bisa melakukan uji coba. Tidak perlu besar, tetapi jika setiap kesatuan mampu menyelesaikan sampahnya sendiri, ini akan memberikan dampak yang sangat signifikan,” ujar Menteri Brian.

Melalui forum ini, diharapkan terbangun kolaborasi yang lebih kuat secara lintas sektor  dalam menciptakan solusi inovatif yang berkelanjutan. Pendekatan berbasis sains dan teknologi diharapkan dapat menjadi fondasi dalam mewujudkan Indonesia yang lebih maju, bersih, dan berdaya saing global.

Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak

#Kampustransformatif



/

5

Ulas Sekarang