Yogyakarta-Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Prof. Brian Yuliarto menekankan pentingnya kualitas pendidikan kedokteran untuk menghasilkan dokter yang berkualitas untuk penguatan pelayanan kesehatan di Indonesia. Hal ini disampaikan dalam acara peresmian 24 Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) seluruh Indonesia di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang merupakan bagian dari capaian program akselerasi PPDS yang diamanahkan Presiden RI, Jumat (13/2).
Pembukaan prodi PPDS perdana di PTMA ini berhasil dicapai oleh 7 PTMA, yaitu: Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan 12 program, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) tiga program, dan Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) empat program. Selain itu, Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), Univeristas Muhammadiyah Surakarta (UMS), serta Universitas Muhammadiyah Surabaya masing-masing membuka satu program, dan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) membuka dua program spesialis.
Mendiktisaintek menekankan pentingnya menjaga orientasi utama pendidikan PPDS sebagai ladang pengabdian untuk menghasilkan dokter yang berkualitas dan memberikan manfaat yang luas kepada masyarakat, bukan sebagai ruang komersialisasi.
“Kualitas harus dipertahankan dan ditingkatkan, jangan menjadikan pendidikan PPDS ini komersialisasi”, tegas Menteri Brian.
Menyoroti fenomena banyaknya warga negara Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri. Dengan total belanja kesehatan mencapai Rp160 triliun yang mengalir ke luar negeri setiap tahunnya, Mendiktisaintek berharap Rumah Sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah (RSMA) dapat mengembangkan pusat unggulan (center of excellence) secara bertahap dan terfokus, sehingga mampu menjadi rujukan pasien dalam dan luar negeri. Hal ini dapat diwujudkan melalui ekosistem kesehatan Muhammadiyah yang menyinergikan PTMA dan RSMA sesuai strategi Sistem Kesehatan Akademik.
“Kita perlu menunjukkan bahwa kampus dan rumah sakit kita memiliki kualitas layanan berkelas internasional. Bukan orang Indonesia yang berobat ke luar negeri, tetapi pasien luar negeri yang datang ke rumah sakit kita”, ujar Menteri Brian.
Selain aspek pendidikan, Menteri Brian juga menyoroti peran strategis institusi pendidikan kesehatan dalam menjaga stabilitas nasional. Beliau berharap kualitas layanan kesehatan di dalam negeri dapat terus meningkat sehingga ketergantungan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan di luar negeri dapat ditekan. Langkah ini sejalan dengan visi pemerintah untuk melakukan transformasi kesehatan yang mandiri. Dengan memperkuat kualitas SDM kesehatan dari hulu (pendidikan) sekaligus memperkokoh sistem ketahanan kesehatan nasional dalam jangka panjang.
Dalam kesempatan yang sama, Brian juga mengapresiasi kiprah dr. Corona Rintawan sebagai salah satu penggagas Emergency Medical Team Indonesia yang berhasil menjadi Tim Medis Darurat Muhamadiyah yang terverifikasi WHO pertama di Indonesia pada 19 Oktober 2025. Sosok-sosok dengan semangat pengabdian seperti itu, menurutnya, menjadi inspirasi bagi pengembangan pendidikan kedokteran di PTMA.
“Kita butuh orang-orang yang memiliki keinginan kuat untuk memajukan dunia kedokteran dan mengabdi kepada bangsa dan negara,” ujarnya.
Peluncuran 24 PPDS ini diharapkan menjadi langkah awal bagi PTMA dan RSMA untuk melahirkan dokter-dokter spesialis yang tidak hanya unggul secara kompetensi, tetapi juga memiliki integritas, empati, dan semangat ibadah dalam profesinya.
“Jadikan PPDS ini ladang amal usaha kita. Semoga langkah ini menjadi awal lahirnya dokter-dokter hebat yang penuh dedikasi dan memiliki hati yang lembut dalam mengabdi kepada masyarakat dan bangsa,” pungkas Brian.
Ke depan, Kemdiktisaintek berkomitmen untuk terus mendukung perguruan tinggi dalam mengembangkan inovasi medis dan metode pembelajaran transformatif yang mengedepankan etika profesional. Partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan diharapkan mampu mewujudkan Indonesia Sehat sebagai pusat keunggulan medis yang diakui secara internasional.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif





