Bandung-Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) sekaligus Ketua Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto menghadiri dan menjadi pembicara utama dalam Seminar Nasional Logam Tanah Jarang (LTJ) yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung (IAGL ITB), Sabtu (1/11).
Seminar bertema “Logam Tanah Jarang: Pilar Strategis Indonesia dalam Transisi Energi dan Kemandirian Teknologi” ini mempertemukan unsur akademisi, industri, dan pemerintah untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi nasional berbasis sumber daya mineral strategis.
Turut hadir Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, para akademisi, praktisi industri, serta ratusan peserta dari kalangan mahasiswa dan profesional bidang geosains.
Mendiktisaintek: Kedaulatan Teknologi Dimulai dari Penguasaan Material Strategis
Dalam paparannya, Menteri Brian menegaskan bahwa penguasaan logam tanah jarang (LTJ) merupakan langkah penting menuju kemandirian teknologi nasional. Keberhasilan ekonomi suatu bangsa tidak ditentukan oleh kekayaan alam semata, tetapi oleh kemampuan menguasai dan mengolah teknologi berbasis riset.
“Kita harus punya strategi, rare earth (logam tanah jarang) kuncinya adalah dari kemampuan kita menguasai teknologi, dan membangun industri,” ujar Menteri Brian.
Mendiktisaintek juga menekankan pentingnya belajar dari negara lain seperti Jepang, Korea, dan Tiongkok yang berhasil tinggal landas karena riset dan teknologi pengolahan mineral strategis.
Penguasaan teknologi nasional menjadi satu-satunya cara agar Indonesia tidak kembali mengulang sejarah ketika sumber daya alam diekspor murah namun diimpor kembali dalam bentuk barang jadi bernilai tinggi.
Sementara itu, Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara juga menegaskan bahwa ITB berkomitmen menjadi pusat kolaborasi lintas disiplin dalam pengembangan riset logam tanah jarang dan mineral strategis nasional.
Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus menjadi dasar pengelolaan sumber daya alam Indonesia. Melalui sinergi antar fakultas, pusat riset, dan dunia industri, ITB siap memperkuat kontribusi akademik dari hulu hingga hilir.
Ketua Ikatan Alumni Teknik Geologi ITB, Abdul Bari menyebut bahwa logam tanah jarang adalah “emas hijau abad ini” yang akan menjadi pilar kedaulatan energi dan teknologi Indonesia.
Dalam sambutannya, Abdul Bari menekankan bahwa peran para geolog dan akademisi tidak berhenti pada eksplorasi sumber daya, melainkan harus berlanjut pada hilirisasi dan pengembangan industri berbasis mineral strategis. Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara alumni, kampus, dan pemerintah dalam memperkuat riset serta membuka peluang pengolahan berkelanjutan.
Sebagai bentuk kontribusi nyata, Ikatan Alumni Teknik Geologi ITB menyerahkan donasi untuk pembangunan Laboratorium Geologi Tata Lingkungan di ITB, yang diharapkan menjadi sarana penelitian multidisiplin di bidang lingkungan dan eksplorasi sumber daya berkelanjutan.
Kemdiktisaintek Berdampak: Inovasi untuk Kedaulatan dan Daya Saing
Kehadiran Mendiktisaintek di forum ini, lanjutnya, menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah dan kampus dalam memperkuat fondasi riset nasional.
Kemdiktisaintek berperan aktif mempertemukan kekuatan akademisi, industri, dan pemerintah guna mempercepat penguasaan teknologi, memperluas hilirisasi industri, serta memperkuat riset nasional yang berorientasi pada kemandirian bangsa.
Sinergi tersebut menjadi fondasi penting untuk memastikan bahwa ilmu pengetahuan dan inovasi memberikan manfaat nyata bagi pembangunan berkelanjutan, kemandirian teknologi, dan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif





