Jakarta–Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto mendorong Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH) untuk memperkuat budaya riset sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem ilmu pengetahuan dan teknologi nasional yang lebih kuat. Hal tersebut disampaikan dalam Forum Dialog Strategis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)-Majelis Senat Akademik (MSA) PTN BH di Gedung Widya Graha BRIN, Selasa (29/9).
Mendiktisaintek menekankan bahwa PTN BH perlu menempatkan riset sebagai bagian penting dari pengembangan perguruan tinggi. Menurutnya, penguatan tersebut antara lain dapat dilakukan dengan memperbanyak mahasiswa pascasarjana, memperkuat laboratorium, serta membangun manajemen riset yang optimal bagi dosen dan peneliti.
“Presiden Republik Indonesia berkata bahwa kampus adalah otak dari bangsa kita. Dan mahasiswa pascasarjana adalah aset terbaik untuk riset kita. Saya berharap kampus-kampus bisa terus mengembangkan jumlah mahasiswa pascasarjana, di sanalah riset akan menjadi kuat,” ujar Menteri Brian.
Mendiktisaintek mengatakan penguatan budaya riset juga perlu disertai dengan tata kelola penelitian yang lebih baik. PTN BH juga didorong untuk memperluas kolaborasi dengan BRIN dan industri. Hasil penelitian dan inovasi diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut melalui kemitraan strategis dengan industri.
Kolaborasi BRIN dan perguruan tinggi sendiri telah berjalan melalui sejumlah program pengembangan talenta. BRIN saat ini bekerja sama dengan 14 PTNBH melalui program pendidikan berbasis riset dengan lebih dari 2.300 mahasiswa, di mana sekitar 60% di antaranya merupakan mahasiswa S3. 1.150 peserta berasal dari kalangan dosen perguruan tinggi. BRIN juga mencatat lebih dari 630 peserta dalam program riset postdoctoral.
Kepala BRIN, Arif Satria menyampaikan bahwa penguatan riset dan inovasi perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi peningkatan daya saing nasional. Ia menyoroti keterkaitan antara kapasitas inovasi, kualitas sumber daya manusia, pendidikan tinggi, produktivitas, dan perkembangan ekonomi.
“Sumber daya manusia dan inovasi adalah kunci bagi kemajuan ekonomi semua negara. Perguruan tinggi yang masuk Top 200 dunia, hampir dipastikan memiliki Global Score Innovation Index, GDP per kapita, dan indeks PISA yang tinggi. Oleh karena itu, indikator yang saya kira sangat penting untuk diperkuat adalah sumber daya manusia dan pendidikan tinggi. Keduanya akan memperkuat inovasi dan riset,” jelas Kepala BRIN.
Forum ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Sidang Paripurna MSA PTN BH dengan jumlah delegasi sebanyak 174 peserta dari 23 PTN BH. Kegiatan ini dipandang sebagai wujud kesadaran bersama bahwa pembangunan ekosistem riset dan inovasi nasional membutuhkan sinergi yang lebih kuat antara BRIN dan perguruan tinggi, yang memiliki kapasitas akademik sumber daya manusia serta ekosistem riset yang sangat strategis.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem riset nasional yang menghubungkan kapasitas BRIN, perguruan tinggi, dan industri. Forum juga mendorong perluasan kolaborasi mencakup pengembangan talenta, mobilitas peneliti dan akademisi, pemanfaatan bersama infrastruktur riset, penguatan budaya dan etika akademik, serta pengembangan jejaring riset nasional dan global.
Sebagai tindak lanjut, kolaborasi konkret antara BRIN dan perguruan tinggi akan diperkuat melalui kerja sama dengan tujuh PTN BH serta 17 perguruan tinggi negeri dan swasta. Langkah tersebut diharapkan menjadi bagian dari penguatan ekosistem riset dan inovasi nasional yang lebih terintegrasi, berkelanjutan, dan berdampak bagi pembangunan.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak




