Membumikan Sains di Ujung Seram: Inspirasi Dosen dari Maluku, Bikin Teknologi Pengering Sagu

Kabar

22 October 2025 | 12.20 WIB

Membumikan Sains di Ujung Seram: Inspirasi Dosen dari Maluku, Bikin Teknologi Pengering Sagu

Maluku-Di pelosok Pulau Seram Bagian Timur, Maluku, tersembunyi Desa Anggar, sebuah wilayah kategori Terdepan, Terluar, Tertinggal (3T), yang memiliki tingkat kemiskinan tinggi. Di sinilah pohon sagu tumbuh subur, menjadi sumber mata pencaharian dan sandaran hidup masyarakat.

Namun, mengolah sagu di desa ini penuh tantangan. Proses tradisional, yang sebagian besar mengandalkan penjemuran di atas terpal langsung di tanah, membuat tepung sagu rentan terhadap kontaminasi dan sangat bergantung pada keberadaan sinar matahari.

Di tengah realitas ini, Griennasty Claudya Siahaya, dosen program studi kesehatan masyarakat Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) bersama tim memutuskan untuk melakukan pengabdian Program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) tahun anggaran 2024 yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) di Pulau Seram tepatnya di Desa Anggar, Kabupaten Seram Bagian Timur, Rabu (22/10).

“Kalau bukan kita yang turun bantu, siapa lagi?” Begitu kira-kira kalimat sederhana yang menjadi tungku pembakar semangat yang dipegang teguh Griennasty.

Kisah pengabdian ini bukan sekadar cerita sukses, melainkan sebuah realitas tentang bagaimana ilmu sederhana bisa berdampak, membawa perubahan besar.

Menembus Wilayah Terpencil untuk Pemberdayaan

Program Kosabangsa menempatkan prioritas pada pemberdayaan masyarakat di wilayah 3T dan terdampak kemiskinan ekstrem. Kabupaten Seram Bagian Timur sendiri masuk ke dalam kategori wilayah dengan kemiskinan ekstrem. Bersama timnya, Griennasty atau yang biasa disapa Bu Ge memilih Desa Anggar, Kecamatan Seram Bagian Timur, sebagai lokasi pengabdian.

“Sebelum mendapatkan Kosabangsa, kami harus site visit. Kami kaget karena baru pertama kali kesana dan memakan waktu hampir dua hari untuk ke wilayah itu,” ujar Griennasty.

Mitra yang mereka dampingi adalah kelompok Ratu Andan yang bergerak dalam bidang produksi sagu. Mitra Ratu Andan sendiri sudah cukup lama mengolah tepung sagu dimana pohon sagu sendiri menjadi sumber penghidupan utama masyarakat setempat.

Kelompok Ratu Andan dipilih setelah melalui perjalanan panjang pencarian mitra produktif yang bergerak pada bagian ekonomi serta masalah yang mereka hadapi, yaitu dalam proses pengeringan masih dilakukan secara konvensional, dijemur di atas tanah dengan terpal seadanya sehingga rentan terhadap kontaminasi dan tidak higienis.

Inovasi Teknologi Hybrid Tenaga Surya

Berangkat dari persoalan itu, ketika mendapatkan hibah dan setelah berkolaborasi dengan Universitas Pattimura, lahirlah inovasi sederhana tapi berdampak besar: “Kabinet Hybrid Kosabangsa”, alat pengering sagu bertenaga surya dan listrik.

“Masalah utama di sana adalah listrik. Hanya nyala dari jam enam sore sampai jam enam pagi. Jadi kami buat alat yang bisa menggunakan tenaga surya di siang hari,” tutur Grinasty.

Alat tersebut dirancang di bengkel lokal di Lateri dengan dukungan lintas disiplin, melibatkan bidang teknik pertanian dan instrumen. Dengan inovasi ini, masyarakat dapat mengeringkan sagu secara higienis, efisien, dan berkelanjutan tanpa bergantung penuh pada satu sumber pembangkit listrik.

Sajako: Produk Turunan Tepung Sagu

Tidak berhenti pada perbaikan proses produksi, Griennasty dan tim menciptakan produk turunan sagu untuk meningkatkan nilai jual.

“Selama ini ternyata belum pernah menciptakan produk turunan dari tepung sagu itu sendiri. Jadi mereka hanya mengeringkan tepung sagu, lalu dijual di desa sekitar,” jelas Griennasty.

Sajako merupakan akronim dari Sagu Jahe Kosabangsa, produk turunan tepung sagu berbentuk biskuit jahe. Produk tersebut sudah memiliki merek dan kemasan. Selain itu, tim juga mengajarkan diversifikasi produk lain seperti mie kering dan basah, serta kerupuk. 

“Tetapi pilihan kami kembalikan kepada mitra, mana yang mereka rasa gampang, mudah dan banyak dibeli, banyak diminati oleh konsumen. Dan pilihan itu jatuh pada biskuit dan juga kerupuk,” tutur Griennasty.

Terkait pemasaran, mitra Ratu Andan diberikan pelatihan dasar pemasaran digital melalui Facebook dan TikTok.

“Dalam melakukan penjualan lewat media online itu butuh kemampuan tertentu. Saya menyampaikan bahwa baiknya libatkan yang muda-muda, ada anak- anak yang masih SMA, itu baiknya dilibatkan,” jelasnya.

Kemandirian yang Terus Bertumbuh

Setelah program selesai, tim tidak serta-merta meninggalkan mitra. Griennasty dan rekan-rekannya terus menjalin komunikasi rutin dengan Ketua Ratu Andan, Ibu Ama, memastikan alat dan sistem produksi tetap berjalan.

“Puji Tuhan, sampai sekarang alatnya masih berfungsi baik. Mereka bahkan sudah bisa merawat sendiri, mengganti air aki, dan tetap produksi biskuit,” ungkapnya bangga.

Kehadiran teknologi sederhana ini membuat masyarakat lebih berdaya dan mampu meningkatkan pendapatan keluarga. Perubahan nyata tampak dari semangat masyarakat yang kini tidak hanya mengolah hasil alam, tetapi juga mengembangkan produk bernilai ekonomi tinggi.

Dari Dosen untuk Negeri: Ajak Akademisi Berdampak

Sebagai dosen, Griennasty menyadari masih sedikit tenaga pendidik di wilayah timur Indonesia yang terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat seperti Kosabangsa.

Ia kemudian menyerukan ajakan kepada para akademisi di wilayah timur, khususnya di Maluku, untuk memanfaatkan berbagai hibah dari Kemdiktisaintek.

“Banyak masyarakat di sekitar kita yang butuh sentuhan ilmu. Tidak perlu berpikir terlalu besar, mulailah dari hal kecil. Dari langkah kecil itu, dampaknya bisa sangat besar,” pesannya.

Baginya, ilmu pengetahuan seharusnya tidak berhenti di ruang kuliah atau jurnal ilmiah, tetapi bisa hidup di tengah masyarakat.

“Ilmu harus kita hidupkan lewat penelitian dan uji coba yang diterapkan ke masyarakat,” tuturnya.

Griennasty melanjutkan, ketika ilmu diterapkan di lapangan, manfaatnya berlipat ganda, tidak hanya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga bagi pertumbuhan ekonomi lokal.

Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif

/

5

Ulas Sekarang