Melintas Batas: Kontribusi Diaspora untuk Pendidikan Bangsa

Kabar

21 November 2025 | 16.30 WIB

Melintas Batas: Kontribusi Diaspora untuk Pendidikan Bangsa

Diaspora adalah mata, telinga, hidung, kaki, dan tangan Indonesia. Dalam upaya mengangkat marwah perguruan tinggi Indonesia di kancah global, mereka menjadi salah satu bahu yang turut memanggul amanah transformasi pendidikan nasional.


Untuk tujuan itulah Konferensi Puncak Perguruan Tinggi Indonesia (KPPTI) 2025 menghadirkan diaspora Indonesia guna membahas Kontribusi Diaspora Indonesia untuk Kampus Berdampak sekaligus berbagi wawasan dan harapan pada sesi plenary pertama, Jumat (21/11).


Seorang dosen dan peneliti yang merupakan Ketua IDN Global Devi Siregar misalnya, menguraikan sebuah konsep menarik. Segitiga Diaspora. Bentuk ini melibatkan diaspora itu sendiri, negara tempat tinggal mereka dan Indonesia sebagai negara asal. Ada dua kontribusi besar yang menjadi tanggung jawab diaspora. Peran mereka sebagai diaspora yang harus bekerja di luar negeri dan peran dalam memberikan sumbangsih dari apa yang mereka dapat dari luar negeri untuk tanah air. Sebagai pihak yang berkesempatan melihat dunia dengan lebih luas, diaspora perlu mengantongi misi penting tersebut.


“Diaspora berada pada simpul strategis. Mereka hidup di luar negeri, namun denyut tanah air tetap berada dalam dada mereka. Keduanya harus diseimbangkan,” tegas Devi.


Lebih lanjut, Hendro yang bersuara dari negeri Jerman, menekankan bahwa Diaspora hendaknya menjadi value creation center dan berperan dalam pengembangan talenta. Meski tinggal jauh di luar negeri, gagasan berdampak menjadi tanggung jawab semua pihak dengan identitas WNI. Menurutnya, kontribusi diaspora bukanlah perkara jarak, melainkan kesungguhan menjaga ikatan intelektual dan emosional dengan tanah air.


“Kita harus menjadi value creation center. Identitas WNI adalah tanggung jawab untuk tetap berdampak, di mana pun kita berada,” ujarnya.


Arkian, Benny dari Coventry, UK, menerangkan ini dalam plenary-nya dengan memberikan sebuah studi kasus. Ketika membuat project, bahkan diperlukan merekrut seorang Impact Officer untuk ikut memberikan pendapat agar project yang dikelola dapat menghasilkan dampak. Sebuah keseriusan dalam menyikapi kalimat berdampak. 


Pernyataan narasumber pada sesi tersebut saling menguatkan satu sama lain. Dampak tidak lahir hanya dalam jentikan jari. Prosesnya perlu dikepalai oleh riset yang mendalam. Dalam hal ini, Juliana, jauh dari Australia sana mengemukakan tentang fundamental research sebagai bekal awal untuk berdampak.


Plenary ini ditutup dengan pesan-pesan penuh makna dari keempatnya, khususnya untuk para mahasiswa. Plenary dilanjutkan dengan pembahasan tentang Peran Perguruan Tinggi Dalam Penguatan Ekosistem Industri Nasional dengan narasumber yang merupakan pimpinan-pimpinan perusahaan terkemuka. 


Karena itu, mahasiswa hendaknya belajar untuk memimpin masa depan. Creating value dan menciptakan solusi besar. Pergilah ke mana pun, terbanglah setinggi tingginya. Besarnya potensi mahasiswa yang kini mengenyam bangku perguruan tinggi di Indonesia menjadi diaspora di masa yang akan datang. Maka jika ada satu terminologi yang merangkum seluruhnya, maka itu adalah Diaspora Berdampak. Karena jarak hanyalah angka, tetapi bakti dan kontribusi diaspora Indonesia menjadi napas yang tak pernah putus untuk bangsa.

Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif
#KPPTI2025




news

cms

/

5

Ulas Sekarang