MAKASSAR – Gula aren telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Diproduksi secara turun-temurun dengan teknik yang relatif sama selama puluhan tahun, proses pembuatannya membutuhkan waktu berjam-jam dan umumnya masih melibatkan bahan tambahan untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Di balik cara produksi yang masih tradisional itu, tersimpan potensi ekonomi yang belum sepenuhnya tergarap.
Berangkat dari kondisi tersebut, Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, Prof. Syahidah, mulai meneliti pengolahan gula aren sejak 2016. Fokus penelitiannya bukan sekadar menghasilkan varian produk baru, tetapi menyusun metode pengolahan yang lebih efisien, mampu menjaga mutu produk, sekaligus mempertahankan karakter alami gula aren.
"Gula aren sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Saat kami memulai penelitian pada 2016, belum ada informasi mengenai standar kualitas gula aren yang diproduksi dan beredar di Sulawesi Selatan. Padahal, potensinya sangat besar dan menjadi sumber penghasilan masyarakat di banyak daerah," ujar Syahidah.
Penelitian itu dilatarbelakangi oleh melimpahnya tanaman aren yang tersebar hampir di seluruh kabupaten di Sulawesi Selatan. Meski demikian, belum tersedia standar mutu yang dapat dijadikan acuan oleh para perajin. Di sisi lain, permintaan pasar terhadap gula aren terus meningkat, baik sebagai pemanis alami maupun sebagai bahan baku berbagai produk pangan.
Selama hampir satu dekade penelitian, tim peneliti berhasil mengembangkan teknologi pengolahan yang memangkas waktu produksi hingga sekitar 50 persen. Jika pembuatan gula aren serbuk sebelumnya membutuhkan waktu tujuh hingga delapan jam, metode baru tersebut mampu menyelesaikan proses dalam waktu sekitar tiga setengah hingga empat jam.
Efisiensi itu tidak hanya mempercepat produksi, tetapi juga mengubah cara pengolahan gula aren. Teknologi yang dikembangkan tidak lagi menggunakan bahan pengawet maupun bahan tambahan yang lazim dipakai oleh perajin, seperti kemiri, kelapa parut, atau minyak goreng. Hasilnya adalah produk dengan karakter yang lebih alami serta kualitas yang lebih seragam.
"Perbedaan produk kami dengan gula aren yang sudah beredar di pasaran adalah proses pembuatannya tidak menggunakan bahan pengawet maupun bahan tambahan lainnya yang umum digunakan oleh pengrajin gula aren," kata Syahidah.
Dari penelitian tersebut lahir empat produk inovasi, yakni gula aren cair, gula aren kubus, gula aren serbuk, dan gula aren sachet. Tiga produk pertama telah memperoleh izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sedangkan produk gula aren sachet masih menyelesaikan proses administrasi.
Menurut Syahidah, izin edar menjadi tahapan penting agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium. Legalitas tersebut membuka peluang bagi produk untuk dipasarkan secara lebih luas sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap hasil inovasi perguruan tinggi.
"Bagi kami, izin edar merupakan pintu pembuka agar produk hasil riset dapat dipasarkan lebih luas dan memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat," ujarnya.
Ia mengungkapkan, minat pasar terhadap gula aren hasil penelitiannya sebenarnya telah muncul sejak beberapa waktu lalu. Namun, tim memilih menunda ekspansi pemasaran hingga seluruh aspek legalitas dapat dipenuhi.
"Permintaan pasar sebenarnya sudah cukup tinggi. Namun kami memilih menahan perluasan pemasaran karena ingin memastikan seluruh persyaratan terpenuhi. Sekarang, setelah izin edar diperoleh, kami semakin percaya diri untuk memperluas distribusi dan menjangkau pasar yang lebih luas," katanya.
Sertifikat izin edar BPOM untuk produk inovasi tersebut diserahkan dalam kegiatan Akselerasi Kolaborasi Academia, Business, Government (ABG) yang diselenggarakan BPOM RI bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin di Ballroom Hotel Claro Makassar, Sabtu, 11 Juli 2026.
Bagi Universitas Hasanuddin, keberhasilan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana hasil penelitian dapat melampaui publikasi ilmiah dan memasuki tahap hilirisasi. Inovasi yang lahir dari laboratorium diharapkan tidak hanya memperkuat daya saing produk berbasis sumber daya lokal, tetapi juga memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup pada komoditas aren.
Catatan Editor
Inovasi gula aren ini menunjukkan bahwa riset perguruan tinggi dapat memberi nilai tambah bagi komoditas lokal. Dengan teknologi yang lebih efisien dan izin edar BPOM, hasil penelitian berpeluang lebih cepat masuk ke pasar dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Copywriter: Andi Muhammad Syafrizal
Editor: Ishaq Rahman







