Aceh Tengah-Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Program Mahasiswa Berdampak, mendukung pemulihan, membantu masyarakat terdampak bencana Sumatra. Hadir di Desa Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, kelompok mahasiswa berdampak dari Institut Teknologi Bandung (ITB), berhasil menghadirkan solusi penyediaan air siap minum, dukungan pendidikan, serta dukungan pemulihan psikologis bagi warga.
Selain penyediaan air bersih, para mahasiswa juga membantu pembersihan fasilitas umum serta pembangunan tungku bakar sederhana untuk membantu penanganan sampah darurat. Sistem distribusi air bersih juga dikembangkan melalui pipanisasi sepanjang lebih dari 2,5 kilometer dari sumber mata air di ketinggian 550 meter di atas permukaan laut menuju pemukiman warga.
Dikatakan oleh Muhammad Ulil Albab, mahasiswa ITB yang menjadi Penanggung Jawab Program Filtrasi menjelaskan bahwa Desa Jamat dipilih karena kondisi akses dan ketersediaan air bersih yang sangat terbatas.
“Kami membangun sistem filtrasi menggunakan pipa HDPE yang dialirkan ke filter tabung FRP 1054 untuk mengubah air kotor menjadi air bersih, kemudian dilanjutkan ke filter lanjutan hingga layak diminum. Kami juga mencari sumber mata air baru di hulu sejauh sekitar 1,4 kilometer dengan elevasi hampir 200 meter lebih tinggi untuk memastikan ketersediaan air yang cukup dan berkualitas,” ujar Ulil Albab.
Ulil menambahkan, meskipun menghadapi berbagai kendala teknis, logistik, dan sosial, mahasiswa bersama mitra berhasil menyelesaikan sistem pipanisasi dan filtrasi melalui proses kolaborasi dan penyesuaian di lapangan.
Mahasiswa ITB yang tergabung dalam program Mahasiswa Berdampak telah tinggal dan berkontribusi langsung di Desa Jamat sejak awal Februari hingga awal Maret 2026. Dampak program ini dirasakan langsung oleh masyarakat. Kepala Desa Jamat, Yusradi menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa yang membantu desa mereka bangkit dari kondisi darurat.
“Alhamdulillah, sekarang kebutuhan air bersih mulai terpenuhi, anak-anak kembali semangat belajar, dan warga mendapat dukungan trauma. Kami sangat berterima kasih kepada Kemdiktisaintek dan para mahasiswa yang telah memberi harapan baru bagi desa kami,” ujar Kepala Desa Yusradi.
ITB telah merespons cepat bencana yang terjadi pada akhir November lalu dengan mengirimkan bantuan awal berupa filter air, yang kemudian dilanjutkan dengan pembangunan instalasi pengolahan air.
Sampai hari ini, ITB bersama berbagai mitra telah membangun kurang lebih 40 titik instalasi pengolahan air dengan kapasitas rata-rata 1.000 liter per jam. Selain itu, terdapat satu mesin pengolahan air portabel berkapasitas 7.000 liter per jam yang saat ini juga terpasang di Aceh Tamiang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Melalui program Mahasiswa Berdampak, Kemdiktisaintek berkomitmen untuk terus mendorong peran aktif perguruan tinggi dan mahasiswa dalam mendukung pembangunan nasional dan membantu masyarakat, khususnya dalam situasi darurat dan pemulihan pascabencana.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi






