Kisah Dosen Unpatti dan Masyarakat Maluku Lawan Stunting dengan Daun Kelor

Kabar

25 October 2025 | 08.49 WIB

Kisah Dosen Unpatti dan Masyarakat Maluku Lawan Stunting dengan Daun Kelor

Maluku-Rekah senyuman anak-anak di Desa Passo, Maluku, kini membawa harapan yang lebih dalam, yaitu asa terbebas  dari bayang-bayang stunting yang sempat menghantui.

Di desa ini, pencegahan malnutrisi bukan sekadar program pemerintah, melainkan gerakan hati yang dipimpin oleh tekad kolektif masyarakat di Maluku.

Adalah sosok seorang dosen sederhana yang membawa perubahan, bernama Inta P.N. Damanik, dari Program Studi Penyuluhan Pertanian Universitas Pattimura (Unpatti), Kota Ambon.

Ketika ancaman stunting menghantui masa depan anak-anak di sana, Inta tidak menyerah. Ia tidak datang membawa obat mahal, melainkan sebuah gagasan sederhana namun revolusioner: mengajak masyarakat menanam sayuran dan daun kelor (Moringa).

Melalui riset yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat, dan gizi berbasis kearifan lokal, Inta berhasil menggerakkan hati dan tangan para mama di Desa Passo, Maluku.

Kisahnya adalah bukti nyata bahwa solusi paling berdampak seringkali tumbuh dari tanah sendiri, mengubah lahan kosong menjadi kebun hidroponik bergizi, dan membuktikan bahwa daun kelor yang sederhana dapat menjadi senjata ampuh untuk menyelamatkan anak Maluku dari bahaya malnutrisi.

Asal Sumatera, Berbakti di Tanah Pattimura

Inta memulai langkah awalnya untuk mengabdikan diri di Maluku melalui sebuah Surat Keputusan (SK) Ikatan Dinas CPNS dosen menempatkannya di Unpatti, Ambon.

“Saya enggak tahu di Ambon tuh di mana. Yang saya tahu, tuh yang paling jauh tuh Papua,” kenang Inta.

Setelah puluhan tahun tinggal di tanah yang ia tidak ketahui sebelumnya, kini Inta menggunakan ilmunya untuk mengatasi permasalah stunting dengan sebuah solusi gizi yang berkelanjutan.

Ubah Budaya Makan Mi Instan, ke Sayuran Hidroponik

Pengabdian ini berlatar belakang dari keprihatinan mendalam saat survei stunting. Inta menemukan akar masalah yang memilukan: kondisi ekonomi, dan kesulitan alam.

“Saya melihat ada keluarga yang memang hanya memberikan mi instan hampir seminggu itu tiga kali sehari. Dalam kondisi anaknya waktu itu menderita stunting,” kisahnya.

Masyarakat kesulitan mendapatkan sayur karena lahan mereka berbatu-batu dan banyak karang.  Inta melihat tantangan ini sebagai sebuah kesempatan untuk mengabdikan dirinya kepada masyarakat melalui pengetahuan yang ia miliki.

Melalui dukungan dana hibah yang didapatkan dari program pengabdian yang diinisiasi oleh Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BIMA) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), ia memilih Hidroponik Sistem Rakit Apung sebagai salah satu solusi yang tepat guna karena hemat air, tidak butuh tanah subur, dan aman jika listrik mati.

Usahanya berbuah manis, sebanyak 400 instalasi lubang tanam telah berproduksi selama satu tahun (dimulai 2024), memberikan penghasilan bulanan dan akses pangan non-pestisida bagi kelompok masyarakat.

Ajari Masyarakat Hasilkan Produk Makanan Berbahan Sayur

Fokus utama pengabdian Inta adalah perubahan aspek perilaku, yang mencakup perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan masyarakat agar gemar makan sayur segar.

Keberhasilan produksi di kebun hidroponik berlanjut ke inovasi di dapur. Melalui program lanjutan di tahun 2025, sayuran tersebut diolah menjadi produk turunan.

Nuget sayur merupakan produk yang paling digemari anak-anak. Produk lain yang dihasilkan adalah smoothie sawi-kelor dan mie sawi-kelor. Inovasi ini memberikan optimisme bahwa kekurangan gizi pada anak-anak di Passo dapat teratasi.

Tingginya antusiasme masyarakat terbukti dengan instalasi hidroponik yang terawat dan terus menghasilkan, menunjukkan bahwa solusi ini diterima dengan suka cita dan berkelanjutan.

Keilmuan yang Berdampak

Kisah Inta Damanik merupakan cerminan dedikasi seorang akademisi, yang tak terhalang oleh jarak dan kesulitan alam. Ia membuktikan bahwa ilmu penyuluhan pertanian dapat menjadi kunci untuk melawan masalah kesehatan yang kompleks seperti stunting.

"Harapan saya untuk para dosen, teman-teman saya, mari kita melakukan hal yang kecil untuk dampak yang besar, yang penting kita mau melakukan sesuatu yang kita rasa kita bisa lakukan untuk masyarakat. Pasti yang Maha Kuasa meridai," tutup Inta.

Apresiasi Mendiktisaintek

Kisah Inta bukan tanpa perhatian. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto turut memberikan apresiasi atas pengabdian yang dilakukan olehnya.

Penghargaan yang diberikan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi merupakan pengakuan atas dampak positif yang telah ia berikan melalui penelitian dan pengabdiannya kepada masyarakat.

Menteri Brian dalam rangkaian kunjungan ke Maluku pada Rabu (22/10) mengunjungi Rumah Produksi ARIKA Ama Ori Passo. Mendiktisaintek meninjau proses produksi dan inovasi produk turunan sayuran hidroponik hasil pendampingan tim PKM Bima Kemdiktisaintek–Unpatti, yang diprakarsai oleh sosok Inta.

Kehadiran Mendiktisaintek di Unpatti menjadi simbol semangat kolaborasi nasional dalam membangun pendidikan tinggi yang inovatif, adaptif, dan berdampak nyata bagi kemajuan kawasan timur Indonesia.

Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak #Kemdiktisaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif

/

5

Ulas Sekarang