Aceh Barat — Di sebuah desa yang tenang, di ujung barat Pulau Sumatra, hidup seorang gadis mungil bernama Tio Rindu, yang menyimpan tekad besar di tengah keterbatasan. Putri dari pasangan Sulaiman S. dan Winaria in, kini resmi menjadi mahasiswa Program Studi Sosiologi, Universitas Teuku Umar, berkat Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah). Sebuah program beasiswa Pemerintah yang menjamin akses pendidikan tinggi yang inklusif dan berkeadilan bagi seluruh anak bangsa.
Namanya Tio Rindu. Gadis mungil dengan rindu asa besar.
Demi asa Tio, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek bersama Rektor Universitas Teuku Umar dan Kepala Desa setempat mengunjungi rumahnya di Meulaboh, Aceh, untuk menyerahkan KIP Kuliah secara simbolis, pada Kamis (9/10).
Ayah Tio bekerja sebagai buruh tani di lahan milik orang lain. Di usianya yang kini menginjak 64 tahun, kondisi fisik ayahnya mulai melemah, sementara tanggung jawab untuk menafkahi keluarga dan membiayai anaknya masih terus dipikulnya. Sang ibu, Winaria, adalah ibu rumah tangga yang sesekali membantu ayah di ladang. Namun karena faktor usia dan kesehatan, kini lebih banyak fokus mengurus rumah. Asa Tio tergambar di kerut keningnya.
Meski hidup dalam keterbatasan, Tio selalu berprestasi sejak SD. Dia kerap membawa pulang piala dari berbagai lomba di sekolah. Namun di balik semangatnya, ada tantangan besar yang menyertainya: Tio memiliki gangguan penglihatan berat dengan minus mencapai 20, dan kini masih menggunakan kacamata minus 14 dan harus dirujuk ke dokter mata.
Keterbatasan itu tak pernah memadamkan semangatnya. Justru dari sanalah lahir tekad kuat untuk terus belajar dan mengubah nasib kedua orangtuanya.
“Saya ingin menjadi dosen, itu cita-cita saya sejak kecil, setidaknya bagi keluarga saya dulu,” ujar Tio dengan mata berkaca-kaca.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Khairul Munadi, menegaskan bahwa KIP Kuliah merupakan salah satu program prioritas pemerintah dalam memperluas akses pendidikan tinggi yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
“Kami ingin memastikan bahwa tidak ada potensi anak Indonesia yang terhenti hanya karena persoalan biaya,” ujar Dirjen Khairul. Sementara itu, Rektor Universitas Teuku Umar, Ishaq Hasan, menegaskan bahwa kampus harus menjadi tempat belajar dan juga rumah bagi mahasiswa untuk tumbuh dan berdaya melalui kesempatan yang adil. “Kami ingin memastikan setiap mahasiswa, terutama dari keluarga kurang mampu, mendapatkan ruang untuk berkembang. KIP Kuliah bukan sekadar bantuan biaya, tetapi dorongan agar mereka bisa menatap masa depan dengan lebih percaya diri,” tuturnya. Program KIP Kuliah merupakan wujud nyata komitmen Pemerintah dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang berkualitas dan merata di seluruh pelosok negeri. Melalui semangat Diktisaintek Berdampak, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terus memastikan tidak ada batas bagi anak bangsa untuk bermimpi dan berprestasi.
Kegiatan kunjungan tersebut diakhiri dengan Dirjen Dikti Khairul Munadi yang mengantar langsung Tio bersama ibunya ke dokter mata untuk melakukan pemeriksaan, serta membelikan sepasang kacamata baru bagi Tio. Kacamata itu diharapkan dapat menjadi penunjang utama dalam proses belajarnya, agar ia dapat menempuh pendidikan dengan lebih nyaman dan optimal. Kelak, kacamata itu membawa Tio melihat dunia yang lebih luas.
Dari sebuah gubuk mungil di Aceh Barat hingga ruang kuliah di berbagai daerah, pendidikan menjadi jalan untuk menembus batas. Sebab bagi Tio dan banyak anak muda lainnya di seluruh Indonesia, kemiskinan bukan akhir cerita. Melainkan jejak langkah untuk berjuang dan menulis kisah baru.
Dari Tanah Rencong yang dinamis, Tio menjejakkan asa melalui KIP Kuliah.
Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif





