Timor Tengah Utara–Pagi baru saja naik di Desa Nian, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT). Pohon-pohon kelapa yang berdiri di hampir setiap kebun menjadi saksi kehidupan masyarakat yang selama bertahun-tahun bertumpu pada hasil tani dan ternak. Namun, ada satu persoalan yang tak pernah hilang: kelapa berlimpah, tapi nilainya rendah.
Kelapa yang jatuh bergantian di tanah kering itu biasanya hanya dihargai seribu rupiah oleh pedagang pengumpul. Kadang dua ribu. Kadang tak terjual sama sekali. Banyak yang membusuk menunggu pembeli.
Hingga suatu hari, seorang dosen dari jauh datang melihat langsung masalah itu. Namanya Justin Eduardo Simarmata, Dosen Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Timor (Unimor).
“Asal saya dari Medan, saya bertugas di Unimor (Universitas Timor, red) sejak 2019,” ungkapnya, Sabtu (6/12).
Hidup di daerah perbatasan, bekerja di wilayah yang hanya berjarak sekitar 45 menit dari perbatasan Timor Leste. Pengabdiannya di Desa Nian bermula dari kegiatan observasi Program Kosabangsa Tahun 2024.
“Muncullah ide dari situ, kelapa ini menjadi memiliki nilai yang lebih tinggi lagi, yaitu dengan mengubah dalam bentuk Virgin Coconut Oil (VCO, red),” kilas Justin.
Memang dulu kondisi masyarakat Desa Nian terbelenggu keterbatasan.
“Mereka masih olah secara tradisional pakai parut tradisional, lalu perasnya pakai tangan. Sulit. Memakan waktu yang begitu banyak. Kelapa-kelapa ini biasanya masyarakat simpan saja, kalau tengkulaknya tidak datang, ya disampahkan,” ujar Kepala Desa sekaligus Ketua Kelompok Tani, Agustinus Kono Toan.
Situasi itu membuat Justin yakin bahwa teknologi tepat guna harus masuk ke desa ini. Ia kemudian menyiapkan proposal dengan menawarkan teknologi yang bisa mempercepat dan mempermudah proses produksi VCO.
“Kami menawarkan suatu teknologi yaitu alat peras dan parut sederhana, sehingga begitu kelapa dimasukkan, langsung terpisah ampas dan santannya,” tambah Justin.
Tidak hanya mengandalkan ide sendiri, Justin juga berkolaborasi dengan dosen Teknik Mesin ahli dari Politeknik Negeri Kupang, sehingga alat yang dihasilkan bisa tepat guna dan efisien. Yang paling penting adalah bagaimana alat tersebut bisa digunakan dengan listrik, mesin diesel, dan solar sehingga tidak bergantung pada infrastruktur desa. Teknologi tersebut sudah melalui uji coba sebelum diberikan ke masyarakat.
“Alat ini sudah diuji coba di Politeknik Negeri Kupang, sebelum diterapkan kepada masyarakat,” ujar Justin.
Justin kemudian datang bersama tim lintas bidang, antara lain Teknologi Informasi, Agribisnis, dan lainnya. Mereka memberi pelatihan selama sekitar satu minggu. Saat warga mencoba mesin untuk pertama kalinya, reaksi mereka sangat kuat.
“Mereka senang sekali, mereka tidak merasakan lagi lelah untuk memeras kelapanya. Saya kaget sekali, begitu kelapa dimasukkan ke mesin, dia bisa memeras dengan sendirinya. Cepat sekali,” kata Justin menggambarkan pengalamannya.
Dalam beberapa bulan, masyarakat merasakan perubahan besar.
“Waktunya lebih efisien, hasil santan yang dihasilkan lebih murni, meningkat sampai tiga sampai empat kali,” tutur Justin.
Bagi ibu-ibu anggota kelompok tani, teknologi ini menyalakan asa mereka, termasuk Elfiana Nule.
“Terharu, dulu kita tidak pakai itu, hanya pakai tangan,” kenang Elfiana.
Produksi pun meningkat drastis. Pendapatan warga juga ikut naik. VCO ini nilai jual bisa sampai Rp25.000 per botol, jauh lebih besar dari menjual kelapa.
Namun perubahan yang paling membahagiakan baginya justru adalah perubahan sikap warga, yang semakin semangat dan berani.
Keberlanjutan: Relasi yang Tidak Terputus
Program Kosabangsa berlangsung lima bulan, tetapi pendampingan tetap berjalan hingga kini.
“Ketika masyarakat mengalami masalah mesin, mereka masih sering koordinasi dengan kami, dan kami juga membantu pemasarannya di Kefamenanu,” ujar Justin.
Mahasiswa juga dilibatkan dalam pengembangan desain label dan landing page, melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (Penerapan Iptek) yang berhasil lolos ke tingkat nasional. Meskipun sudah diberlakukan pemasaran online, masih terkendala jaringan dan keterampilan digital warga, pendampingan terus diarahkan agar generasi muda desa dapat mengambil peran.
Semangat Diktisaintek Berdampak bergelora dalam diri Justin.
“Mari turun ke lapangan, melihat masalah yang ada, lalu kita berikan solusinya secara nyata, menerapkan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan sehingga masyarakat merasakan dampaknya,” pesannya kepada para dosen dan mahasiswa.
Ketika ditanya bagaimana perasaannya sebagai orang Sumatra yang mengabdi di perbatasan NTT, ia berkata, “Saya merasa bangga dan senang, saya datang untuk ikut berkontribusi memajukan daerah perbatasan.”
Justin berkomitmen melangkah lebih pasti, prinsip yang selalu ia pegang, “Kalau kita melakukan sesuatu dari hati, saya yakin hasilnya akan baik dan diterima masyarakat.”
Kisah Justin Eduardo Simarmata, dosen asal Medan yang memilih tinggal di wilayah perbatasan adalah contoh nyata bagaimana ilmu, teknologi, dan ketulusan bisa mengubah wajah sebuah desa.
Dari kelapa seribu rupiah, kini lahir produk bernilai tinggi. Dari pengolahan tradisional, kini hadir teknologi tepat guna. Dari keterbatasan, kini tumbuh harapan. Dari seorang dosen yang bekerja dengan hati, lahirlah sebuah bukti nyata bahwa visi Diktisaintek Berdampak benar-benar dapat mengubah kehidupan.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengapresiasi dedikasi para dosen dan mahasiswa yang menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Melalui Inovasi sederhana namun tepat guna seperti ini, membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dapat menjadi kekuatan yang mengangkat ekonomi keluarga, membangun kemandirian desa, dan mengubah kehidupan warga di wilayah perbatasan.
Kemdiktisaintek mengajak perguruan tinggi di seluruh Indonesia untuk terus turun ke lapangan, melihat persoalan secara langsung, dan menghadirkan teknologi yang memberi manfaat nyata. Kementerian berkomitmen mendukung penuh setiap upaya yang menghubungkan riset, pengabdian, dan kebutuhan masyarakat, agar tidak ada satu pun wilayah di negeri ini yang tertinggal dari arus kemajua
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif






