Ketika Keterbatasan Tak Memadamkan Mimpi: Lala, Wisudawan Unhas Pejuang Kesetaraan

Cerita Kita

08 January 2026 | 16.00 WIB

Ketika Keterbatasan Tak Memadamkan Mimpi: Lala, Wisudawan Unhas Pejuang Kesetaraan

“Orang selalu bilang, saya seharusnya tidak usah sekolah. Untuk apa bersekolah, toh pada akhirnya akan menjadi tukang pijat atau pedagang keripik di pinggir jalan.”

HUMAS-UNHAS. Kalimat itu masih lekat dalam ingatan Nabila May Sweetha, Alumnus Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin. Lala sapaan akrabnya tumbuh dalam lingkungan yang kerap memandang rendah penyandang disabilitas netra.

Di balik toga yang kini dikenakannya dan senyum bahagia yang terpancar, tersimpan kisah perjuangan panjang yang penuh luka, kehilangan, sekaligus keteguhan hati. Lala bukan sekadar wisudawan biasa. Ia adalah simbol perlawanan terhadap stigma bahwa keterbatasan fisik identik dengan keterbatasan mimpi.

Lala tidak terlahir dengan kebutaan. Hingga usia 14 tahun, ia menjalani hidup seperti remaja pada umumnya. Namun, sebuah diagnosis mengubah segalanya. Virus TORCH plasm membuatnya kehilangan penglihatan secara total. Sejak saat itu, dunia yang ia kenal perlahan menjadi gelap bukan hanya secara visual, tetapi juga sosial.

Cobaan datang bertubi-tubi. Perceraian orang tua, kebangkrutan keluarga, kehilangan penglihatan, hingga perundungan dan pandangan meremehkan dari lingkungan sekitar harus ia hadapi dalam usia yang masih sangat belia. 

Saat divonis buta total, Lala kerap dipandang sebelah mata, seolah masa depannya ikut terhapus bersama penglihatannya. Namun, dari titik terendah disitulah tekadnya tumbuh.

Semangatnya untuk mengenyam pendidikan tak pernah padam. Lala membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah akhir dari mimpi. Ia memilih melanjutkan pendidikan tinggi di Program Studi Ilmu Politik Unhas. Pilihan itu bukan tanpa alasan, pengalaman diskriminasi yang ia alami justru menguatkan tekadnya untuk memperjuangkan hak-hak difabel melalui kebijakan publik.

Pada wisuda Unhas periode Oktober 2025 lalu, Nabila May Sweetha resmi menyandang gelar sarjana. Sebuah pencapaian yang bukan hanya miliknya, tetapi juga menjadi harapan bagi banyak penyandang disabilitas lain bahwa pendidikan inklusif mampu mengubah masa depan.

Di balik aktivitas akademiknya, Lala juga aktif menulis. Ia telah melahirkan beberapa novel dan karya reflektif yang terinspirasi dari perjalanan hidupnya. Proses kreatif itu ia jalani dengan bantuan teknologi pembaca layar sebuah bukti bahwa teknologi, jika inklusif, mampu membuka ruang bagi siapa pun untuk berkarya.

Lala memfokuskan pergerakannya di luar kampus. Ia terlibat sebagai aktivis perempuan difabel dalam organisasi masyarakat sipil Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK). Organisasi non-pemerintah ini memperjuangkan akses dan kesetaraan hak bagi masyarakat difabel di berbagai sektor kehidupan.

Ia memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas melalui konten-konten edukatif di media sosial yang ia kelola. Lewat tulisan reflektif, opini, dan narasi berbasis pengalaman personal, Lala secara konsisten menyuarakan isu diskriminasi, aksesibilitas, serta pentingnya perspektif difabel dalam kebijakan publik.

“Perbedaan seharusnya tidak membuat kita merasa lebih pantas dan lebih berkuasa dari orang lain yang kita anggap tidak normal dan sempurna,” ujar Lala.

Pesan itu bukan sekadar kalimat, melainkan refleksi dari perjalanan hidup yang ia lalui dengan keberanian dan keteguhan.

Kepada sesama difabel, Lala menyampaikan pesan penuh harap. “Apa pun kata orang yang diskriminatif dan abelis di luar sana, kita selalu punya hak untuk bermimpi dan terus berusaha,” pesannya.

Kisah Nabila May Sweetha mengajarkan bahwa gelap bukanlah akhir dari segalanya. Dengan pendidikan, keberanian, dan dukungan lingkungan yang inklusif, keterbatasan dapat menjelma menjadi kekuatan dan mimpi tetap bisa digenggam, seterang apa pun jalannya. (*/aya)

      

Catatan Editor:

Universitas Hasanuddin kini memiliki Pusat Disabilitas (Pusdis) yang dirancang untuk mendorong tata kelola kampus yang inklusif. Saat ini terdapat 50 mahasiswa difabel di Unhas. Pada penerimaan mahasiswa baru tahun 2025, Unhas menerima 16 mahasiswa baru penyandang disabilitas. "Di Unhas, tidak boleh ada yang tertinggalkan," kata Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc.


Copywriter: Nur Alya Azzahra
Editor: Ishaq Rahman

DiktisaintekBerdampak

Unhas

Inklusif

Disabilitas

/

5

Ulas Sekarang