Tingginya angka kebutuhan tenaga terampil (skilled workers) di berbagai belahan negara, ditengarai menjadi peluang yang menjanjikan bagi Indonesia untuk memperluas kontribusi tenaga kerja profesional di pasar kerja internasional. Di samping itu, Indonesia tengah menikmati bonus demografi yang menghasilkan banyak usia produktif.
Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, Jerman, negara-negara Timur Tengah, dan Singapura saat ini mengalami kekurangan tenaga kerja pada berbagai sektor seperti perawat (caregiver), manufaktur, konstruksi, perhotelan, migas, maritim, kesehatan, serta bidang teknologi digital. Pada saat yang sama negara-negara eropa dan laut Baltik tengah menghadapi aging population, di mana proporsi penduduk lansia lebih banyak dibanding usia produktif sehingga membutuhkan lebih banyak lagi tenaga caregiver.
“Ada sangat banyak peluang yang bisa kita manfaatkan dengan baik. Selama ini talenta global tenaga terampil didominasi dari India. Ini saatnya kita ambil porsi yang lebih besar,” kata Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Prof Fauzan, pada Forum Diskusi dan Sosialisasi Peluang dan Tantangan Tenaga Kerja Terampil Indonesia untuk Bekerja di Luar Negeri Melalui Penguatan Career Development Center di Perguruan Tinggi. Diskusi ini dilaksanakan di Jakarta pada Selasa (8/4).
Ditambahkan Wamen Fauzan, tenaga terampil yang menjadi talenta global pada gilirannya akan menghasilnya brain circulation yang berkontribusi menyiapkan landasan pacu bagi Indonesia Emas 2045.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Dwi Setiawan Susanto, mengungkapkan penguatan Career Development Center (CDC) yang diinisiasi Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswa (Belmawa) Kemdiktisaintek selaras dengan migrant center yang selama ini digawangi KP2MI. Peningkatan kerja sama keduanya akan memberikan hasil yang maksimal bagi tenaga terampil yang siap bekerja di luar negeri.
“Kita harus koneksikan kedua gagasan ini, sehingga kita bisa mengisi pasar tenaga kerja di luar negeri. Kerja sama kita akan menghasilkan talenta global yang mumpuni secara kualitas dan bertambah secara kuantitas,” kata Dwi Setiawan Susanto.
Konektivitas CDC dengan migrant center seyogianya menjadi keniscayaan mengingat keduanya memiliki arah dan tujuan yang sama. Seperti yang disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Khairul Munadi, Career Development Center adalah praktik baik dari kampus berdampak. Artinya, lulusan perguruan tinggi menjadi motor penggerak ekonomi keluarga dan pada gilirannya menjadi penggerak ekonomi Indonesia.
“Lulusan perguruan tinggi yang diserap pasar tenaga kerja, baik di dalam maupun di luar negeri, otomatis akan memperbaiki ekonomi keluarga. Pada gilirannya akan memberikan sumbangan pada ekonomi Indonesia,” demikian Khairul Munadi.
Pada sesi panel diskusi yang berlangsung antusias, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemdiktisaintek Beny Bandanadjaja memaparkan, perguruan tinggi perlu melakukan review tahunan terhadap kurikulum. Juga perlu melakukan review materi pembelajaran pada tiap semester supaya relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Menurutnya, proses pembelajaran harus relevan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.
“Harus ditetapkan standarisasi dengan mengikutsertakan pemangku kepentingan yaitu dunia industri dan dunia usaha. Outcome based-nya lulusan perguruan tinggi mampu mengerjakan detil pekerjaan yang dibutuhkan dunia industri. Tugas pendidik adalah memastikan lulusannya dapat bekerja dengan cepat. Ini menjadi IKU untuk menghasilkan lulusan dengan kebekerjaan yang tinggi,” demikian Beni Bandanadjaja.
Penting untuk digaris-bawahi, Career Development Center (CDC) di perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai penghubung antara dunia pendidikan dan dunia kerja. CDC tidak hanya berfungsi sebagai pusat layanan karier bagi mahasiswa dan alumni, tetapi juga berperan dalam mempersiapkan lulusan agar memiliki kesiapan kerja global melalui penguatan kompetensi, fasilitasi sertifikasi, pelatihan bahasa, pengembangan soft skills, serta penyediaan informasi peluang kerja internasional.
Untuk memperkuat fungsi tersebut, perguruan tinggi juga dapat mengembangkan Pusat Keberkerjaan Luar Negeri sebagai bagian dari layanan CDC yang secara khusus berfokus pada penyiapan, pendampingan, dan fasilitasi mahasiswa serta alumni yang berminat bekerja di luar negeri. Pusat ini dapat berfungsi sebagai pusat informasi peluang kerja internasional, penguatan kompetensi global, serta berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, asosiasi profesi, serta dunia industri dalam proses persiapan hingga penempatan tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Integrasi layanan CDC dan Pusat Keberkerjaan Luar Negeri di perguruan tinggi diharapkan dapat membangun ekosistem penyiapan tenaga kerja global yang lebih sistematis, terkoordinasi, dan berkelanjutan. Dengan demikian mobilitas tenaga kerja Indonesia dapat berlangsung secara profesional, aman, dan bermartabat.
Turut hadir dalam diskusi ini Direktur Pembinaan Kelembagaan Vokasi Pekerja Migran Indonesia KP2MI, Abri Danar Prabawa, Staf Khusus Menteri Bidang Industri dan Kerja Sama Luar Negeri, Oki Earlivan Sampurno, pimpinan perguruan tinggi, tim CDC perguruan tinggi, Tim Task Force Kebekerjaan Lulusan, Anggun Siswanto, Dekan SV Universitas Diiponegoro Prof Budiyono, Prof Tulus Winarsunu Universitas Muhammadiyah Malang, Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (Apjati) Said Saleh Alwaini, LLDIKTI seluruh Indonesia, serta dari Politeknik dan kampus di seluruh Indonesia. Selain dilaksanakan secara luring, diskusi ini juga dilaksanakan secara daring dan diikuti oleh dari 800an peserta dari seluruh Indonesia.






