Kemdiktisaintek Gelar Lokakarya Internasional: Perkuat Biosekuriti Rumput Laut dan Hilirisasi Berkelanjutan

Kabar

01 December 2025 | 15.30 WIB

Kemdiktisaintek Gelar Lokakarya Internasional: Perkuat Biosekuriti Rumput Laut dan Hilirisasi Berkelanjutan

Jakarta-Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Universitas Mataram (Unram) menyelenggarakan International Workshop bertema “Advancing Seaweed Biosecurity and Downstream Innovation: Building a Progressive Management Pathway for Sustainable Sector Development” di Graha Diktisaintek, kantor Kemdiktisaintek, Senin (1/12). 

Kegiatan ini menjadi tonggak kolaborasi global untuk memperkuat ketahanan biosekuriti rumput laut serta mendorong strategi hilirisasi yang terencana, terukur, dan berkelanjutan bagi sektor rumput laut Indonesia.

Lokakarya ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan nasional dan internasional, antara lain Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), Yos Sunitiyoso, Direktur Pengembangan Rumput Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Nono Hartanto, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Unram, Akmaluddin, serta GlobalSeaweed-PROTECT Natural History Museum United Kingdom (UK), Juliet Brodie.

Riset dan Pengembangansebagai Fondasi Ketahanan dan Hilirisasi Rumput Laut

Dalam keynote speech, Dirjen Fauzan menyampaikan bahwa penguatan ekosistem riset menjadi elemen strategis untuk memastikan biosekuriti rumput laut Indonesia dalam menghadapi ancaman patogen, perubahan iklim, hingga ketidakteraturan rantai produksi.

“Kami melihat pentingnya integrasi riset nasional dengan jaringan akademik dan ilmiah internasional untuk memahami risiko, mengembangkan teknologi mitigasi, dan membangun sistem biosekuriti yang adaptif," ujar Dirjen Fauzan.

Dirjen Fauzan menegaskan empat strategi besar riset nasional untuk menopang sektor rumput laut, antara peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) riset dan talenta sains, peningkatan kualitas luaran riset melalui kolaborasi dan pertukaran pengetahuan, hilirisasi dan komersialisasi hasil riset (downstreaming) melalui kerja sama industri, serta kebijakan berbasis data dan bukti ilmiah untuk mendukung tata kelola biosekuriti yang komprehensif.

Dirjen Fauzan juga menekankan perlunya pembangunan seed bank, jejaring nursery, sistem diagnostik terpusat, serta pelatihan biosekuriti bagi petani sebagai prasyarat penguatan produktivitas nasional.

“Rumput laut adalah komoditas strategis Indonesia. Untuk menjamin kualitas pasokan, meningkatkan nilai tambah, dan memastikan kesejahteraan petani, kita membutuhkan ekosistem riset yang kuat, terintegrasi, dan berorientasi hilirisasi,” jelas Dirjen Fauzan.

Kolaborasi Internasional Dorong Penguatan Protokol Biosekuriti

Pada kesempatan yang sama, GlobalSeaweed-PROTECT Natural History Museum United Kingdom, Juliet Brodie menegaskan pentingnya perlindungan biodiversitas alami rumput laut sebagai fondasi keberlanjutan industri global.

“Tanpa konservasi habitat dan stok liar, industri rumput laut tidak memiliki masa depan. Biosekuriti, konservasi, dan pengembangan varietas tahan penyakit harus berjalan berdampingan,” ujar Juliet.

Ia memaparkan perkembangan GlobalSeaweed-PROTECT yang berfokus pada peningkatan ketahanan kultivar terhadap penyakit dan perubahan iklim, pengembangan sistem peringatan dini (early warning system) penyakit rumput laut, pemetaan biodiversitas dan restorasi habitat, dan penyusunan Global Seaweed Breakthrough sebagai agenda perlindungan laut berbasis sains.

Dalam sesi keynote lainnya, Direktur Pengembangan Rumput Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Nono Hartanto menjelaskan bahwa biosekuriti menjadi prioritas nasional dalam kerangka visi Indonesia Emas 2045 dan kebijakan ekonomi biru (blue economy).

Direktur Nono memaparkan langkah-langkah strategis pemerintah, antara lain seperti penerapan Good Aquaculture Practices (CBIB), pengaturan lokasi budidaya sesuai tata ruang dan daya dukung lingkungan, penguatan laboratorium kultur jaringan untuk memastikan kualitas bibit, dan penyusunan panduan teknis biosekuriti rumput laut yang lebih spesifik dan terstandarisasi.

“Biosekuriti adalah investasi jangka panjang. Keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh pemerintah, tetapi oleh kerja bersama perguruan tinggi, industri, dan petani,” tambahnya.

Indonesia Harus Naik Kelas ke Industri Bernilai Tinggi

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Unram, Akmaluddin menegaskan bahwa 85% produksi rumput laut Indonesia saat ini masih diekspor dalam bentuk bahan mentah. Kondisi ini membatasi potensi nilai tambah nasional.

“Kolaborasi ilmiah global sangat penting untuk memperkuat biosekuriti dari hulu hingga hilir. Dengan sistem yang lebih kuat, Indonesia dapat memasuki industri bernilai tinggi seperti biomaterial, pangan fungsional, dan biofarmasi,” ujar Rektor Akmaluddin.

Rektor Unram menekankan bahwa lokakarya ini menjadi platform strategis untuk dapat menyelaraskan kebutuhan riset, regulasi, dan industri; memperkuat kapasitas negara dalam pengembangan produk; serta membuka peluang hilirisasi yang berdampak langsung bagi masyarakat pesisir.Keterlibatan Kemdiktisaintek dalam forum ini menegaskan komitmen pemerintah untuk menjadikan riset dan teknologi sebagai pendorong ekonomi biru dan kesejahteraan masyarakat.

Kemdiktisaintek meyakini bahwa riset harus berbasis tantangan nyata (challenge-based), kolaborasi internasional merupakan prasyarat kemajuan sains, hilirisasi dan keberlanjutan harus menjadi orientasi utama, serta penguatan biosekuriti adalah fondasi bagi stabilitas produksi dan peningkatan nilai tambah nasional.  Dengan lokakarya ini, pemerintah berharap arah pengembangan rumput laut nasional semakin presisi, berbasis data, dan didukung oleh manajemen biosekuriti yang progresif.

Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi 

#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif

news

cms

/

5

Ulas Sekarang