Yogyakarta-Gelaran Passage to ASEAN (P2A) 9th Annual General Meeting mempertemukan para pemimpin perguruan tinggi, perwakilan pemerintah, serta organisasi regional dari sembilan negara ASEAN untuk memperkuat kolaborasi pendidikan tinggi di tengah percepatan transformasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan (AI), Kamis (20/11).
Acara yang dihadiri 79 delegasi dari 140 universitas anggota P2A ini berfokus pada penguatan mobilitas mahasiswa, kolaborasi riset lintas negara, serta pemetaan strategi integrasi teknologi AI ke dalam sistem pendidikan tinggi. Melalui sidang pleno, penandatanganan MoU, ASEAN AI Council Meeting, serta dialog bersama industri seperti Microsoft Indonesia dan Samsung R&D Institute Indonesia, pertemuan ini menghasilkan berbagai langkah konkret untuk mendorong peningkatan kemampuan akademik dan kesiapan digital di kawasan.
Transformasi AI yang diperkirakan memberikan kontribusi hingga 1 triliun USD bagi ekonomi ASEAN membawa peluang besar sekaligus tantangan berupa kesenjangan AI dan kapasitas teknologi antarnegara. Karena itu, P2A 9th AGM 2025 menjadi forum penting bagi ASEAN untuk menyelaraskan strategi, memperkuat kerja sama, dan membangun ekosistem pendidikan yang mampu menjawab tantangan era digital secara kolektif.
UII bersama P2A Secretariat dan ASEAN Secretariat merumuskan sejumlah langkah strategis, antara lain penyusunan Roadmap P2A 2026, penguatan ASEAN Research Network, pendirian ASEAN Artificial Intelligence Council, pengembangan P2A Skills Center, serta peningkatan kolaborasi antara universitas, pemerintah, dan industri guna memperkuat daya saing pendidikan tinggi ASEAN.
Wiryono Raharjo, Wakil Rektor Bidang Kemitraan dan Kewirausahaan UII, menyatakan, “UII merasa terhormat menjadi tuan rumah P2A 9th AGM. Forum ini merupakan momentum penting bagi perguruan tinggi ASEAN untuk merumuskan strategi menghadapi era kecerdasan buatan. Kolaborasi lintas negara adalah fondasi utama bagi masa depan pendidikan tinggi yang adaptif dan kompetitif.”
Director of P2A Secretariat, Hang Le, menambahkan, “P2A telah berkembang menjadi platform inovasi yang mempertemukan universitas, pendidik, dan industri. Melalui inisiatif seperti ASEAN AI Council dan jaringan riset, kita membangun fondasi kuat untuk masa depan pendidikan tinggi yang lebih terintegrasi dan inklusif.”
Ms. Rodora T. Babaran, Director of Human Development Directorate ASEAN Secretariat, menyampaikan, “P2A berperan penting dalam memperkuat mobilitas dan kolaborasi akademik di ASEAN. Transformasi digital menuntut kerja sama lebih erat agar pendidikan tinggi tetap responsif dan inklusif. Forum ini menyediakan ruang strategis untuk merancang solusi kolektif.”
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia, Stella Christie menegaskan, “Kesenjangan AI masih menjadi tantangan nyata di kawasan. ASEAN tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi harus menjadi produsen inovasi. Pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam menjembatani kesenjangan tersebut melalui riset, kolaborasi, dan penguatan kapasitas institusi.”
P2A 9th AGM 2025 menjadi langkah penting dalam memperkuat kerja sama pendidikan tinggi ASEAN di era kecerdasan buatan. Dengan dukungan Kemdiktisaintek RI, P2A Secretariat, ASEAN Secretariat, serta mitra industri, forum ini memperkuat komitmen regional untuk membangun ekosistem pendidikan yang kolaboratif, inovatif, dan berdaya saing global. Penyelenggaraan di UII menegaskan peran Indonesia sebagai pendorong utama kolaborasi pendidikan tinggi di Asia Tenggara
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif






