Jakarta—Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memberikan dukungan penuh terhadap langkah strategis Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) dalam menginisiasi Kolaborasi Perguruan Tinggi untuk Revitalisasi Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH), Kamis (30/10).
Kegiatan yang melibatkan 48 perguruan tinggi dari berbagai wilayah Indonesia ini menjadi momentum penting dalam memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat sains dan inovasi kebijakan untuk keberlanjutan lingkungan.
Mendiktisaintek Ajak Kampus Turun Tangan Hadirkan Dampak Nyata
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang digagas KLH/BPLH bersama perguruan tinggi di Indonesia. Menurut Mendiktisaintek kegiatan ini merupakan perwujudan nyata dari arah kebijakan “Diktisaintek Berdampak”, yakni memastikan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berhenti di laboratorium, tetapi hadir memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
“Ini adalah penghargaan sekaligus amanah besar bagi kita semua. Perguruan tinggi adalah tempat berkumpulnya SDM unggul, dan kami ingin keunggulan itu memberi dampak. Kampus tidak boleh menjadi menara gading,” ujar Menteri Brian.
Mendiktisaintek menegaskan bahwa kolaborasi ini membuka ruang bagi perguruan tinggi untuk mendarmabaktikan keilmuan, serta mengajak mahasiswa memahami realitas lapangan dalam upaya pelestarian lingkungan. Melalui kegiatan ini, riset, pengabdian, dan kebijakan akan terhubung lebih erat dengan kebutuhan masyarakat.
Menteri Brian juga menyoroti pentingnya menjadikan kampus sebagai teladan dalam praktik pengelolaan lingkungan berkelanjutan Disiplin dalam pengelolaan sampah, energi, dan inovasi zero waste di lingkungan kampus adalah langkah nyata membentuk generasi hijau yang berintegritas.
“Ini gerakan akademisi, peneliti dan mahasiswa, dibina KLH dan Kemdiktisaintek, akan menjadi kekuatan moral yang besar. Kami mengingatkan untuk menjaga integritas, permasalahan lingkungan tidak sedikit yang berawal dari masalah integritas, mari kita menjaga integritas,” tegas Menteri Brian.
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq menilai, tantangan abad ke-21 seperti degradasi ekosistem, polusi, dan perubahan iklim hanya dapat dijawab dengan riset ilmiah yang presisi dan dapat diuji. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki peran vital dalam menjembatani ilmu pengetahuan dan pengambilan kebijakan publik.
“Kita memasuki abad ke-21 dengan tantangan lingkungan yang semakin kompleks. Jawabannya tidak bisa berupa opini, tetapi harus berbasis sains. Tanpa sains, kebijakan kehilangan arah; tanpa kebijakan, sains kehilangan manfaat,” tegas Menteri Hanif.
Menteri Lingkungan Hidup menyatakan bahwa PSLH perlu bertransformasi menjadi infrastruktur ilmu pengetahuan negara (knowledge infrastructure) yang memperkuat integrasi riset multidisiplin: ekologi, sosial, ekonomi, hukum, dan teknologi serta memastikan hasil riset kampus dapat langsung mendukung kebijakan pembangunan berkelanjutan di tingkat daerah dan nasional.
Tiga Koridor Revitalisasi PSLH
Revitalisasi PSLH diarahkan melalui tiga koridor utama:
- Penguatan Kapasitas SDM – peningkatan kompetensi dan sertifikasi ahli lingkungan di seluruh wilayah.
- Integrasi Sains dalam Kebijakan Daerah – keterlibatan PSLH dalam penyusunan RPPLH, KLHS, dan tata ruang berbasis ekoregion.
- Inovasi dan Pemantauan Lingkungan – penggunaan sensor udara dan air real-time, pemodelan spasial, serta penerapan teknologi rendah karbon dan ekonomi sirkular.
Pendekatan ini memastikan riset kampus tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga menjadi dasar pengambilan keputusan ilmiah yang berdampak nyata.
Gerakan Akademik untuk Keberlanjutan, Diktisaintek Berdampak: Ilmu Pengetahuan untuk Negeri
Kemdiktisaintek menilai kegiatan ini sebagai gerakan akademik nasional, sebuah upaya kolektif untuk menjadikan perguruan tinggi bukan hanya pusat pengetahuan, tetapi juga pusat tindakan dalam penyelesaian persoalan lingkungan. Dengan sinergi lintas sektor, kampus diharapkan menjadi motor penggerak transformasi hijau di tingkat lokal dan nasional.
Kemdiktisaintek berkomitmen memperkuat jejaring riset lingkungan, memperluas kolaborasi dengan pemda dan industri, serta membuka ruang keterlibatan mahasiswa dalam program riset dan revitalisasi lingkungan di berbagai ekoregion prioritas.
Semangat “Diktisaintek Berdampak” diwujudkan melalui ilmu pengetahuan yang berguna, teknologi yang adaptif, dan inovasi yang menghadirkan perubahan nyata bagi bumi dan manusia Indonesia.
Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif




