Kemdiktisaintek Dorong Penguatan PTS Berdaya dan Berdampak Menuju Indonesia Emas 2045

Kabar

17 December 2025 | 20.15 WIB

Kemdiktisaintek Dorong Penguatan PTS Berdaya dan Berdampak Menuju Indonesia Emas 2045

Yogyakarta – Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Togar Mangihut Simatupang menghadiri forum diskusi “Penguatan Perguruan Tinggi Swasta yang Berdaya dan Berdampak Melalui Implementasi Permendiktisaintek No. 40 Tahun 2025 Menuju Indonesia Emas 2045”, di Yogyakarta, Rabu (17/12).


Kegiatan yang digelar bersama Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABP PTSI) dan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini menjadi forum strategis untuk memperkuat pemahaman pimpinan Perguruan Tinggi Swasta (PTS).


Indonesia telah lebih dari tiga puluh tahun berada dalam kondisi negara berpendapatan menengah. Untuk keluar dari kondisi tersebut, Indonesia perlu meningkatkan produktivitas nasional secara signifikan, salah satunya melalui penguatan peran pendidikan tinggi.


“Indonesia Emas 2045 bukan sekadar jargon, melainkan undangan bagi perguruan tinggi untuk berkontribusi nyata dalam pembangunan ekonomi dan sosial bangsa. Perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri, adalah entitas yang sangat menentukan. Karena mempunyai tujuan yang sangat strategis dan filosofis, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujar Sesjen Togar.


Sesjen juga menyoroti tiga tantangan utama pendidikan tinggi nasional, yakni keterbatasan akses, mutu, dan relevansi. Saat ini, angka partisipasi kasar pendidikan tinggi di Indonesia masih berada di kisaran 32 persen, sementara jumlah perguruan tinggi dengan akreditasi unggul masih terbatas. Selain itu, lulusan perguruan tinggi masih menyumbang angka pengangguran yang signifikan setiap tahunnya.


Menurutnya, penyelesaian tantangan tersebut tidak dapat hanya mengandalkan kebijakan pemerintah, melainkan membutuhkan keberdayaan perguruan tinggi dalam melakukan transformasi internal.


“Perguruan tinggi berkontribusi sekitar 11 persen dari pengangguran nasional atau hampir 800 ribu per tahun 2024. Ini adalah tantangan bersama. Solusinya adalah keberdayaan perguruan tinggi dalam memecahkan masalahnya sendiri secara adaptif dan berdampak,” ungkap Sesjen Togar.


Dalam kesempatan yang sama, Kepala LLDikti Wilayah V, Setyabudi Indartono menekankan  bahwa tantangan yang dihadapi PTS di DIY perlu direspons secara kolaboratif melalui penguatan mutu, tata kelola, dan kebijakan afirmatif yang berkelanjutan.


“Data menunjukkan bahwa PTS di Yogyakarta menghadapi tantangan serius, mulai dari tingkat keterisian mahasiswa, mutu program studi, hingga kualifikasi dosen. Karena itu, diperlukan mitigasi kebijakan yang inklusif dan pendampingan berkelanjutan agar PTS dapat tumbuh, berdaya dan berdampak,” ujar Setyabudi.


Sementara itu, Ketua APTISI DIY, Fathul Wahid menyampaikan bahwa Yogyakarta memiliki keistimewaan sebagai kota pendidikan dan budaya, dengan konsentrasi PTS yang tinggi serta nilai-nilai kearifan lokal yang kuat. Kondisi ini menjadi modal penting dalam membangun karakter lulusan dan memperkuat daya saing PTS di tingkat nasional.


Melalui sinergi antara pemerintah, asosiasi, dan perguruan tinggi diharapkan mampu mendorong ekosistem pendidikan tinggi swasta yang berdaya dan berdampak sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak

#Kampustransformatif

#SekolahGaruda



/

5

Ulas Sekarang