Kemdiktisaintek Dorong Kolaborasi Kampus-Industri untuk Kemandirian Bidang Pertambangan dan Metalurgi

Kabar

12 May 2026 | 11.15 WIB

Kemdiktisaintek Dorong Kolaborasi Kampus-Industri untuk Kemandirian Bidang Pertambangan dan Metalurgi

Jakarta–Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto mendorong kerja sama antara perguruan tinggi, industri, akademisi, dan sektor pemerintah, agar mampu memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. Menurut Menteri Brian kolaborasi ini penting untuk mencapai kemandirian di industri pertambangan dan metalurgi Indonesia. Hal ini disampaikan ketika membuka hari kedua MetConnex 2026, Selasa (12/5).


MetConnex 2026 mengangkat tema “Strengthening Indonesia’s Metallurgy and Mining Industry: Towards Sustainable Growth and Global Competitiveness”. Forum ini mempertemukan pelaku industri pertambangan dan metalurgi, akademisi, peneliti, serta pemerintah untuk memperkuat kolaborasi dalam mendorong daya saing industri hilir Indonesia yang berkelanjutan dan berorientasi global.


“Sekarang, bagaimana cara kita membangun kemampuan nasional dari sumber daya yang sudah kita miliki. Jika pemerintah, industri, kampus, dan akademisi bekerja sama, saya percaya industri pertambangan Indonesia bisa naik ke level berikutnya dan menjadi fondasi transformasi industri nasional,” tegas Menteri Brian.


Mendiktisaintek menuturkan perlunya penguatan sektor pertambangan dan metalurgi, untuk bergerak menuju pengolahan, pemurnian, hingga manufaktur berbasis teknologi dan inovasi. Hal inilah yang oleh Mendiktisaintek disebut self-reliance atau kemandirian, yakni ketika Indonesia memiliki kemampuan, teknologi, riset, dan sumber daya manusia (SDM) yang kuat untuk memainkan peran yang lebih besar di tingkat global.


Mendiktisaintek juga menegaskan pentingnya hilirisasi industri yang bertanggung jawab dan berkelanjutan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari industri pertambangan dan metalurgi. Salah satunya dalam mendukung target net zero emission dan pembangunan industri yang menguntungkan bagi masyarakat Indonesia.


Untuk mencapai hal tersebut, penguatan peran perguruan tinggi dalam mendukung transformasi industri nasional dianggap krusial, sebagai institusi dengan posisi strategis dalam menyiapkan generasi muda yang dapat menjawab tantangan masa depan.


“Kita membutuhkan lebih banyak insinyur, peneliti, inovator, dan talenta muda yang memahami pertambangan dan metalurgi. Karena itu, perguruan tinggi menjadi sangat penting. Riset tidak boleh berhenti di publikasi. Sains dan teknologi harus menjawab tantangan nyata di dunia industri,” tegas Menteri Brian.


MetConnex 2026 diikuti oleh 98 perusahaan yang terdiri dari perusahaan pertambangan, industri pengolahan, dan berbagai mitra strategis lainnya. Sebelumnya, sekitar 250 profesional sektor pertambangan dan metalurgi telah mengikuti workshop teknis yang membahas berbagai isu industri. Sementara itu, lebih dari 500 peserta dari kalangan industri, akademisi, pemerintah, dan peneliti terdaftar untuk mengikuti rangkaian forum selama dua hari.


Melalui forum ini, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah dalam membangun ekosistem pertambangan dan metalurgi yang berbasis riset, inovasi, dan penguatan talenta nasional. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendorong terciptanya nilai tambah industri di dalam negeri sekaligus memperkuat daya saing Indonesia sebagai negara yang unggul, mandiri, dan berkelanjutan di tingkat global.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak

#Kampustransformatif 



/

5

Ulas Sekarang