Kemdiktisaintek Dorong Akselerasi Transformasi Pendidikan Tinggi Jawa Tengah Melalui Penguatan Sinergi dan Inovasi

Kabar

14 February 2026 | 05.15 WIB

Kemdiktisaintek Dorong Akselerasi Transformasi Pendidikan Tinggi Jawa Tengah Melalui Penguatan Sinergi dan Inovasi

Surakarta — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan menegaskan pentingnya penguatan sinergi antar pemangku kepentingan pendidikan tinggi dalam mendorong transformasi akademik yang adaptif, inovatif, dan berdampak nyata bagi masyarakat.


Penegasan tersebut disampaikan dalam Forum Komunikasi Pimpinan dan Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Jawa Tengah Tahun 2026 yang digelar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta pada Rabu (11/2). Forum ini menjadi ruang konsolidasi strategis yang mempertemukan 216 perguruan tinggi swasta (PTS) dan 9 perguruan tinggi negeri (PTN) se-Jawa Tengah untuk memperkuat ekosistem riset daerah secara kolaboratif.


Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menekankan bahwa arah kebijakan riset nasional kini semakin difokuskan pada pemetaan persoalan nyata di tengah masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, riset perguruan tinggi diharapkan tidak berhenti pada publikasi, melainkan mampu menghadirkan solusi yang relevan dan berdampak.


Salah satu pendekatan yang didorong adalah pengembangan program berbasis isu lingkungan melalui inisiatif Zero Waste Campus, yakni penguatan riset pengelolaan sampah berbasis kampus sebagai kontribusi konkret perguruan tinggi terhadap agenda keberlanjutan.


“Riset harus berangkat dari persoalan nyata. Kampus memiliki posisi strategis untuk mengidentifikasi masalah di sekitarnya dan mengembangkan solusi berbasis ilmu pengetahuan yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Dirjen Fauzan.


Lebih lanjut, Dirjen Risbang menyoroti praktik baik model konsorsium riset dalam program penurunan stunting di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kolaborasi lintas perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan tersebut dinilai berhasil memperkuat pendekatan berbasis data dan kebijakan. Model kolaboratif ini dinilai relevan untuk direplikasi di Jawa Tengah, termasuk dalam mendukung peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi melalui pendekatan riset yang terintegrasi.


Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Fauzan juga mengungkapkan peningkatan signifikan dalam kompetisi pendanaan riset tahun ini. Tercatat sebanyak 118.000 proposal riset dan pengabdian kepada masyarakat diajukan—meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, 60 persen judul riset yang didanai APBN 2025 berasal dari PTS.


“Angka ini menunjukkan PTS memiliki energi riset yang besar. Tugas kita memastikan energi tersebut terkelola dalam ekosistem yang terarah dan berdampak,” jelasnya.


Sebagai bagian dari transformasi kelembagaan, Kemdiktisaintek menerapkan kebijakan klasterisasi pengembangan PTS ke dalam kategori mandiri, akselerator, revitalisasi, hingga kritis. Pendekatan ini memungkinkan intervensi kebijakan yang lebih presisi, termasuk pembinaan menuju world class university bagi perguruan tinggi yang telah memiliki kesiapan kapasitas.


Penguatan hilirisasi riset dan technopreneurship juga terus didorong melalui perlindungan kekayaan intelektual, pembentukan perusahaan rintisan berbasis kampus (spin-off), serta kolaborasi dengan industri dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sejumlah praktik komersialisasi yang berhasil menghasilkan royalti riset di beberapa perguruan tinggi diharapkan dapat direplikasi secara lebih luas.


Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah VI, Aisyah Endah Palupi, menekankan bahwa pengembangan kapasitas perguruan tinggi di Jawa Tengah harus berorientasi pada relevansi dan kontribusi terhadap pembangunan daerah.


“Transformasi bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Perguruan tinggi harus adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja, sekaligus mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat Jawa Tengah,” ujarnya.


Ia menambahkan bahwa sinergi antara pimpinan perguruan tinggi dan badan penyelenggara merupakan fondasi tata kelola yang sehat dan berkelanjutan. Penyelarasan program institusi dengan Indikator Kinerja Utama (IKU) menjadi kunci agar peningkatan mutu tidak berhenti pada aspek administratif, melainkan menghasilkan kontribusi substantif.


Melalui forum ini, Kemdiktisaintek menegaskan bahwa transformasi pendidikan tinggi bukan sekadar agenda struktural, tetapi gerakan bersama untuk membangun ekosistem riset yang kuat, kolaboratif, dan berorientasi pada solusi nyata demi mendukung pembangunan nasional serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Kemdiktisaintek

#KampusBerdampak

#KampusTransformatif

/

5

Ulas Sekarang