Kampus bukan Menara Gading, Menelisik Praktik Baik dari Universitas Trunojoyo Madura

Kabar

20 February 2026 | 19.00 WIB

Kampus bukan Menara Gading, Menelisik Praktik Baik dari Universitas Trunojoyo Madura

Kampus tidak lagi boleh berdiri di menara gading. Ia harus turun ke gelanggang, membaca denyut zaman, dan menjelma menjadi simpul perubahan.

Kalimat tersebut menggema di Aula Syaikhona Muhammad Kholil, Universitas Trunojoyo Madura, Jumat (20/2), saat Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Khairul Munadi memberikan arahan strategis kepada sivitas akademika dengan tema “Transformasi Ekosistem Akademik Menuju Kampus Adaptif, Unggul, dan Berdampak”. Pertemuan ini menjadi ruang reflektif sekaligus proyeksi masa depan pendidikan tinggi Indonesia di tengah pusaran disrupsi global.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Khairul Munadi, menegaskan bahwa Indonesia tengah memasuki fase yang dinamis menuju Indonesia Emas 2045, di mana kualitas talenta menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Perguruan tinggi tidak lagi cukup berfokus pada keunggulan akademik semata, melainkan harus menjadi pusat transformasi sosial, ekonomi, dan budaya.

“Perguruan tinggi hari ini tidak hanya tempat menimba ilmu (academic excellence), tetapi juga pusat transformasi sosial (societal relevance). Kampus harus mampu menerjemahkan ilmu pengetahuan menjadi solusi konkret atas persoalan nyata masyarakat,” tegas Dirjen Dikti.

Melalui kebijakan Diktisaintek Berdampak, transformasi pendidikan tinggi diarahkan menuju model Universitas 4.0, yakni kampus yang responsif terhadap dunia digital, berorientasi pada inovasi inklusif, serta berkontribusi langsung terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Paradigma Kampus Berdampak menempatkan mahasiswa sebagai subjek pembelajaran aktif melalui challenge-based learning, capstone project lintas disiplin, serta penguatan kolaborasi multipihak berbasis quadruple helix—akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat. Riset dan inovasi didorong agar tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi bermuara pada dampak sosial, ekonomi, dan pembangunan daerah.

Dalam kerangka ini, perguruan tinggi diharapkan menjadi simpul strategis pembangunan nasional, selaras dengan agenda Indonesia Emas 2045, RPJMN, serta rencana pembangunan daerah.

Sebagai satu-satunya perguruan tinggi negeri di Pulau Madura, Universitas Trunojoyo Madura memiliki posisi strategis untuk menjadi lokomotif transformasi kawasan. Melalui pendekatan riset terapan berbasis “Kemaduraan”, UTM diarahkan untuk mengangkat potensi lokal (local pride) menjadi kekuatan ekonomi riil yang berdaya saing nasional dan global.

Pada kesempatan yang sama Rektor Universitas Trunojoyo Madura, Safi’, menegaskan komitmen UTM untuk menjadi kampus yang tidak hanya melahirkan lulusan unggul, tetapi juga solusi konkret bagi masyarakat.

Berbagai inisiatif dikembangkan, mulai dari hilirisasi riset pertanian dan kelautan, penguatan UMKM lokal, hingga pengembangan industri kreatif Madura melalui penyusunan Buku Saku Arah Industri Kreatif Madura sebagai peta jalan penguatan kearifan lokal.

“Kami bertekad menghadirkan kampus yang hidup bersama masyarakat Madura, mendengar persoalan mereka, lalu menghadirkan solusi berbasis riset dan inovasi. Inilah makna Kampus Berdampak bagi kami, ilmu yang bekerja, riset yang membumi, dan lulusan yang membawa perubahan,” ujar Rektor UTM.

Dalam paparannya, Dirjen Dikti juga menyoroti berbagai tantangan global yang menuntut respons cepat dari dunia pendidikan tinggi, Mulai dari disrupsi kecerdasan buatan, big data, bioteknologi, hingga krisis iklim dan ketidakpastian geopolitik. Perguruan tinggi dituntut menjadi pusat lahirnya solusi berbasis sains dan teknologi.

Pendekatan challenge-based learning menjadi salah satu strategi kunci. Mahasiswa diarahkan untuk menyelesaikan persoalan riil melalui proyek lintas disiplin. Dengan demikian proses belajar tidak lagi terkurung dalam ruang kelas, melainkan berkelindan langsung dengan dinamika sosial, ekonomi, dan lingkungan. Di sisi lain, riset diarahkan agar tidak berhenti di rak perpustakaan, tetapi bergerak ke hilirisasi, menjelma menjadi inovasi yang aplikatif dan bernilai tambah.

Menutup arahannya, Dirjen Dikti menegaskan bahwa transformasi Kampus Berdampak harus mampu menggerakkan pembangunan daerah dan bangsa. 

“UTM harus menjadi lokomotif transformasi pendidikan tinggi berdampak di Madura dan Indonesia, dan menjadi ruang kolaborasi untuk ekosistem akademik yang unggul, tangguh dan mandiri”, tutup Dirjen Dikti


/

5

Ulas Sekarang

Baca Juga