Surabaya-Isu krusial seputar penyelenggaraan pendidikan tinggi termasuk soal ‘Regenerasi Kepemimpinan Akademik yang Visioner’ menjadi salah satu fokus pembahasan sesi pleno Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI) 2025 yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Rabu (19/11).
Empat pakar dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Mulawarman (Unmul), Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), dan Universitas Mega Buana Palopo (UMB Palopo) hadir memberikan pandangan strategis dalam sesi tersebut.
Kepala Unit Penjaminan Mutu (UPM) Universitas Padjadjaran (Unpad), Budi Harsanto menjelaskan bahwa keterampilan pemimpin akademik adalah kunci kemajuan pendidikan tinggi. Kemampuan ini meliputi kemampuan bersosial, kapabilitas personal, dan pengetahuan seorang akademisi, seperti komunikasi, kolaborasi, pengambilan keputusan, kesabaran, pengetahuan bidang, hingga pemahaman institusi.
"Sesuai dengan pengalaman kami, kepemimpinan di Unpad menentukan produktivitas baik dari sisi riset atau karya-karya dosen peneliti yang berawal dari penataan career path bagi para dosen sebagai bagian dari SDM yang harus dikelola institusi,” ucapnya.
Menurutnya, regenerasi kepemimpinan menjadi mendesak, karena adanya dosen senior yang mendekati masa pensiun, yang berpotensi menyebabkan kehilangan tacit knowledge. Selain itu, regenerasi dibutuhkan untuk merespons perubahan cepat yang menuntut adaptasi digital dan internasionalisasi, menjamin keberlanjutan visi dan budaya akademik, serta mendorong inovasi riset dan pengabdian.
Unpad sendiri merespons tantangan ini dengan melakukan penumbuhan talenta akademik melalui mentoring dan rekrutmen, penguatan kapasitas sivitas, hingga konsolidasi tata kelola transparan yang berdampak baik pada kenaikan jumlah LK-GB, rekognisi nasional dan global, serta publikasi, reputasi, inovasi, dan employability lulusan yang menguat.
Disrupsi Paradigma, dan Tsunami Pensiun
Sesi berikutnya, Rektor Universitas Mulawarman (Unmul), Abdunnur menegaskan bahwa regenerasi kepemimpinan telah memasuki situasi mendesak yang disebabkan oleh empat hal. Pertama, tsunami pensiun, di mana puncak purna tugas guru besar dan pemimpin senior dalam 5-10 tahun ke depan bisa menciptakan jurang pengalaman yang nyata dan mengancam kontinuitas institusional.
Kedua, disrupsi digital, yang mengacu pada maraknya era AI, kompetisi world class university, dan ekspektasi link and match industri yang menuntut pemimpin adaptif dan berjiwa entrepreneur.
Ketiga, munculnya paradigma baru seperti Tridarma 4.0, yang mengubah peran rektor dan dekan dari ‘administrator’ tradisional menjadi ‘CEO Inovasi’ yang gesit dan visioner. Keempat, bonus demografi, di mana mempersiapkan pemimpin muda saat ini adalah kunci untuk kemajuan bangsa.
Rektor Unmul juga menyebutkan, regenerasi harus disengaja dan terstruktur. Pendekatan sistematis seperti identifikasi talenta, pengembangan terstruktur, pengujian lapangan, dan transisi terkelola akan membentuk siklus berkelanjutan yang memastikan institusi memiliki pipeline kepemimpinan yang siap dan teruji.
Tantangan dan Pilar Integritas
Sejalan dengan kedua pemateri sebelumnya, Zainal Arief, pembicara dari PENS Surabaya menyampaikan tantangan khusus regenerasi di lingkungan politeknik dan perguruan tinggi vokasi. Tantangan internal meliputi siklus kepemimpinan yang tidak berkesinambungan, kesenjangan kompetensi antargenerasi, tantangan manajemen talenta, dan keberlanjutan program jangka panjang.
Sementara tantangan eksternal mencakup disrupsi teknologi dan AI, perubahan kebijakan dan kompetisi global, serta karakter generasi Z dan Alpha yang digital-native.
“Seorang pemimpin itu harus bisa melihat perkembangan ke depan, tidak bisa bekerja sendiri, perlu untuk memiliki tim. Bagaimana bisa memimpin sebuah tim sekaligus menanamkan nilai dan budaya togetherness, maturity, dan willingness dalam diri sivitas akademika,” paparnya.
Menurutnya, model regenerasi yang ideal mencakup tiga cara, yakni talent identification (pemetaan dosen potensial), akselerasi kompetensi (melalui mentoring, coaching, tugas strategis, dan rotasi jabatan), serta ecosystem support yang berkaitan dengan meritokrasi, penghargaan atas inovasi, dan keseimbangan teaching–research–leadership.
Pembahasan ditutup Rektor UMB Palopo, Nilawati Uly yang menegaskan masa depan perguruan tinggi ditentukan oleh siapa yang memimpinnya, sebab program, teknologi, bangunan, dan kurikulum tidak akan berarti tanpa karakter manusia yang memimpin.
Baginya, pemimpin perguruan tinggi bukan hanya pengelola, tetapi pembentuk budaya dan pembina karakter. Menurutnya, ada lima nilai yang membawa institusinya maju, yaitu niat baik, integritas dan loyalitas, peduli kepada mahasiswa, kerja keras dengan ikhlas, kreatif (berarti melihat lebih jauh dari ruang kerja), dan rendah hati serta bersyukur (tidak lupa asal dan selalu berbagi saat berhasil).
"Pemimpin tidak dibentuk oleh teori, tetapi oleh pengalaman nyata. Prosesnya melalui ujian, bimbingan, dan latihan terus-menerus. Pemimpin bukan hanya pemegang amanah, tetapi juga pendidik, karena sejatinya tujuan kepemimpinan bukan memperpanjang jabatan, tetapi memperpanjang manfaat. Sekecil apapun usaha yang dilakukan akan menjadi mozaik besar bagi pembangunan Indonesia,” ucapnya.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif
#KPPTI2025






