ISI Padangpanjang Dorong Pemberdayaan Penyandang Disabilitas melalui Pelatihan Membatik

Kampus Kita

19 Agustus 2026 | 00.00 WIB

ISI Padangpanjang Dorong Pemberdayaan Penyandang Disabilitas melalui Pelatihan Membatik

PADANGPANJANG — Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang melalui Program Studi Kriya Seni, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), memperkuat komitmen menghadirkan pendidikan dan pemberdayaan seni yang inklusif melalui pelatihan membatik bagi kelompok disabilitas yang tergabung dalam Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kota Padangpanjang.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang didukung pendanaan melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026.

Pelatihan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan keterampilan teknis membatik, tetapi juga membuka ruang bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan kreativitas, kepercayaan diri, kemandirian, serta potensi ekonomi melalui karya seni dan produk kreatif.

Dalam pelaksanaannya, peserta memperoleh pengalaman praktik mulai dari pengenalan alat dan bahan, pembuatan desain dan motif, pemindahan motif ke kain, penggunaan canting dan malam, proses pewarnaan, hingga penyelesaian produk. Peserta juga diperkenalkan dengan teknik batik cap yang dinilai lebih efisien untuk mendukung proses produksi.

Metode pelatihan dilakukan secara partisipatif dan inklusif dengan menyesuaikan proses pembelajaran terhadap kebutuhan dan karakteristik peserta. Melalui pendampingan tim pengabdi dan instruktur, peserta diberikan ruang untuk mengeksplorasi gagasan visual dan menghasilkan karya sesuai kemampuan serta pengalaman masing-masing.

Ketua Tim Pengabdian, Mutia Budhi Utami, S.Pd., M.Sn., mengatakan kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem kreatif yang semakin inklusif.

“Kami ingin memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya. Melalui kriya dan membatik, peserta dapat mengembangkan kreativitas, keterampilan, dan bahkan membuka peluang ekonomi dari karya yang mereka hasilkan,” ujarnya.

Menurutnya, perguruan tinggi seni memiliki tanggung jawab untuk memastikan pengetahuan dan keterampilan seni dapat diakses oleh berbagai lapisan masyarakat. Karena itu, kegiatan pengabdian terus diarahkan agar keilmuan seni dapat hadir dan memberikan manfaat nyata sesuai kebutuhan masyarakat.

Kriya sebagai Ruang Kreativitas dan Pemberdayaan

Ketua Program Studi Kriya Seni ISI Padangpanjang, Hendra, S.Sn., M.Sn., mengatakan kegiatan membatik bersama kelompok disabilitas memiliki nilai penting, tidak hanya dari aspek keterampilan, tetapi juga dalam pengembangan potensi dan keberlanjutan karya.

Menurutnya, pembelajaran kriya memberikan ruang bagi setiap individu untuk mengolah gagasan, keterampilan, dan kreativitas menjadi karya yang memiliki nilai artistik sekaligus fungsional.

“Kami melihat kegiatan ini sebagai bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran dan praktik kriya yang semakin inklusif. Setiap peserta memiliki potensi dan karakter masing-masing, sehingga yang penting adalah bagaimana kita memberikan ruang, metode, dan pendampingan yang sesuai agar potensi tersebut dapat berkembang menjadi karya,” ujarnya.

Ia menambahkan, Prodi Kriya Seni tidak ingin kegiatan berhenti pada kemampuan teknis membatik. Peserta juga perlu mendapatkan penguatan dalam pengembangan desain, kualitas produk, hingga pengembangan karya menjadi produk kreatif yang memiliki nilai guna dan nilai jual.

Karya batik dapat dikembangkan menjadi kain, aksesori, cendera mata, produk fesyen, maupun berbagai produk kriya lainnya. Dengan demikian, keterampilan yang diperoleh berpotensi dikembangkan menjadi aktivitas produktif sekaligus membuka peluang ekonomi bagi peserta.

Hendra berharap kegiatan tersebut dapat dilanjutkan melalui pendampingan berkelanjutan, terutama dalam pengembangan desain, peningkatan kualitas produk, pengemasan, branding, dan pemasaran.

“Ke depan, kami berharap pendampingan tidak berhenti pada pelatihan. Ada proses lanjutan yang dapat membantu peserta mengembangkan desain, meningkatkan kualitas produk, membangun identitas atau branding, sampai membuka akses pemasaran. Dengan begitu, karya yang dihasilkan dapat memiliki peluang untuk berkembang menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Mendorong Ekosistem Seni yang Inklusif

Pelatihan membatik tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya ISI Padangpanjang dalam membangun masyarakat yang inklusif. Pemberdayaan kelompok disabilitas melalui seni dan kriya diharapkan membuka ruang partisipasi yang lebih luas dalam kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi.

Dukungan pendanaan PISN Kemdiktisaintek Tahun 2026 turut memberikan ruang bagi perguruan tinggi untuk mengimplementasikan kompetensi akademik dosen dan mahasiswa dalam konteks nyata serta menghasilkan manfaat langsung bagi masyarakat.

Program ini menunjukkan bahwa seni dan kriya tidak hanya menjadi medium ekspresi, tetapi juga dapat berperan sebagai sarana pendidikan, pemberdayaan, inklusivitas, dan penguatan ekonomi kreatif.

Kolaborasi ISI Padangpanjang dan PPDI Kota Padangpanjang diharapkan terus berkembang menjadi praktik baik dalam menciptakan ruang berkarya yang setara sekaligus memperluas kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berpartisipasi dalam ekosistem seni dan ekonomi kreatif.

DiktisaintekBerdampak

ISIPadangpanjang

Disabilitas

/

5

Ulas Sekarang