UNDIP, Senggi Kabupaten Keerom (31/8) – Aktivitas sore Mak Tri selalu dimulai dengan rutinitas harian yang padat, yakni menyusuri lahan untuk mengarit dan mengumpulkan rumput untuk pakan ternak. Kali ini, langkah peternak asal Kawasan Transmigrasi (KT) Senggi, Kabupaten Keerom, Papua tersebut didampingi oleh Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 3 Universitas Diponegoro (UNDIP). Kebersamaan di padang rumput itu menjadi pintu masuk ruang dialog hangat antara akademisi dan peternak lokal.
Dari obrolan santai seusai mengarit, terungkap satu hal yang belum pernah terbayangkan oleh Mak Tri sebelumnya, yaitu mengukur lingkar dada sapi untuk menaksir berat badan sapi secara akurat. TEP 3 UNDIP yang diketuai oleh Ir. Daud Samsudewa, S.Pt., M.Si., Ph.D., IPM, hadir memecah keterbatasan fasilitas timbangan ternak di pelosok Papua, dengan mengenalkan teknik edukatif yang sangat praktis. Cukup berbekal pita ukur meteran, para peternak kini dapat memperkirakan bobot sapi tanpa bergantung pada alat berat yang mahal.
Berdasarkan hasil observasi dan interaksi langsung selama tiga pekan di lapangan, TEP 3 UNDIP mendapati fakta bahwa peternak setempat selama ini hanya mengandalkan perkiraan visual atau insting berbasis pengalaman. Padahal, kepastian data bobot ternak memegang peranan vital, yaitu membantu pemantauan laju pertumbuhan sapi secara berkala sekaligus menjadi penentu harga jual yang ideal di pasaran.
Antusiasme tinggi ditunjukkan oleh warga lokal saat mempraktikkan metode baru ini. Pengalaman pertama menggunakan pita ukur memberikan pemahaman baru bagi peternak setempat mengenai transparansi penentuan harga. “Oh iya? Saya baru tahu kalau sapi bisa diukur pakai meteran. Biasanya kami cuma kira-kira saja bobotnya untuk patokan harga jual,” ungkap Mak Tri saat didampingi TEP 3 UNDIP di lokasi SP 2 KT Senggi.
Mak Tri mengaku kehadiran pita ukur tersebut sangat membantu peternak kecil seperti dirinya agar memiliki patokan pasti dan tidak lagi sekadar menebak-nebak harga jual sapi di pasaran. Pengetahuan sederhana ini dinilainya sangat bermanfaat untuk digunakan kembali secara mandiri di kemudian hari.
Metode terapan yang diperkenalkan tim tergolong sangat cepat dan ramah peternak. Pita ukur cukup dilingkarkan pada bagian dada sapi, tepat di belakang bahu saat posisi berdiri. Angka hasil pengukuran lingkar dada tersebut kemudian dimasukkan ke dalam rumus perhitungan khusus untuk mengestimasi bobot badan ternak, yaitu bobot badan (kg) = (lingkar dada dalam cm + 22) pangkat dua, dibagi 100. Sebagai contoh, sapi dengan lingkar dada 180 cm ditaksir memiliki bobot sekitar 408 kg.
Cara ini sudah lama dipakai peternak di berbagai daerah di Indonesia sebagai solusi praktis saat timbangan tidak tersedia dan kini coba diperkenalkan tim kepada peternak di Senggi sebagai bagian dari pendampingan awal.
Sebagai langkah awal, TEP 3 UNDIP melakukan sampling pengukuran terhadap lima ekor sapi milik empat peternak berbeda di Senggi. Hasilnya memberikan peta gambaran fisik ternak dewasa secara jelas. Sapi indukan memiliki lingkar dada di atas 190 cm, sementara sapi jantan berada pada rentang 180–200 cm. Data awal ini menjadi pijakan penting untuk memetakan kualitas dan kondisi riil ternak di wilayah tersebut.
Bagi TEP 3 UNDIP, kegiatan pengukuran ini tidak sekadar menghasilkan deretan angka di atas kertas. Setiap meteran yang dihitung menjadi media transfer pengetahuan yang berdampak langsung. Melalui interaksi ini, tim mendalami pola pemeliharaan, kendala harian, hingga kebutuhan krusial masyarakat dalam memajukan usaha peternakan mereka.
Pengukuran sederhana ini juga menjadi bagian dari proses tim dalam memahami kondisi peternakan di Senggi secara langsung. Data yang dikumpulkan selama pendampingan nantinya akan menjadi salah satu bahan dalam menyusun rekomendasi pengembangan peternakan sapi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. Edukasi pita ukur ini memberikan manfaat berkelanjutan bagi peternak seperti Mak Tri. Pengetahuan praktis tersebut dapat terus diterapkan secara mandiri meski masa penugasan tim telah usai.
Langkah inovatif TEP 3 UNDIP ini menjadi tindakan nyata mentransformasi peternakan konvensional di Papua menuju pengelolaan yang terukur, adil, dan berkelanjutan. Inisiatif ini sekaligus mendukung pencapaian SDGs, yaitu SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) lewat peningkatan ekonomi peternak, SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penguatan ketahanan pangan lokal, dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat. (Komunikasi Publik / UNDIP)





