Indonesia–Australia Perluas Kolaborasi Riset, dan Pendidikan Tinggi untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan

Kabar

10 June 2026 | 14.15 WIB

Indonesia–Australia Perluas Kolaborasi Riset, dan Pendidikan Tinggi untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan

Jakarta – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, di Kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Selasa (10/6).

Pertemuan tersebut menegaskan komitmen Indonesia dan Australia untuk memperkuat kemitraan strategis yang tidak hanya berfokus pada pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia, tetapi juga diperluas ke bidang sains, teknologi, dan inovasi, termasuk ketahanan energi, ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, hilirisasi, serta penguatan daya saing nasional.

Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyampaikan bahwa kerja sama kedua negara telah berkontribusi penting dalam pengembangan talenta Indonesia melalui berbagai program pendidikan dan beasiswa, dan ke depan diharapkan semakin terintegrasi antara pendidikan tinggi, penelitian, dan inovasi dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk memberikan dampak yang lebih nyata bagi masyarakat.

Dalam pertemuan yang juga dihadiri Chief Scientist Australia, Tony Haymet, tersebut, Australia kembali menegaskan komitmennya terhadap kerja sama pendidikan melalui program Australia Awards Scholarships yang setiap tahun menyediakan lebih dari 760 beasiswa bagi mahasiswa Indonesia, termasuk 10 beasiswa pascasarjana bagi kepala sekolah dan guru Sekolah Garuda. Kedua pihak juga membahas pengembangan desain baru Australia Awards pasca-2027 yang diarahkan untuk memperluas format beasiswa, memperkuat kemitraan kelembagaan, serta menyesuaikan program dengan prioritas strategis kedua negara.

Kedua pihak juga membahas peluang keterlibatan ilmuwan terkemuka Australia, termasuk peraih Nobel, dalam berbagai forum ilmiah dan konferensi internasional di Indonesia sebagai bagian dari upaya memperkuat jejaring akademik dan kolaborasi riset kedua negara.

Selain program beasiswa, kedua negara mendorong penguatan kemitraan antarperguruan tinggi. Selama lebih dari 15 tahun, Monash University dan University of Melbourne telah menjadi mitra penting dalam pengembangan riset kesehatan, pertukaran peneliti, penempatan riset, serta pengembangan kurikulum bersama dengan berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

“Pada dasarnya kami ingin membangun kemitraan yang lebih erat dengan universitas-universitas Australia agar mampu menghasilkan pendidikan dan penelitian berkelas dunia, sekaligus memperkuat kapasitas inovasi dan daya saing Indonesia,” kata Menteri Brian.

Pada kesempatan yang sama, Chief Scientist Australia, Tony Haymet, membahas berbagai peluang penguatan kerja sama sains, riset, dan inovasi. Diskusi mencakup penguatan infrastruktur riset, peningkatan investasi penelitian dan pengembangan (R&D), pemanfaatan hasil riset, serta penguatan kemitraan antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan pemerintah.

Australia juga berbagi pengalaman terkait reformasi ekosistem riset nasional melalui National Resilience and Science Council, agenda Ambitious Australia, serta program Future Made in Australia yang mendorong peningkatan investasi riset, penguatan inovasi, dan pengembangan industri berbasis pengetahuan. Pengalaman tersebut dinilai relevan dengan upaya Indonesia memperkuat ekosistem inovasi dan daya saing nasional.

Dalam diskusi tersebut, kedua pihak juga menyoroti pentingnya memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan berbagai mitra untuk mendorong pemanfaatan hasil penelitian yang lebih luas. Pengalaman Australia dalam meningkatkan investasi penelitian dan pengembangan (R&D), memperkuat jejaring kolaborasi, serta mendorong pemanfaatan hasil riset dinilai relevan bagi upaya Indonesia memperkuat ekosistem inovasi dan daya saing nasional.

Menteri Brian menyampaikan sejumlah prioritas pembangunan nasional yang membutuhkan dukungan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi, khususnya ketahanan energi, ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, dan hilirisasi industri. Pada sektor energi, Indonesia mendorong penguatan kemandirian energi nasional melalui pengembangan teknologi energi yang lebih efisien, aman, dan berkelanjutan, serta peningkatan pemanfaatan hasil riset dan inovasi untuk mendukung transisi energi.

Kunjungan Chief Scientist Australia ke Indonesia juga menjadi bagian dari upaya memperkuat diplomasi sains kedua negara melalui dialog kebijakan, pertukaran pengetahuan, serta penjajakan kolaborasi riset strategis yang mendukung pembangunan berkelanjutan dan peningkatan ketahanan nasional.

Melalui penguatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan komunitas ilmiah kedua negara, Indonesia dan Australia diharapkan dapat membangun ekosistem pendidikan tinggi, sains, teknologi, dan inovasi yang semakin produktif, berdaya saing, serta memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak



/

5

Ulas Sekarang