Bali-Media sosial bukan lagi sekadar galeri foto atau papan pengumuman. Di era digital ini, ia telah bertransformasi menjadi kekuatan yang mampu menggerakkan opini, tindakan masyarakat, hingga pengambilan keputusan publik.
Pandangan ini disampaikan dalam pemaparan di Indonesia Future Leaders Camp (FLC) 2025 oleh Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga kreator konten dan praktisi komunikasi publik, dalam sesi bertajuk "Public Communication in the Digital Era: Strategies to Shape Public Awareness", di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Denpasar, Rabu (26/11).
Menurutnya, jika pada masa lalu hanya tokoh masyarakat atau figur besar yang mampu mengumpulkan massa dan memengaruhi orang lain, kini situasinya telah berubah total.
"Sekarang setiap orang bisa menjadi influencer. Bahkan dengan jumlah pengikut yang sedikit, sebuah konten bisa viral hingga puluhan juta penonton algoritma media sosial memungkinkan itu,” ujarnya.
Masyarakat Indonesia menurut Imam, memiliki modal sosial yang kuat. Dikenal sebagai bangsa dengan budaya bercerita yang kental, Indonesia kini menduduki peringkat kelima di dunia sebagai negara dengan jumlah influencer terbanyak.
Imam menilai, fenomena ini sebagai peluang emas, terutama bagi generasi muda. Kekuatan pengaruh masif ini harus dimanfaatkan untuk menciptakan dampak yang positif di tengah masyarakat.
Kabar baiknya, masyarakat Indonesia dikenal sebagai bangsa dengan budaya bercerita yang kuat dan saat ini menjadi negara dengan jumlah influencer terbanyak kelima di dunia. Fenomena ini dinilai harus dimanfaatkan oleh generasi muda untuk melakukan pengaruh yang positif di tengah masyarakat.
Kemampuan Bercerita untuk Menginspirasi
Imam kemudian menuturkan bahwa kekuatan seorang pemimpin saat ini, salah satunya terletak pada kemampuan bercerita dan menginspirasi masyarakat.
“Pemimpin besar dunia selalu punya kemampuan bercerita. Storytelling membuat orang mau mendengarkan, percaya, dan bergerak,” katanya.
Di era media sosial, kemampuan menyampaikan pesan menjadi modal penting dalam membangun pengaruh.
“Anak muda sekarang punya panggungnya sendiri. Dari Instagram, TikTok, sampai podcast pun semuanya bisa jadi ruang kepemimpinan. Pertanyaannya, apakah kita menggunakan ruang itu untuk hal yang berarti?” ujarnya.
Ia membagikan kisah pribadinya membangun karier secara otodidak, menunjukkan bahwa pemimpin tidak selalu lahir dari posisi, tetapi dari konsistensi.
FLC 2025 tak hanya menghadirkan sesi inspiratif, tetapi juga berbagai kegiatan interaktif: diskusi kelompok, simulasi kepemimpinan. Selain sesi materi, peserta juga diberikan kesempatan langsung untuk menyuarakan harapan dan keresahan, yang secara terpilih akan dibahas bersama Menteri Pendidikan Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek).
FLC merupakan program baru yang dirancang khusus untuk memperkuat kepemimpinan mahasiswa di Indonesia. Dari ratusan pendaftar, terpilih 60 mahasiswa terbaik mewakili berbagai provinsi, di tiap regional.
FLC 2025 Regional V di Undiksha menjadi kegiatan inspiratif yang menghadirkan para narasumber terbaik di berbagai bidang. Para peserta diharapkan pulang tidak hanya membawa ilmu, tetapi juga jejaring, pengalaman, dan spirit kepemimpinan baru untuk menjadi calon pemimpin, dan membangun masa depan Indonesia yang lebih maju.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif






