Makassar-Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) membuka Program Indonesia Future Leaders Camp (FLC) 2025 Regional III untuk Wilayah Sulawesi, Maluku dan Maluku Utara, serta Papua. FLC dirancang untuk menyiapkan generasi pemimpin muda Indonesia yang berintegritas, adaptif, visioner, serta berdaya saing tinggi.
Sebanyak 60 peserta dari ribuan pelamar, terpilih mengikuti FLC Regional III yang merupakan ketua atau pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di tingkat universitas dan ketua atau pengurus organisasi ekstrakampus. FLC Regional III ini berlangsung di Auditorium Al-Jibra Universitas Muslim Indonesia (UMI), Rabu (12/11).
Membuka acara, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menekankan pentingnya membangun ekosistem regenerasi kepemimpinan nasional yang kuat demi mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045. Untuk mewujudkannya, tentu dibutuhkan persiapan, berupa pembangunan kapasitas para pemuda sebagai calon pemimpin.
Lebih lanjut dalam materinya yang bertujuk Policy Making 1 SKS, Wamen Stella menekankan pentingnya melakukan analisis, untuk itu para peserta diminta untuk tidak hanya pasif mendengarkan, namun ikut berpikir terkait dampak, keterlaksanaan, dan resistansi.
“Sebagai pemimpin, Anda harus bisa berdiskusi dan membuka diri terhadap perbedaan. Itu yang namanya trigger warning. Hal itulah yang akan menjadi bekal sebagai pemimpin,” tegas Wamen Stella, menantang pola pikir para peserta FLC.
Konsepsi Analisis, Modal Utama Calon Pemimpin
Wamendiktisaintek memulai paparan dengan konsepsi Perang dunia ke II dimana ada sebuah fenomena unik di bidang militer dan science, yaitu how a helmet and a bullet riddled plane perfectly demonstrate survivor bias. Dari hal tersebut Wamen Stella menekankan bahwa membuat sebuah analisis bukanlah hal yang sepele.
Melalui kisah analisis pada masa perang dunia kala itu, para ilmuwan dan militer menganalisis pesawat-pesawat yang berhasil kembali dari medan tempur untuk menentukan bagian pesawat yang perlu diperkuat. Mereka menemukan banyak lubang tembakan pada bagian sayap dan memutuskan untuk memperkuat bagian tersebut.
“Namun ternyata keputusan itu salah, pesawat yang kembali justru adalah yang mampu bertahan meski sayapnya ditembak. Sementara pesawat yang jatuh yang tidak sempat dianalisis kemungkinan besar terkena tembakan di bagian vital lain yang justru tidak diperkuat. Inilah yang disebut survivor bias, kesalahan dalam menarik kesimpulan karena hanya menganalisis yang terlihat, bukan yang hilang atau gagal,” papar Wamen Stella.
Lebih lanjut, Wamen Stella menegaskan bahwa kesalahan serupa kerap terjadi di dunia akademik maupun profesional, termasuk di kalangan mahasiswa. Banyak orang hanya melihat contoh-contoh keberhasilan tanpa memahami proses panjang dan kegagalan yang mendasarinya.
“Dalam riset, pendidikan, maupun karier, mahasiswa perlu membangun kemampuan berpikir kritis dan analitis yang mendalam. Jangan hanya melihat yang sukses dan meniru tanpa memahami mengapa yang lain gagal,” ujarnya.
Menurutnya, membiasakan diri melakukan analisis yang komprehensif akan membantu mahasiswa berpikir lebih objektif dan ilmiah dalam menghadapi permasalahan.
“Kita perlu belajar melihat keseluruhan data, termasuk yang tidak tampak. Itulah inti dari analisis yang sehat dan berpikir ilmiah,” tambahnya.
Analisis yang tepat tidaklah mudah. Analisis yang salah menghasilkan kesimpulan dan tindakan yang salah. Apabila salah mengambil analisis akan tercipta kesalahan dalam pengambilan keputusan yang akan berdampak buruk bagi orang banyak. Untuk itu menurut Wamen Stella, kemampuan analisis menjadi dasar bagi para calon pemimpin bahwa keputusan yang berdampak luas harus didasari oleh data yang komprehensif, bukan hanya pada data yang mudah terlihat (seperti lubang peluru pada pesawat yang berhasil kembali). Inilah esensi kecerdasan kepemimpinan di era modern, yaitu kemampuan menganalisis secara kritis dan holistik.
Berpikir Analisis: Impact, Feasibility, Resistance
Setelah menggugah peserta FLC Regional III dengan pentingnya berpikir kritis dan menghindari jebakan bias, Wamendiktisaintek membawa 60 calon pemimpin muda ini masuk lebih dalam ke jantung proses policy making. Wamen Stella memberikan tip dalam memaparkan kerangka berpikir praktis yang selalu ia gunakan dalam membuat analisis dan keputusan.
Pertama dalam hal mengukur impact (dampak, red) menurut Wamen Stella menekankan bahwa setiap ide, tuntutan perubahan, atau konsep, harus selalu dimulai dengan pertanyaan fundamental, antara lain apa dampaknya? Untuk siapa? Dan seberapa besar dampaknya? Tujuannya harus jelas. Ide tidak bisa dinilai hanya berdasarkan klaim subjektif.
"Jangan sampai kita punya ide atau program hanya karena kita anggap 'bagus'. Bagus itu selalu relatif. Misalnya, sebuah program yang diklaim berdampak positif terhadap mahasiswa dan dosen, harus memiliki ukuran yang jelas terhadap setiap kebijakan yang diputuskan. Tanpa ukuran yang pasti, dampak positif hanyalah sebuah harapan, bukan hasil yang terencana,” ungkap Wamen Stella.
Setelah dampak terukur, aspek kedua yang tak kalah krusial adalah Feasibility (Keterlaksanaan, red). Sebuah ide brilian tidak ada artinya jika tidak bisa dieksekusi di lapangan. Wamen Stella memberikan contoh nyata dari kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia memaparkan rencana kebijakan yang sempat muncul untuk mengurangi jumlah mahasiswa internasional, demi memberikan lebih banyak tempat kepada mahasiswa domestik.
Dengan memaparkan studi kasus ini, Wamendiktisaintek Stella mengajarkan bahwa pemimpin harus selalu menghubungkan ide dengan realitas dimana seorang pemimpin tak selalu perlu punya ide hebat, tetapi harus mampu membuat ide hebat itu terlaksana.
Aspek terakhir setelah dampak dan keterlaksanaan, adalah resistance (Resistensi, red), menurut Wamen Stella dalam pengambilan keputusan, seorang pemimpin harus bisa memprediksi dan mengelola Resistensi. Perlawanan terhadap kebijakan baru adalah hal yang pasti, dan seorang pemimpin harus mampu mengidentifikasi sumbernya. Wamen Stella menyebutkan empat sumber utama resistensi yang sering muncul dalam implementasi kebijakan baru. Kemampuan pemimpin untuk mengantisipasi dan mengelola sumber resistensi ini sangat krusial untuk keberhasilan implementasi program.
Menutup pembekalan materi kepada seluruh peserta FLC Regional III, Wamen Stella meminta agar analisis dapat dilakukan dalam keseharian. Melalui sesi materi ini Wamendiktisaintek berharap dapat memberikan dampak besar, agar para peserta sebagai calon pembuat kebijakan dan keputusan bagi bangsa ini, dapat memberikan dampak besar, sebagai calon pemimpin bangsa.
“Kalian adalah calon pemimpin bangsa, kalau sedikit saja dari materi dampak, keterlaksanaan, resistansi, kalian mampu lakukan analisa, kalian pikirkan dari setiap hal yang kalian lakukan, maka dampaknya akan sangat besar bagi bangsa ini. Selamat berjuang, selamat menganalisa dan selamat berkarya untuk kalian semua,” pungkas Wamen Stella.
Calon Pemimpin Harus Punya Mimpi Besar
FLC merupakan wadah regenerasi kepemimpinan nasional pertama dan paling bergengsi yang diadakan oleh Kemdiktisaintek. FLC bertujuan menjadi wadah penguatan kepemimpinan strategis bagi para ketua atau pengurus BEM dan ketua atau pengurus organisasi ekstra kampus di seluruh Indonesia sebagai calon-calon pemimpin bangsa dengan pendekatan experiential learning.
Sebelumnya dalam pembukaan FLC Regional I di Bandung Oktober lalu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menyampaikan harapan besarnya kepada peserta FLC yang kelak akan menjadi calon pemimpin.
"Jangan khawatir dengan latar belakang anda. Siapapun anda, anda bisa capai itu. Kuncinya satu, mimpi yang setinggi-tingginya. Tapi kemudian anda juga harus kejar terus secara tekun mimpi besar tersebut," tegas Menteri Brian.
FLC yang digelar Kemdiktisaintek secara aplikatif telah merajut esensi kepemimpinan masa depan, yaitu perpaduan antara pemahaman mendalam terhadap kebijakan publik, dan agar generasi muda tidak hanya menjadi pemimpin yang cerdas dan kritis dalam mengawal tata kelola kebijakan publik, tetapi juga calon pemimpin yang mampu mengubah gagasan menjadi solusi nyata bagi kemajuan bangsa, mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif





