FLC 2025 Sumatera: Nyalakan Strategi, Partisipasi, dan Etika Pemimpin Masa Depan

Kabar

08 November 2025 | 11.02 WIB

FLC 2025 Sumatera: Nyalakan Strategi, Partisipasi, dan Etika Pemimpin Masa Depan

Padang–Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melanjutkan rangkaian kegiatan Future Leaders Camp (FLC) 2025 Regional II Sumatera dengan fokus pada pembentukan pola pikir strategis, pemahaman kebijakan publik, dan peneguhan nilai etika dalam kepemimpinan, Jumat (7/11).

Melalui sesi-sesi tematik yang diisi oleh berbagai tokoh nasional lintas bidang, FLC hari kedua mengajak para peserta untuk melihat kepemimpinan bukan sekadar posisi, melainkan tanggung jawab moral untuk melayani dan membawa perubahan bagi masyarakat.

Sesi pertama dibuka oleh Syahganda Nainggolan, Ketua Dewan Direktur GREAT Institute, yang menekankan pentingnya pembaharuan pola pikir sebagai kunci reformasi kebijakan publik.

“Jangan membiarkan diri larut pada realitas dan menjadi pragmatis, tetapi jadilah orang yang ideologis. Ideologi adalah pandangan hidup, nilai yang membuat hidup kita lebih berguna,” ujar Syahganda.

Ia menegaskan, generasi muda harus berani berpikir kritis, mempertahankan nilai, dan tidak kehilangan idealisme di tengah dinamika sosial politik bangsa.

Dilanjutkan dengan materi “Politik, Kebijakan Publik, dan Ruang Partisipasi Generasi Muda” oleh Indah Adi Putri, yang mengingatkan pentingnya keterlibatan aktif anak muda dalam proses politik.

Indah menegaskan, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, tetapi wadah memperjuangkan nilai dan menciptakan ruang kolaboratif bagi kepentingan publik.

Tidak hanya itu, peserta juga dibekali ilmu oleh Syaifullah Muhammad terkait “Inovasi sebagai Arah Peradaban: Teknologi, Kemandirian, dan Masa Depan Bangsa.” Dengan gaya inspiratif, ia menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menciptakan perubahan.

“We are not supermen, but we can create a super team,” ujarnya

Menurut Syaifullah, kemajuan bangsa tidak lahir dari individu hebat, melainkan dari ekosistem yang saling menguatkan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai kemanusiaan.

Sesi terakhir diisi oleh Ketua SETARA Institute sekaligus Staf Khusus Menteri (SKM) Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bidang Hukum, Regulasi, dan Tata Kelola, Ismail Hasani melalui materi “Merawat Rasionalitas Hukum, Meneguhkan Etika Demokrasi: Membangun Tata Kelola yang Berkeadilan dan Partisipatif.”

“Kalau rasionalitas hukum dirawat, demokrasi akan tumbuh, dan keadilan akan bisa diwujudkan,” tegas Ismail.

Stafsus Ismail menekankan bahwa demokrasi tanpa etika akan kehilangan makna, dan etika tanpa keberanian hanya menjadi slogan. Kepemimpinan sejati adalah perpaduan antara rasionalitas hukum dan ketulusan moral.

Hari kedua ditutup dengan sesi mini project discussion yang dipandu fasilitator. Peserta bekerja dalam kelompok untuk merancang aksi sosial berbasis kampus yang

Rangkaian kegiatan FLC hari kedua menegaskan semangat Diktisaintek Berdampak bahwa pendidikan tinggi bukan hanya ruang akademik, tetapi arena pembentukan karakter, nilai, dan kemampuan adaptif untuk menghadapi tantangan zaman.

Melalui pembelajaran lintas bidang dari tokoh nasional, mahasiswa peserta FLC 2025 tidak hanya memperoleh ilmu, tetapi juga membangun kesadaran kolektif bahwa perubahan dimulai dari cara berpikir dan keberanian untuk bertindak.

Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif

/

5

Ulas Sekarang