Surakarta–Di tepi Jalan Slamet Riyadi, Kota Surakarta, berdiri sebuah gedung sederhana tanpa banyak hiasan atau kemewahan. Namun, di balik temboknya, tersimpan energi besar yang siap menggerakkan masa depan Indonesia. Gedung itu adalah rumah bagi Pusat Unggulan Iptek Teknologi Penyimpanan Energi Listrik (PUI-TPEL) Universitas Sebelas Maret (UNS), tempat di mana energi disimpan, diciptakan, dan lahir untuk negeri.
Dari Mobil Listrik Nasional ke Pusat Inovasi Energi
Lembaga ini lahir dari semangat proyek Mobil Listrik Nasional (Molina) yang digagas pemerintah lebih dari satu dekade lalu. Saat itu, UNS ditugaskan untuk berkontribusi dalam pengembangan kendaraan listrik. Di sinilah awal mula PUI-TPEL mengambil langkah penting, yakni fokus mengembangkan teknologi baterai dalam negeri.
Sejak berdiri pada 2012, PUI-TPEL menjadi pusat riset yang memadukan ilmu, teknologi, dan kolaborasi lintas bidang untuk membangun kemandirian energi Indonesia. Terdapat kesadaran bahwa masa depan energi akan sangat bergantung pada teknologi penyimpanan untuk menghidupkan berbagai inovasi yang menopang kehidupan modern.
“Kami yakin baterai akan menjadi salah satu teknologi kunci di masa mendatang,” ujar Agus Purwanto, dosen dan Guru Besar Program Studi Teknik Kimia sekaligus Kepala PUI-TPEL UNS.
Dari Laboratorium ke Hilirisasi
Di dalam laboratorium PUI-TPEL UNS, proses pengembangan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari riset dasar, pengujian performa, hingga tahap komersialisasi. Mahasiswa dan peneliti bekerja mengembangkan sistem penyimpanan energi dan aplikasinya pada berbagai kebutuhan.
Ketika sebuah teknologi terbukti andal, hasilnya tidak berhenti di laboratorium. Produk yang sudah terbukti kualitasnya kemudian dialihkan ke para mitra untuk dikembangkan lebih lanjut, agar bisa digunakan secara nyata di masyarakat. Langkah ini menjadi bentuk nyata keberhasilan PUI-TPEL UNS dalam menjembatani riset di tingkat universitas dengan dunia industri.
“Beberapa industri sudah bekerja sama dengan kami, mulai dari mitra riset dan pengembangan, juga ada startup yang tertarik dengan teknologi baterai yang kami kembangkan,” kata Agus.
Dua dari berbagai mitra industri yang digandeng PUI-TPEL UNS adalah Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Pertamina, yang terlibat dalam tahap riset dan pengembangan, serta sejumlah perusahaan swasta yang berperan dalam komersialisasi produk.
Proses pengembangan baterai dari riset, produksi, hingga hilirisasi ini mendapat dukungan kuat dari berbagai pihak. Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) disebut Agus sebagai salah satu penyokong terbesar, terutama dalam penyediaan alat dan fasilitas riset. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dari terbentuknya ekosistem baterai nasional yang mencakup riset, produksi material, hingga aplikasi di lapangan.
“Kami didukung oleh pemerintah, terutama oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Kami juga sangat berterima kasih kepada pihak-pihak penyedia dana seperti LPDP,” tutur Agus.
Mengandalkan Sumber Daya Lokal
Sebagai negara dengan cadangan mineral berlimpah, Indonesia memiliki modal besar untuk memimpin industri baterai. Karena itu, PUI-TPEL mengembangkan teknologi dengan tingkat kandungan sumber daya lokal tinggi, memanfaatkan nikel, karbon, dan sodium.
“Kami ingin membuktikan bahwa teknologi tinggi bisa lahir dari kekayaan sumber daya sendiri,” ujar Agus.
Tidak hanya fokus pada baterai litium, tim di Surakarta ini juga tengah mengeksplorasi baterai berbasis sodium dan karbon, dua jenis baterai yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia di industri global, sambil mengutamakan manfaatnya agar dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dalam negeri.
Optimisme untuk Masa Depan Energi Indonesia
PUI-TPEL UNS positif bahwa teknologi penyimpanan energi listrik akan terus berkembang dengan maksimal, terutama di Indonesia. Negara ini berpotensi besar untuk menjadi pemain utama di industri baterai dunia apabila memiliki kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) dan penyelarasan riset dengan industri.
“Setinggi apa pun teknologinya, kalau tidak ada baterai tetap tidak berfungsi. Kita sebagai bangsa besar yang punya sumber daya mineral yang sangat berlimpah tentu harus bisa berkontribusi besar di industri ini,” tegas Agus.
Keberhasilan PUI-TPEL menularkan semangat kontribusi. Agus mengajak generasi muda dan peneliti di seluruh Indonesia untuk turut bergerak dalam pengembangan energi nasional.
“Saya sangat mendukung adik-adik generasi muda untuk juga berkiprah di bidang ini. Kita punya sumber dayanya, kita terus menggiati risetnya. Mari kita bersama kembangkan teknologi ini,” pesannya.
Dengan riset yang berpijak pada kekayaan lokal dan pandangan global, lembaga ini membuktikan bahwa kemandirian teknologi nasional merupakan hasil dari kerja bersama dan keyakinan atas kemampuan bangsa sendiri.
Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif






