Tapanuli Selatan–Sejak bencana melanda Desa Hutagodang, Sumatra Utara pada akhir November 2025, pasokan listrik di wilayah tersebut kerap mengalami pemadaman. Kondisi ini tidak hanya menghambat aktivitas sehari-hari masyarakat, tetapi juga mempersulit proses pemulihan ekonomi dan sosial warga yang masih berupaya bangkit dari dampak bencana. Di tengah keterbatasan tersebut, akses energi menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas produktif, mulai dari kegiatan rumah tangga, pendidikan anak, hingga usaha kecil yang menjadi sumber penghidupan warga.
Menjawab tantangan tersebut, program Mahasiswa Berdampak menghadirkan solusi energi berkelanjutan bagi masyarakat melalui optimalisasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal skala rumah tangga, Kamis (5/3). Pemanfaatan energi surya ini diharapkan mampu menjadi sumber listrik alternatif yang lebih stabil sekaligus ramah lingkungan bagi masyarakat Desa Hutagodang.
Inisiatif ini dilaksanakan oleh tim Mahasiswa Berdampak Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UM Tapsel) sebagai bagian dari upaya pemulihan masyarakat pascabencana yang tidak hanya berhenti pada fase tanggap darurat, tetapi berlanjut hingga tahap pemulihan dan pemberdayaan masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya membantu mengatasi persoalan kebutuhan dasar energi, tetapi juga mendorong kemandirian masyarakat dalam memanfaatkan teknologi energi terbarukan di tingkat rumah tangga.
“Setelah bencana, fasilitas umum di desa ini lumpuh total, termasuk penerangan. Akhirnya kami membangun PLTS di satu pusat yang mengalirkan listrik ke fasilitas umum di desa agar semua bisa merasakan cahayanya,” jelas Imelda Sari Harahap, Ketua Tim Pelaksana Mahasiswa Berdampak UM Tapsel sekaligus dosen Agroteknologi UM Tapsel.
PLTS yang dibuat oleh tim Mahasiswa Berdampak merupakan sebuah sistem portabel dan modular yang terdiri atas 5 modul panel surya dengan daya puncak kurang lebih 590 Wp per modul, Solar Charge Controller (SCC), baterai penyimpan energi lithium berkapasitas energi 5 kWh, inverter AC-DC berkapasitas 3.000 W, unit boks portabel dan sistem proteksi, serta jaringan distribusi listrik sederhana.
Empat titik fasilitas umum yang mendapat penerangan meliputi balai desa, sekolah, posko, serta gang utama yang sering dilalui masyarakat. Selain instalasi PLTS, tim mahasiswa juga melaksanakan kegiatan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai manfaat, pengelolaan, dan keberlanjutan teknologi energi surya. Sebagai bagian dari upaya pemberdayaan, mahasiswa juga menyelenggarakan workshop yang memperkenalkan potensi PLTS sebagai peluang usaha berbasis energi terbarukan di tingkat desa. Kegiatan ini melibatkan kelompok pemuda Naposo Nauli Bulung (NNB) dan ibu-ibu PKK yang juga dilibatkan dalam pemantauan dan pemeliharaan perangkat PLTS.
Program ini juga menghasilkan usulan dokumen pengembangan energi desa yang sedang melalui proses pengajuan untuk dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) sehingga keberlanjutan program dapat didukung secara kelembagaan.
Kepala Desa Hutagodang, Adamal Tampubolon menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa yang membantu masyarakat bangkit setelah bencana.
“Pembangunan PLTS ini sangat bermanfaat, apalagi saat terjadi pemadaman listrik ketika hujan dan angin. Sekarang ada penerangan di area yang sering digunakan masyarakat. Atas nama warga Desa Hutagodang, saya mengucapkan terima kasih karena program ini telah meningkatkan semangat masyarakat untuk bangkit kembali,” ujar Adamal.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mendorong kolaborasi antara mahasiswa, dosen, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk menghadirkan inovasi teknologi tepat guna yang mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat sekaligus mempercepat proses pemulihan dan pemberdayaan masyarakat dari dampak yang dirasakan pascabencana.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Kemdiktisaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif





