Dosen UTU Ajak Warga Aceh Barat Kelola Sampah Hingga menjadi Desa Pariwisata

Kabar

23 December 2025 | 19.30 WIB

Dosen UTU Ajak Warga Aceh Barat Kelola Sampah Hingga menjadi Desa Pariwisata

Aceh Barat–Di bibir Samudra Hindia, terdapat sebuah desa yang perlahan transformasi menjadi desa wisata. Desa itu bernama Peunaga Pasi. Terletak di Kecamatan Meureubo, desa kecil di pesisir Aceh Barat ini yang dengan pesona lewat deburan ombaknya, perlahan berubah menjadi desa wisata mandiri berkat kolaborasi teknologi dan pengabdian tulus seorang akademisi.


Herri Darsan, seorang dosen Teknik Mesin dari Universitas Teuku Umar (UTU), hadir membawa perubahan melalui program hibah Bina Desa. Berkolaborasi dengan Universitas Syiah Kuala, dengan anggota tim Afrizal Tjoetra, Fiandy Mauliansyah, dan Masrizal, Herri dan tim berfokus pada dua hal, yaitu pengelolaan sampah berbasis teknologi dan penguatan tata kelola pariwisata desa.


Masalah klasik di daerah wisata pesisir adalah tumpukan sampah plastik dan organik. Dulu, warga Desa Peunaga Pasi terbiasa hanya membakar sampah mereka. Namun, melalui teknologi pencacah sampah plastik dan ranting mulai mengubah kebiasaan tersebut.


“Pantai-pantai di pesisir itu banyak sampah, kami olah dengan mesin pencacah. Untuk Sampah organik dicacah dan dibuat menjadi pupuk kompos,” jelas Herri.


Pengabdian Herri dan Tim UTU terasa oleh warga Peunaga Pasi. Sekretaris Desa Peunaga Pasi, Muhammad Nasir menjelaskan banyak perubahan positif dari masyarakat.


"Setelah dibimbing UTU, masyarakat kami sekarang sudah tahu cara memisahkan sampah organik dan non-organik," ujar Nasir.


Nasir juga menambahkan bahwa sampah organik kini tak lagi dibakar, tetapi diolah menggunakan mesin pencacah menjadi pupuk kompos yang bernilai ekonomis bagi warga.


Senada dengan Nasir, Kepala Desa Peunaga Pasi, Anwar Dewa mengakui bahwa kehadiran Herri dan tim UTU membuka pemikiran warganya tentang pengelolaan sampah.


"Pengaruhnya besar sekali. Dengan mesin pencacah ini, kami bisa mengelola sampah menjadi kompos,masyarakat sudah dapat keuntungan dari pupuk tersebut,” tuturnya.


Desa Mandiri Pariwisata 


Selain masalah lingkungan, Herri Darsan juga melakukan pengabdian pada aspek manajemen wisata melalui Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) setempat.


“Melalui Hibah Bina Desa, Universitas Teuku Umar dan Universitas Syiah Kuala berkolaborasi dengan dua mitra, yaitu BUMD dan Pokdarwis kita fokus pada pengelolaan wisata,” ujar Herri.


Meskipun tantangan di awal tidaklah mudah, Herri dan tim harus memberikan edukasi untuk menghapus stigma negatif masyarakat terhadap objek wisata.


Tim pengabdian membantu mengembangkan sistem keuangan online, SOP, hingga aplikasi buku kas digital untuk menjaga transparansi pendapatan desa.


Website ini memudahkan para wisatawan untuk memilih menu wisata yang diinginkan. Ada beberapa paket wisata yang disediakan. Selain itu BUMD memerlukan transparansi, jadi kami buat aplikasi buku kas yang bisa diakses masyarakat dan pihak pengelola,” jelas Herri.


Untuk memudahkan serta memperluas pemasaran, Herri dan tim juga melakukan digitalisasi. Tentu hal ini mendapat respon positif dari masyarakat setempat.


"Sekarang tiket kami sudah model online melalui handphone, dan pengenalan lewat media sosial pun terus dikembangkan," jelas Muhammad Nasir dengan bangga.


Hadirkan Alat Deteksi Banjir dan Tsunami 


Dedikasinya untuk mengabdi kepada masyarakat bukan hanya pada permasalahan lingkungan dan pengembangan desa, namun sejak tahun 2024 melalui kolaborasi KosaBangsa dengan Universitas Gadjah Mada (UGM)  di Kepulauan Simeulue, Herri turut merancang sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) untuk banjir dan tsunami.


Alat EWS ini dirancang mampu mendeteksi ketinggian gelombang secara real-time dan membunyikan alarm khas kearifan lokal "Smong" saat bahaya mengancam.


"Kita tidak mau mengulang tsunami dan banjir. Ketika masyarakat sadar terhadap kebencanaan, itu meminimalisir jumlah korban. Itu yang menjadi fokus saya," ungkap Herri.


Bagi Herri, pengabdian bukan sekadar menjalankan tugas profesi, melainkan bentuk keikhlasan untuk membantu sesama.


“Pengabdian ini memang capek, tapi kita akan mendapatkan kesenangan saat orang yang kita bantu ini tersenyum dan menyampaikan terima kasih," pungkasnya.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak

#Kampustransformatif


/

5

Ulas Sekarang

Baca Juga