Bandung—Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) mendorong penguatan ekosistem riset dan inovasi di bidang energi bersih melalui pengembangan Electrolyzer Condition Based Maintenance System (eCBMS) untuk Green Hydrogen Plant di Indonesia.
Upaya tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Electrolyzer Condition Based Maintenance System (eCBMS) for Green Hydrogen Plants in Indonesia” (29/9) yang mempertemukan unsur pemerintah, industri, akademisi, operator, serta mitra internasional. Kegiatan ini menjadi bagian dari feasibility study mengenai implementasi eCBMS pada Green Hydrogen Plant di Indonesia.
FGD tersebut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, antara lain Kemdiktisaintek, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PT PLN, Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta mitra dari Jepang dan sektor industri. Kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi bagian penting dalam mengidentifikasi kebutuhan kebijakan, tantangan operasional, kebutuhan pemeliharaan, ketersediaan data, serta kondisi implementasi eCBMS di Indonesia.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi dalam membangun ekosistem riset yang mampu menjawab kebutuhan strategis nasional, termasuk dalam pengembangan teknologi hidrogen.
Menurutnya, pengembangan teknologi hidrogen tidak hanya perlu diarahkan pada aspek teknologi hulu, tetapi juga pada proses scale-up, implementasi, dan pengembangan teknologi pendukung di sisi hilir. Salah satunya melalui penerapan sistem pemeliharaan berbasis kondisi pada elektrolizer yang saat ini memasuki tahap pre-feasibility study (pre-FS).
“Kami sangat mendukung yang akan dilakukan hari ini untuk mendukung terbentuknya pre-FS khususnya eCBMS dengan aplikasi nanti di Indonesia,” ujarnya.
Memperkuat Kolaborasi Indonesia–Jepang
Kolaborasi internasional juga menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi hidrogen di Indonesia. Melalui kerja sama dengan mitra Jepang, termasuk NEDO, pemerintah mendorong penguatan kapasitas riset, pengembangan teknologi, serta pemanfaatan keunggulan masing-masing negara.
Dirjen Fauzan menyampaikan bahwa Indonesia dan Jepang memiliki kekuatan yang saling melengkapi dalam pengembangan teknologi dan ekosistem inovasi. Kolaborasi antara perusahaan Jepang, perusahaan Indonesia, perguruan tinggi, dan pemerintah diharapkan dapat memperkuat regional energy leadership sekaligus mendukung pengembangan teknologi hidrogen dan energy storage.
Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai penghubung antara kebutuhan industri, pengembangan teknologi, dan kolaborasi internasional. Pendekatan Hub and Spoke serta berbagai skema kemitraan riset internasional yang dikembangkan Kemdiktisaintek diarahkan untuk meningkatkan pemanfaatan hasil riset agar memberikan dampak yang lebih besar bagi industri dan masyarakat di kedua negara.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi




